• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Selasa, 6 Oktober 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

BRIN Ungkap Ribuan Jenis Bahan Pangan Lokal

Editor
Minggu, 09 Agustus 2026 - 07:53
sumber bahan pangan jagung.(Image: Pixabay)

Jagung.(Image: Pixabay)

SATUJABAR, JAKARTA – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Wawan Sujarwo mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki ribuan jenis pangan lokal dengan sedikitnya 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan. Dari ribuan spesies itu, lebih dari 77 diantaranya merupakan sumber karbohidrat lokal, disertai ratusan jenis umbi-umbian, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, serta tanaman pangan tradisional yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat selama ratusan hingga ribuan tahun.

Menurut Wawan, sebagian besar potensi tersebut masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, diversifikasi pangan tidak hanya memperluas pilihan konsumsi masyarakat, tetapi juga meningkatkan ketahanan sistem pangan terhadap perubahan iklim, gangguan pasokan, maupun gejolak pasar.

RelatedPosts

BRIN Wujudkan Laboratorium Alam Terbentuknya Pulau Jawa

Ekosistem Ekonomi Syariah Topang Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan

Rumah dan Parkiran Terminal di Bogor Jadi Penampungan Puluhan Sepeda Motor Curian

“Pengembangan pangan lokal sesungguhnya merupakan strategi ekologis, ekonomis, sekaligus sosial. Pangan lokal mampu memperkuat ekonomi masyarakat, melestarikan pengetahuan tradisional, mengurangi jejak karbon akibat distribusi pangan yang panjang, serta menjaga keberagaman genetik tanaman yang sangat penting untuk adaptasi di masa depan. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya dalam Jamming Session #10 bertema “Pangan Lokal: Resolusi Ketahanan Pangan Berkeadilan dan Berkelanjutan”. Pada Kamis (6/08) secara daring seperti dikabarkan Humas BRIN.

Lebih jauh, Wawan menyebutkan bahwa ketahanan pangan nasional masih menjadi tantangan yang memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh. Di tengah upaya meningkatkan produksi pangan, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang lahir dari pengetahuan ekologi lokal dan tradisi masyarakat, namun potensinya belum dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung sistem pangan nasional.

Selama ini, lanjut Wawan, ketahanan pangan kerap dipandang semata-mata sebagai persoalan peningkatan produksi. Padahal, dari perspektif ekologi, ketahanan pangan sesungguhnya berakar pada ketahanan ekosistem. “Tidak ada pangan tanpa tanah yang sehat, tidak ada pertanian tanpa air yang tersedia, tidak ada penyerbukan tanpa keanekaragaman hayati, dan tidak ada hasil panen yang stabil tanpa iklim yang mendukung. Dengan kata lain, fungsi ekologi merupakan pondasi utama seluruh sistem pangan,” ujarnya.

Di sisi lain, Wawan menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dan pengetahuan ekologi tradisional yang menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Menurutnya, pengembangan pangan lokal perlu didukung oleh data ilmiah, hasil kajian etnobotani, serta pengetahuan masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Wawan mengungkapkan bahwa berbagai data ilmiah menunjukkan eratnya hubungan antara kondisi ekosistem dengan keberlanjutan produksi pangan. Mengacu pada data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), lebih dari 95 persen produksi pangan dunia bergantung pada tanah yang sehat. Namun, sekitar sepertiga lahan pertanian global telah mengalami degradasi akibat erosi, penurunan kesuburan tanah, dan praktik pemanfaatan lahan yang tidak berkelanjutan.

Selain itu, sekitar 75 persen tanaman pangan dunia bergantung, baik seluruhnya maupun sebagian, pada jasa penyerbukan oleh serangga dan satwa liar. Menurutnya, penurunan populasi penyerbuk akibat hilangnya habitat menjadi ancaman nyata bagi produktivitas pertanian.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki modal ekologis yang sangat besar untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Kekayaan plasma nutfah, keragaman ekosistem, serta ribuan spesies pangan lokal merupakan aset strategis yang tidak dimiliki banyak negara.

Menjawab tanggapan bahwa konservasi dapat mengurangi produksi pangan, Wawan menjelaskan bahwa berbagai hasil penelitian justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Ekosistem yang sehat mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Tanah yang kaya bahan organik mampu menyimpan air dan unsur hara lebih baik, hutan yang terjaga membantu menjaga siklus hidrologi sehingga mengurangi risiko kekeringan, sementara keanekaragaman hayati menyediakan musuh alami hama sehingga dapat menekan ketergantungan terhadap pestisida.

Ia menambahkan bahwa pendekatan agroekologi, agroforestri, pengelolaan bentang alam terpadu, serta pertanian regeneratif telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas lingkungan.

“Ketahanan pangan dan konservasi bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua sisi pembangunan berkelanjutan yang saling menguatkan. Kita perlu bergeser dari paradigma produksi maksimum menuju produktivitas yang berkelanjutan, yaitu sistem pangan yang tidak hanya menghasilkan panen hari ini, tetapi juga tetap produktif bagi generasi mendatang,” jelasnya.

Menutup sambutannya, Wawan mengajak seluruh peserta menjadikan forum tersebut sebagai wadah lahirnya kolaborasi baru melalui pertukaran gagasan, integrasi data, pengembangan inovasi, serta penyusunan agenda riset bersama guna mendukung pengelolaan wilayah Indonesia yang adaptif, tangguh, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini juga menghadirkan dua narasumber dari luar BRIN yang berbagi pengalaman dan perspektif mengenai pengembangan pangan lokal di Indonesia. Narasumber pertama, Ir. Haryanti Koostanto, Praktisi Pengembangan Masyarakat dan Ketahanan Pangan, menyampaikan paparan berjudul “Refleksi atas Kebijakan dan Praktik Pangan Nasional: Tantangan dan Peluang Pangan Lokal dalam Sistem Pangan yang Berkeadilan”. Dalam paparannya, Haryanti mengulas secara kritis sekaligus konstruktif berbagai kebijakan dan praktik pangan nasional, serta menyoroti tantangan dan peluang pengembangan pangan lokal agar memperoleh ruang yang lebih setara dalam mewujudkan sistem pangan yang adil dan berkelanjutan.

Selanjutnya, Britania Sari, Pegiat Ketahanan Pangan Mandiri sekaligus Pendiri Kebun Atqiya, memaparkan materi berjudul “Praktik Baik, Inovasi Sosial, dan Pemberdayaan Masyarakat dari Akar Rumput sebagai Alternatif Ketahanan Pangan Berkelanjutan”. Melalui paparannya, Britania berbagi praktik baik dan pengalaman nyata dalam memberdayakan masyarakat melalui pemanfaatan pangan lokal, mulai dari optimalisasi pekarangan rumah hingga penguatan program Posyandu sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan di tingkat komunitas.

Semoga diskusi hari ini menghasilkan gagasan-gagasan baru yang dapat diimplementasikan. Ketahanan pangan bukan hanya persoalan menghasilkan lebih banyak pangan, tetapi bagaimana memastikan ekosistem tetap mampu memproduksi pangan secara adil, adaptif, dan berkelanjutan. Dengan kata lain, ketahanan pangan adalah cerminan dari ketahanan ekologi.

Tags: pangan lokal

Related Posts

Koleksi geodiversitas di Karangsambung Kebumen Jawa Tengah.(Image: BRIN)

BRIN Wujudkan Laboratorium Alam Terbentuknya Pulau Jawa

Editor
5 Oktober 2026

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memaksimalkan pemanfaatan lebih dari 33.000 spesimen geodiversitas di Kawasan Karangsambung, Kebumen,...

Seminar Nasional bertajuk “Membangun Masa Depan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan", di Jakarta, Senin (5/10).(Foto: Dok. Bank Indonesia)

Ekosistem Ekonomi Syariah Topang Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan

Editor
5 Oktober 2026

JAKARTA - Ekonomi syariah bukan sekadar soal label. Bukan hanya soal bank syariah, bukan hanya soal sertifikasi halal, dan bukan...

Ilustrasi aksi pencurian sepeda motor.(Foto:Istimewa).

Rumah dan Parkiran Terminal di Bogor Jadi Penampungan Puluhan Sepeda Motor Curian

Editor
5 Oktober 2026

SATUJABAR, BOGOR--Sebuah rumah di kawasan perumahan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, digerebek polisi setelah diketahui menjadj tempat penampungan sepeda motor...

Ilustrasi Pekerja Migran Indonesia (PMI).(Foto:Istimewa).

35 Tahun Tanpa Kabar, Pekerja Migran Asal Cirebon Ditemukan di Arab Saudi

Editor
5 Oktober 2026

SATUJABAR, CIREBON--Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, ditemukan di Arab Saudi setelah 35 tahun hilang tanpa...

Video pesta narkoba diduga warga binaan di Rutan Kelas I Depok, yang beredar luas di media sosial.(Foto: Istimewa/tangkapan layar Instagram).

Kanwil Ditjenpas Jabar: Pesta Narkoba di Rutan Depok Benar, Ditindak Tegas!

Editor
5 Oktober 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Barat, Yudi Suseno, membenarkan, video viral di media sosial, memperlihatkan...

Ilustrasi pelaku kejahatan.(Foto:Istimewa).

Densus 88 Tangkap 11 Tersangka Teroris di 6 Provinsi, Termasuk di Jawa Barat

Editor
5 Oktober 2026

SATUJABAR, JAKARTA--Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap sebelas tersangka terkait terorisme dalam penegakan hukum serentak di enam provinsi. Dari...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.