JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memaksimalkan pemanfaatan lebih dari 33.000 spesimen geodiversitas di Kawasan Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Puluhan ribu koleksi batuan ini tidak hanya disimpan, tetapi difungsikan layaknya laboratorium alam yang merekam proses geologi, pergerakan tektonik purba, hingga menjadi landasan mitigasi bencana di Nusantara.
Dikutip dari laman BRIN, PIC Fungsi Layanan Koleksi Ilmiah, KKI Geodiversitas Sukendar Asikin – Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, Kristiawan Widiyanto, memaparkan batuan yang tersingkap di kawasan Karangsambung merupakan arsip esensial yang patut dikaji secara mendalam untuk memahami evolusi bumi. “Jika sejarah manusia ditulis dalam buku, maka sejarah bumi di Karangsambung ditulis dalam batuan,” ungkap Kristiawan, dalam Webinar Koleksi Ilmiah, Senin (5/10).
Proses penelitian batuan di BRIN dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengamatan megaskopis untuk melihat bentuk fisik secara langsung, hingga analisis geokimia dan mikroskopis di laboratorium. Tujuannya adalah untuk mengungkap rekam jejak lingkungan di masa lalu.
“Kita bisa melihat yang sebenarnya bukan hanya sekadar batu, tetapi kita sedang membaca rekaman perjalanan bumi yang ada di kawasan Karangsambung ini,” tambahnya.
Kristiawan memaparkan gaya-gaya dari dalam bumi memberikan tekanan kuat pada batuan sedimen yang awalnya terbentuk secara berlapis horizontal. Rekaman gaya endogen yang mematahkan batuan merupakan hal krusial untuk dipelajari dalam skenario mitigasi bencana. Analisis terhadap lapisan yang terpotong membantu peneliti memetakan titik-titik rawan.
“Inilah yang biasa dilihat oleh teman-teman yang bergerak di bidang kebencanaan. Hal itu akan membantu melihat bahwa ini adalah zona-zona patahan, zona-zona yang bergerak, atau yang biasa kita rasakan salah satunya adalah peristiwa gempa bumi,” paparnya.
Ia menyatakan di dalam batuan-batuan tersebut tersimpan sumber daya yang besar. Oleh karena itu, analisis koleksi geodiversitas ini juga ditujukan untuk memetakan potensi pembangunan wilayah.
“Di dalam batuan-batuan tersebut terdapat mineral, bahan galian yang dapat dikembangkan sebagai industri, konstruksi, ataupun benda-benda berteknologi tinggi,” jelasnya.
Sebagai pusat evolusi geologi Indonesia, Karangsambung merekam awal mula terbentuknya Pulau Jawa dari zona subduksi benua. Kawasan ini menyimpan spesimen pembuktian seperti fosil Radiolaria pada batu rijang laut dalam, Sekis Mika yang merupakan batuan tertua berumur 117-125 juta tahun, hingga batuan beku intrusi diabas dan lava bantal (pillow lava).
Berkat kekayaan geologisnya, kawasan yang telah dijadikan kampus lapangan ilmu kebumian sejak 1964 ini terus didorong status konservasinya. Mulai dari penetapan sebagai Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong pada 2018, hingga disidangkan oleh UNESCO pada 2024 dan telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark.
Ke depannya, BRIN berkomitmen memastikan seluruh koleksi ini membawa dampak positif bagi publik. “Saya berharap, koleksi geologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber data untuk penelitian serta media pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat,” tutup Kristiawan.







