• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Senin, 27 April 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Suhu Permukaan Jakarta Naik Tajam

Editor
Rabu, 05 Juni 2024 - 11:20
Kendaraan tinggalkan Jakarta H-7 Lebaran 2024 capai 43.360 unit, menurut data yang dilansir PT Jasamarga Transjawa Tol.

Kendaraan tinggalkan Jakarta H-7 Lebaran 2024 capai 43.360 unit, menurut data yang dilansir PT Jasamarga Transjawa Tol. (FOTO: Humas Jasa Marga)

BANDUNG – Suhu permukaan Jakarta naik tajam hingga 1,6 derajat Celsius dalam 130 tahun terakhir, menurut Praktisi Cuaca dan Iklim Ekstrem BMKG Siswanto dikutip dari situs Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Siswanto mengungkapkan, suhu permukaan Jakarta itu ebih kuat dibandingkan laju kenaikan suhu global dan regional.

RelatedPosts

Presiden Lantik KSP, Bakom, dan Kepala Badan Karantina Indonesia

Presiden Prabowo Tunjuk Lantik Hanif Faisol Nurofiq, Mohammad Jumhur Hidayat, dan Hasan Nasbi

Puluhan Siswa SMP di Indramayu Diduga Jadi Korban Pelecehan Oknum Guru

Menurut Siswanto, secara umum, iklim Jakarta telah berubah signifikan seiring dengan pertumbuhan kota.

Hal ini berindikasi terhadap peningkatan suhu permukaan sebesar satu derajat celsius yang dapat meningkatkan ekstremitas hujan sebesar 14 persen.

Dampaknya, curah hujan Jakarta kategori ekstrem menunjukkan tren peningkatan signifikan dengan sifat curah hujan yang mengalami perubahan.

“Semakin deras, durasinya lebih pendek. Peningkatan curah hujan pagi hari dan pergeseran hujan siang ke malam hari, serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan pada musim hujan,” kata Siswanto, dalam webinar PRIMA’s Talk bertajuk “Urban climate of Jakarta city: from the last 130 years to the end of 21st century”.

Dia menjelaskan, iklim urban didefinisikan sebagai keadaan iklim yang sangat berbeda dengan wilayah rural sekitarnya, yang disebabkan iklim karakteristiknya berbeda antara kota dengan rural. Ini disebabkan adanya perkembangan perkotaan.

Pemicu

Salah satu pemicu karakteristiknya adalah urbanisasi, perubahan lanskap, serta penggunaan semua properti di dalam perkotaan seperti energi, tata kelola air, dan tata kelola lahan.

Siswanto menerangkan, berdasarkan hasil pencitraan satelit Landsat untuk Jakarta pada 1972, kawasan terbangun di Jakarta masih terbatas, vegetasi lebih dominan.

Demikian juga pada 1982, vegetasi masih terlihat dominan hijau. Suhu belum banyak berubah dengan rata-rata 28 derajat Celsius, meskipun suhu maksimumnya bertambah rata-ratanya dari 31,7 derajat celsius menjadi 32,2 derajat celsius.

Untuk suhu minimumnya pun masih tidak terlalu jauh perubahannya, yaitu dari 24,3 derajat celsius menjadi 24,7 derajat celcius.

Lima belas tahun kemudian, pada 1997, terlihat warna merah atau kawasan hunian sangat ekspansif.

Diikuti perubahan suhu udara dari rata-rata menjadi 28,4 derajat celsius naik sekitar 0,4 derajat celsius. Dengan suhu maksimum yang tidak banyak perubahan dan suhu minimum malam hari 25 derajat celsius.

Pada 2005, perkembangan kawasan hunian Jakarta semakin ekspansif hingga 2014. Terlihat kawasan hunian semakin padat di mana-mana hingga keluar batas Jakarta.

“Perubahan lingkungan kompatibel dengan perubahan iklim atau perubahan suhu, dalam hal ini yang terjadi di Jakarta,” kata Siswanto.

Siswanto memberikan gambaran pemahaman tentang lingkungan perkotaan. Lingkungan ini banyak didominasi oleh bangunan baik perumahan maupun komersial dengan kepadatan tinggi, permukaan yang beraspal, dan faktor lainnya yang menciptakan lanskap unik tersendiri.

Perkembangan wilayah

Dirinya merinci Jakarta dari waktu ke waktu terus berubah. Di kisaran 1675-1725 terlihat pemukiman Jakarta belum padat serta masih nampak gunung-gunung.

Setelah VOC masuk sekitar tahun 1755-1785, Jakarta mulai berkembang, gunung-gunung sudah mulai tidak kentara. Tahun 2018, gunung-gunung atau perbukitan yang tadinya terlihat itu sudah menghilang.

“Kita akan terus mengalami perubahan itu, tetapi yang pasti perubahan lanskap dan lingkungan akan menghasilkan konsekuensi, salah satunya konsekuensi terhadap iklim,” tegas Siswanto.

Mengacu Laporan IPCC 2013 (AR5), kata Siswanto, aktivitas manusia sangat mungkin menjadi penyebab meningkatnya setengah rata-rata suhu permukaan global yang telah diamati dari 1951 hingga 2010.

Peningkatan ini memberi dampak langsung terhadap pemanasan global, di mana peningkatan kapasitas atmosfer menahan air sekitar tujuh persen per satu derajat celsius dari tiap pemanasan, yang menyebabkan peningkatan kandungan uap air di atmosfer.

“Sehingga hal ini mempengaruhi siklus hidrologi, khususnya karakteristik curah hujan, mulai dari jumlah, frekuensi, intensitas, durasi, jenis dan kejadian ekstrem,” urainya.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Albertus Sulaiman mengatakan, perubahan tersebut memerlukan penanganan serius terutama para peneliti yang mumpuni dalam sains iklim dan atmosfer.

“Masalah di dunia kita sekarang ini terkait dengan Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya tentang kehidupan lebih baik dan berkelanjutan. Sains atau ilmu berperan untuk menyelesaikan masalah, terutama terkait dengan iklim urban perkotaan,” tandasnya.

Tags: BRINjakartasuhuSuhu permukaan Jakarta

Related Posts

(Foto: Setneg)

Presiden Lantik KSP, Bakom, dan Kepala Badan Karantina Indonesia

Editor
27 April 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto melantik Kepala Staf Kepresidenan, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, dan Kepala Badan Karantina Indonesia di...

(Foto: Setneg)

Presiden Prabowo Tunjuk Lantik Hanif Faisol Nurofiq, Mohammad Jumhur Hidayat, dan Hasan Nasbi

Editor
27 April 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Hanif Faisol Nurofiq sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Mohammad...

Ilustrasi korban pelecehan.(Foto:Istimewa).

Puluhan Siswa SMP di Indramayu Diduga Jadi Korban Pelecehan Oknum Guru

Editor
27 April 2026

SATUJABAR, INDRAMAYU--Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh perilaku bejat oknum guru. Puluhan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Indramayu, Jawa...

Nenek korban perampasan di Kecamatan Lembursiti, Kota Sukabumi. Dompet berisi uang Rp.3,8 juta dibawa kabur pelaku.(Foto:Istimewa).

Dompet Nenek di Sukabumi Dirampas Saat Jaga Warung, Uang Rp.3,8 Juta Amblas

Editor
27 April 2026

SATUJABAR, SUKABUMI--Nasib malang menimpa seorang wanita lanjut usia (lansia) di Kota Sukabumi, Jawa Barat, saat melayani pria pembeli di warung...

Ilustrasi pelecehan seksual.(Foto:Istimewa).

Polri Diminta Bisa Bawa Pulang Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Pelecehan Seksual

Editor
27 April 2026

SATUJABAR, JAKARTA--Bareskrim Polri telah menetapkan Syekh Ahmad Al Misry (SAM), sebagai tersangka atas kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri. Polri...

(Foto: Dok. Gakkum Kemenhut)

Tim Gabungan Bentang Alam Seblat Amankan Perambah Hutan di Koridor Gajah

Editor
27 April 2026

Dalam operasi tersebut, petugas sempat mendapat perlawanan dari dua orang tak dikenal yang menyerang tim dan merusak tiga unit kendaraan...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.