TANGERANG – Angin sore berembus pelan menyapu lanskap bebatuan karst yang membentang di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Suatu area yang kerap disangka menyimpan keterbatasan, justru menyembunyikan rahasia kesuburan tersendiri. Di antara kontur tanah berbatu dan terik mentari yang menyengat, deretan daun lidah buaya berdiri tegar, memantulkan kilau hijau segar yang menyejukkan pandangan.
Gagasan ini berawal dari kepedulian terhadap kondisi masyarakat setempat, yang sering kali kesulitan mendapatkan pemasukan memadai saat musim kemarau panjang melanda. “Saya mencoba riset mandiri untuk mencari dan memilih tanaman yang tangguh dan sanggup berkembang optimal saat kemarau sekaligus memiliki nilai ekonomi. Lidah buaya jadi jawaban yang potensial untuk diekplorasi lebih lanjut,” ucap sang founder, Alan Efendhi.
Di sinilah langkah kaki PT Mount Vera Sejati berpijak sejak 2014. Merajut asa untuk membuktikan bahwa kearifan lokal mampu diolah sedemikian rupa untuk hadir dengan ragam bentuk: dari isian sehat minuman dan mangkok camilan hingga menjadi bagian dari rantai produksi industri obat dan kecantikan yang jauh lebih kompleks.
Keindahan dari jenama Rasane Vera ini terletak pada jalinan kemitraan yang hangat bersama masyarakat lokal. Tidak berjalan sendirian, PT Mount Vera Sejati merangkul lebih dari 125 petani kecil di atas lahan membentang sekitar dua hektare. Dari tangan terampil para petani mitra inilah, pelepah-pelepah lidah buaya segar dipanen dengan penuh kepedulian, menghubungkan sumber daya alam perdesaan dengan rantai nilai bernilai tinggi.
Pemberdayaan masyarakat ini bergerak lebih jauh. “Rasane Vera membentuk kelompok perempuan tani dan kami latih untuk mengolah dan menciptakan produk bernilai tambah lain, seperti dodol lidah buaya. Hasil karya tangan mereka kemudian kami serap untuk dijual di Aloe Land, sebuah kawasan agrowisata di bawah naungan PT yang sama. Ini menjadi penyemangat bagi warga untuk berkreasi menghasilkan produk unik dan inovatif hasil dari lidah buaya,” tutur Alan.
Setiap jengkal proses pengolahan lidah buaya di sini dirawat dengan standar dedikasi yang tinggi. Dimulai dari tahap persiapan melalui pemilahan pelepah secara teliti untuk mendapatkan grade terbaik, dilanjutkan dengan proses higienis yang menjaga standar dan nutrisi tanaman. Seluruh operasionalnya turut menerapkan prinsip ekonomi sirkular, misalnya dengan mengolah bagian pelepah lidah buaya yang tidak terpakai menjadi pupuk organik dan eco-enzyme guna mengembalikan kebaikan ke tanah tempatnya tumbuh.
Tahapan kontrol kualitas yang ketat serta pengemasan yang aman memastikan kebaikan alam Gunungkidul tetap terjaga utuh hingga sampai ke tangan konsumen dan mitra bisnis. “Kami menyasar B2C dan B2B. Untuk konsumen akhir, kami hadirkan aneka produk siap santap yang penuh serat dan menyehatkan, seperti Nata de Aloe Vera dan Aloe Vera Cube Drink. Di segmen B2B, kami tambahkan pilihan berupa Pure Aloe Vera Slice dan Liquid Gel yang menjadi bahan baku strategis bagi industri makanan, minuman, kosmetik, hingga farmasi,” jelas Alan.
Kualitas produk dan kapasitas produksi yang tinggi ini lantas memikat perhatian pengunjung asing selama gelaran Trade Expo Indonesia 2026, salah satunya ketika calon buyer asal Swedia menaruh ketertarikan besar untuk membeli produk mereka, lengkap dengan permintaan khusus berupa potongan lidah buaya dalam ukuran yang lebih kecil. Pengalaman ini makin menegaskan bahwa fleksibilitas Rasane Vera dalam memenuhi preferensi mitra bisnis menjadi keunggulan tersendiri.
Melalui positioning yang strategis, penerapan ekonomi sirkular serta pemberdayaan masyarakat, fleksibilitas dalam suplai, dan penguasaan tentang seluk beluk lidah buaya membawa Rasane Vera pada sederet penghargaan, salah satunya terpilih menjadi Young Ambassador Agriculture 2023. Dengan semangat “Local Strength. Flexible B2B Potential”, Rasane Vera kini memiliki target ekspor ke sejumlah negara tujuan, antara lain Persatuan Emirat Arab (PEA), Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. Kebaikan alam Gunungkidul ini siap melangkah lebih jauh, menembus pasar internasional dan menginspirasi dunia bahwa tempat yang terkesan gersang sekalipun, potensi ekonomi tetap dapat diciptakan.
Sumber: Kemendag







