TANGERANG – Nasi goreng sapi dan ayam goreng kecap menjadi sajian dalam kegiatan demonstrasi memasak di Paviliun S’RASA (Rasa Rempah Indonesia) pada hari terakhir Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, Minggu (18/10). Menggunakan Kecap Bango, demonstrasi memasak ini menghadirkan Chef Ragil Wibowo bersama Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi dan Analis Perdagangan Ahli Utama Kementerian Perdagangan, sekaligus Kurator S’RASA, Ari Satria. Pada kesempatan ini, ketiganya membahas peran produk bumbu Indonesia dalam memperkenalkan cita rasa Nusantara sekaligus membuka peluang pasar global.
“Promosi melalui pengalaman kuliner dapat membantu memperkenalkan produk Indonesia secara lebih dekat ke calon mitra bisnis. Melalui S’RASA, kami ingin memperlihatkan bahwa potensi ekspor kuliner Indonesia tidak hanya terletak pada hidangan yang disajikan, tetapi juga pada produk bumbu dan bahan pangan yang digunakan. Kolaborasi dengan mitra seperti Bango menjadi bagian penting untuk menghubungkan promosi tersebut dengan peluang kerja sama dan perluasan pasar,” ujar Puntodewi.
Kementerian Perdagangan melalui Ditjen PEN menghadirkan S’RASA pada TEI ke-41 yang berlangsung pada 14—18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten. S’RASA merupakan gerakan promosi kuliner Indonesia di pasar global melalui restoran Indonesia di luar negeri. Program ini mendorong kolaborasi pemerintah dan dunia usaha untuk memperkuat promosi, memperluas penggunaan produk bumbu dan pangan Indonesia, serta membuka peluang ekspor yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi dengan mitra industri, S’RASA menghubungkan promosi kuliner Indonesia dengan peluang pemanfaatan produk makanan, bumbu, dan rempah nasional oleh restoran serta pelaku industri kuliner di luar negeri. Bango sendiri merupakan salah satu mitra pendukung S’RASA sejak program ini diluncurkan pada 28 Agustus 2025.
Chef Ragil Wibowo bersama Dirjen Puntodewi dan Ari Satria memasak nasi goreng sapi dan ayam popcorn dengan menggunakan Kecap Bango sebagai bumbu utamanya. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperlihatkan bagaimana produk bumbu Indonesia dapat digunakan dalam hidangan Nusantara dan berpotensi menjadi bagian dari menu restoran Indonesia di mancanegara.
Sementara itu, PT Unilever Indonesia Tbk., Yohannes Hendra Setyastanto menyampaikan, kolaborasi dengan S’RASA merupakan bentuk perayaan atas kekayaan cita rasa Indonesia sekaligus upaya memperkenalkan kuliner Nusantara kepada masyarakat yang lebih luas. Kolaborasi ini mempertemukan semangat, kreativitas, dan cita rasa Indonesia dalam pengalaman kuliner yang istimewa. “Bagi kami, cita rasa yang baik tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga memiliki cerita yang layak dibagikan. Melalui kolaborasi S’RASA dan Bango, kami ingin turut memperkenalkan kekayaan cita rasa Indonesia serta mendorongnya agar makin dikenal di pasar global,” terang Yohannes.
Chef Ragil Wibowo menambahkan, bumbu dan kecap memiliki peran penting dalam membentuk karakter cita rasa masakan Indonesia. Menurutnya, demonstrasi memasak dapat memberikan gambaran langsung mengenai penggunaan produk Indonesia dalam menu yang dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan pasar. “S’RASA jadi ruang yang tepat untuk memperkenalkan kekayaan rasa Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa produk bumbu Nusantara dapat digunakan secara praktis untuk menghadirkan hidangan khas Indonesia. Pendekatan ini dapat membantu restoran dan pelaku usaha kuliner di luar negeri mengenal lebih dekat produk Indonesia,” jelas Chef Ragil.
Melalui program S’RASA, Bango telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Interaromat BV, importir makanan dan bumbu asal Belanda, dengan estimasi nilai kontrak sebesar USD 120 ribu per tahun. Capaian tersebut menunjukkan bahwa promosi produk melalui S’RASA berpotensi berlanjut menjadi penjajakan kerja sama komersial untuk memperluas akses produk Indonesia ke pasar luar negeri.
Pada hari kelima aktivasi S’RASA di TEI ke-41, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bawang Goreng Mbrebes Mili dan I Am F&B Group juga dilaksanakan dengan estimasi total nilai transaksi sebesar USD 5 juta. Penandatanganan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan produsen Indonesia dengan mitra bisnis untuk memperluas peluang pemasaran produk kuliner nasional.
Sumber: Kemendag







