SATUJABAR, JAKARTA – Diabetes masih menjadi tantangan kesehatan global, termasuk di Indonesia. Hampir setengah miliar penduduk dunia hidup dengan diabetes, dan banyak di antaranya tidak terdiagnosis. Kondisi ini mendorong peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan alternatif pengobatan alami yang terjangkau dengan memanfaatkan kekayaan hayati nusantara, salah satunya kayu raru (Vatica perakensis).
Kayu raru telah lama dimanfaatkan masyarakat Batak sebagai campuran minuman tradisional (tuak) dan dipercaya membantu menurunkan kadar gula darah. Berangkat dari pengetahuan tradisional tersebut, tim peneliti BRIN melakukan kajian ilmiah untuk menguji potensi antidiabetes dari ekstrak kulit kayu raru.
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Agus Ismanto, menjelaskan bahwa ekstrak kayu raru memiliki sifat antioksidan dan berpotensi menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase, enzim yang berperan dalam pemecahan karbohidrat menjadi glukosa.
“Untuk meningkatkan efektivitasnya, ekstrak kulit kayu raru kami kombinasikan dengan karbon aktif berbahan dasar mocaf (tepung singkong termodifikasi) yang berfungsi sebagai pembawa (carrier) zat aktif,” ujar Agus, pada Senin (23/2).
Karbon aktif tersebut, menurutnya, diproduksi melalui proses pemanasan khusus hingga membentuk struktur berpori sangat halus. Struktur ini diharapkan mampu membawa dan melepaskan senyawa aktif dari ekstrak raru secara lebih efektif di dalam tubuh.
Uji Praklinis pada Model Hewan
Agus menjelaskan penelitiannya bersama tim, bertajuk “Efek Antidiabetik Ekstrak Kulit Kayu Raru (Vatica perakensis) dan Karbon Aktif Mocaf pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin”, dilakukan menggunakan tikus jantan yang diinduksi menjadi diabetes. Hewan uji dibagi ke dalam beberapa kelompok, termasuk kelompok kontrol, kelompok yang diberi ekstrak raru tunggal, serta kelompok kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif dengan rasio berbeda.
Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak raru tunggal mampu menurunkan kadar gula darah sebesar 21,94%. Sementara itu, kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif mocaf menunjukkan penurunan sebesar 18,85% pada rasio 75:25 dan 14,97% pada rasio 50:50.
Meski rasio 75:25 menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan 50:50, kata Agus, secara umum penambahan karbon aktif belum memberikan peningkatan efektivitas yang signifikan dibandingkan ekstrak raru tunggal.
Penelitian sebelumnya juga membuktikan bahwa ekstrak raru mampu menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase secara in vitro hingga lebih dari 90%. Aktivitas ini diduga berkaitan dengan kandungan senyawa fenolik di dalamnya, tambahnya.
Meski menunjukkan hasil menjanjikan, Agus mengakui, penelitian ini masih memiliki keterbatasan. “Analisis farmakokinetik, mekanisme kerja secara rinci, serta aspek keamanan penggunaan masih perlu dikaji lebih lanjut sebelum memasuki tahap uji klinis pada manusia,” ungkapnya.
Agus menegaskan, riset ini menjadi langkah awal penting dalam mengangkat kearifan lokal sebagai sumber inovasi obat herbal berbasis sains. “Ke depan, tim peneliti akan melakukan analisis fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif, mengoptimalkan sistem penghantaran zat aktif, serta memperdalam kajian mekanisme kerja dan aspek keamanan,” pungkasnya.
Melalui riset ini, BRIN kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan solusi kesehatan berbasis biodiversitas Indonesia, menjadikan kekayaan hayati sebagai fondasi inovasi yang berdampak bagi masyarakat.








