• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Jumat, 24 April 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Dari Bilik Produksi Percetakan Al-Qur’an Braille, Semangat Membumikan Al Quran

Editor
Minggu, 08 Maret 2026 - 08:37
Di balik hadirnya Al-Qur’an Braille yang dibaca oleh penyandang disabilitas netra, ada proses panjang yang dikerjakan dengan ketelitian tinggi.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Di balik hadirnya Al-Qur’an Braille yang dibaca oleh penyandang disabilitas netra, ada proses panjang yang dikerjakan dengan ketelitian tinggi.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Di balik hadirnya Al-Qur’an Braille yang dibaca oleh penyandang disabilitas netra, ada proses panjang yang dikerjakan dengan ketelitian tinggi. Mulai dari proses penerjemahan Braille, pengeditan hingga pencetakan, semuanya dilakukan dengan penuh kesabaran oleh para pekerja di percetakan khusus Braille.

Salah satunya adalah Sutiadi, translator sekaligus pekerja percetakan Braille yang telah bekerja selama tiga tahun. Ia sebelumnya bertugas di Sentra Abiyoso Cimahi sebelum akhirnya dipindahkan bersama tim produksi ke tempat kerjanya saat ini.

RelatedPosts

Lomba Paduan Suara Puspa Swara Wanoja Sunda, Tidak Sekadar Nyanyi-Nyanyi

Kirab Mahkota Binokasih yang Terbuat Dari Emas 8 Kilo Kembali Digelar

Hari Jadi Kabupaten Sumedang Ke-448 Diwarnai Refleksi dan Kebersamaan

“Dulu saya di Abiyoso, tapi produksinya dipindahkan ke sini bersama orang-orangnya,” kata Sutiadi dilansir bandung.go.id.

Dalam proses produksi, ia menjelaskan pencetakan Al-Qur’an Braille sebenarnya sudah memiliki master resmi dari Kementerian Agama. Dengan begitu, proses produksi tinggal mencetak, menggandakan, hingga menjilid buku.

Untuk buku-buku Braille umum, satu pekerja biasanya mampu mencetak sekitar 30 buku dalam sehari. Sementara untuk Al-Qur’an Braille, prosesnya jauh lebih besar dan kompleks.

Dalam satu tahun, percetakan tersebut memproduksi sekitar 50 set Al-Qur’an Braille. Setiap set terdiri dari 30 jilid, sehingga total produksi mencapai sekitar 1.500 buku.

“Kalau Al-Qur’an Braille tidak mungkin jadi satu buku. Satu juz itu satu buku, jadi satu setnya ada 30 buku dan biasanya sampai dua dus besar,” jelasnya.

Meski prosesnya terlihat sederhana, tantangan tetap ada, terutama pada mesin cetak. Kadang-kadang titik Braille yang dicetak tidak sempurna, seperti ada titik yang hilang atau justru berlebih.

“Kadang di layar sudah benar, tapi pas dicetak titiknya hilang satu atau kelebihan. Kalau begitu harus dicek lagi dan diperbaiki,” ungkapnya.

Al-Qur’an Braille.(Foto: Humas Pemkot Bandung)
Al-Qur’an Braille.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Al-Qur’an Braille yang diproduksi di percetakan ini didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia, dari barat hingga timur. Permintaan sering datang dari berbagai organisasi penyandang disabilitas netra di Tanah Air.

Selain Al-Qur’an, percetakan ini juga memproduksi kitab suci lain dalam Braille, seperti Injil. Produksi biasanya menyesuaikan kebutuhan setiap tahunnya.

“Kalau tahun lalu Al-Qur’an 70 set, Injil hanya tiga set. Tahun ini Al-Qur’an 50 set, tapi Injilnya 20 set,” ujarnya.

Proses pencetakan tersebut juga didukung lebih dari 10 mesin cetak Braille yang sebagian besar berasal dari Norwegia. Di bagian percetakan, terdapat sekitar 10 pekerja yang terlibat langsung dalam produksi buku-buku Braille.

Sebelum buku-buku tersebut dicetak, ada tahap penting lain yang tidak kalah krusial, yakni proses pengeditan master naskah. Tugas ini dipegang oleh Hendra Kusumah yang telah menjadi editor sejak 2017.

“Tugas saya memastikan master buku sudah benar sebelum dicetak,” kata Hendra.

Menurutnya, proses editing tidak sekadar membaca, tetapi memeriksa setiap detail, mulai dari huruf, tanda baca hingga struktur kalimat.

“Kalau membaca biasa kan kita hanya membaca. Tapi kalau mengedit kita harus memperlambat membaca, memperhatikan koma, titik, huruf besar semuanya harus tepat,” jelasnya.

Proses pengeditan Al-Qur’an Braille bahkan bisa memakan waktu sangat lama. Untuk memeriksa master 30 juz Al-Qur’an secara keseluruhan, prosesnya bisa berlangsung hingga bertahun-tahun.

Namun saat ini, master Al-Qur’an Braille sudah tersedia, sehingga prosesnya lebih banyak pada pembaruan. Biasanya setiap dua tahun dilakukan pentashihan atau evaluasi untuk menyesuaikan dengan standar mushaf terbaru.

“Kalau ada simbol hukum bacaan yang perlu ditambahkan atau disesuaikan, itu diperbarui supaya benar-benar sesuai dengan Al-Qur’an yang sebenarnya,” pungkasnya.

Tags: Al-Qur’an Braille

Related Posts

‎(Foto: Moch Ahdiansyah/ Diskominfo Kab. Garut)

Lomba Paduan Suara Puspa Swara Wanoja Sunda, Tidak Sekadar Nyanyi-Nyanyi

Editor
24 April 2026

Bupati Garut melihat ajang paduan suara ini bukan sekadar kompetisi seni, melainkan wadah bagi perempuan untuk menyuarakan aspirasi dan membangun...

Mahkota Binokasih.(Foto: Humas Pemkab Bogor)

Kirab Mahkota Binokasih yang Terbuat Dari Emas 8 Kilo Kembali Digelar

Editor
22 April 2026

Mahkota Binokasih adalah Tahta Kerajaan Sunda abad ke-14 yang terbuat dari emas murni 8 kg dan batu giok. SATUJABAR, CISARUA...

Upacara Hari Jadi Kabupaten Sumedang Ke-488.(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Hari Jadi Kabupaten Sumedang Ke-448 Diwarnai Refleksi dan Kebersamaan

Editor
21 April 2026

Bupati berharap momentum tersebut dapat memperkuat rasa cinta dan kebanggaan masyarakat terhadap Kabupaten Sumedang. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk...

Hajat Bumi Cikeleng di Kabupaten Kuningan.(Foto: Humas Pemkab Kuningan)

Hajat Bumi Cikeleng: Merawat Warisan Leluhur, Meneguhkan Komitmen Jaga Alam

Editor
17 April 2026

Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pemakaman Manangga (Astana Desa Cikeleng), Kecamatan Japara, saat masyarakat menggelar tradisi Hajat Bumi, Kamis (16/4/2026) Di...

Ngagogo Lauk di Sumedang.(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Guyub Warga Ngagogo Lauk di Kolam Masjid Al Kamil Pemkab Sumedang

Editor
16 April 2026

Kali ini, warga sangat antusias memenuhi Kolam Masjid Al Kamil di Kompleks Pemkab Sumedang karena ada acara Ngagogo Lauk memperingati...

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menghadiri Lebaran Golok di Setu Babakan, Perkampungan Betawi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (12/4/2026).(Foto: Humas Pemkot Bogor)

Wali Kota Bogor Hadiri Lebaran Golok, Ingatkan Makna Filosofisnya

Editor
14 April 2026

SATUJABAR, BOGOR – Budaya Indonesia kaya akan karya benda dan tak benda. Salah satunya adalah golok. Bagai sebagian masyarakat Indonesia,...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.