• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Selasa, 9 Juni 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Tsunami Besar di Selatan Jawa 400 Tahun Lalu, Begini Faktanya

Editor
Selasa, 09 Juni 2026 - 02:12
Peringatan tsunami

Peringatan tsunami (pixabay)

SATUJABAR, JAKARTA – Penelitian paleotsunami yang dilakukan di sepanjang pesisir selatan Jawa hingga Bali mengungkap indikasi kuat bahwa tsunami besar pernah terjadi sekitar 400 tahun lalu. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eko Yulianto, menjelaskan bahwa Jejak peristiwa tersebut hingga kini masih dapat ditemukan dan ditelusuri melalui berbagai bukti ilmiah. Jejak tersebut diperoleh melalui kombinasi bukti geologi, mikrofosil laut, arkeologi, hingga kajian terhadap narasi budaya masyarakat pesisir.

“Permasalahannya adalah tidak ada dokumen sejarah yang dapat menjelaskan kapan ruptur raksasa terakhir benar-benar terjadi. Jika gempa megathrust terjadi sebelum periode sejarah tertulis, memorinya mungkin sudah hilang dari catatan sejarah,” ujar Eko saat workshop Advancing Multi-hazard exposure information in the Java Trench region, Indonesia: for enhanced risk assessment and resilience di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Senin (8/5/2026) dikutip laman BRIN.

RelatedPosts

Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 6,5% Tahun 2027

Aksi Begal Marak, Forkopimda Kota Bandung Perkuat Sinergi

Haji 2026 : Sebanyak 47.012 Jemaah Telah Kembali ke Tanah Air

Jejak Tsunami Purba

Hingga 2026, tim peneliti telah melakukan investigasi paleotsunami di dua belas lokasi utama yang tersebar dari Jawa Barat hingga Bali. Dalam paparannya, Eko menyoroti empat lokasi representatif, yaitu Cibuaya di Banten, Pangandaran di Jawa Barat, Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Tabanan di Bali.

“Di Pangandaran, peneliti menemukan lapisan pasir tsunami yang memisahkan endapan lumpur mangrove dengan sedimen yang lebih muda di atasnya. Analisis radiokarbon terhadap sisa tumbuhan yang berada di bawah lapisan pasir menunjukkan umur sekitar 400 tahun. Ini merupakan indikasi pertama bahwa tsunami besar kemungkinan pernah memengaruhi pesisir selatan Jawa sekitar empat abad yang lalu,” Eko menjelaskan.

Temuan lain di Pangandaran berasal dari lingkungan rawa pesisir yang menunjukkan adanya lapisan sedimen berulang. Struktur tersebut diduga terbentuk akibat beberapa gelombang tsunami yang datang secara berturut-turut dalam satu kejadian besar.

Bukti yang mengarah pada periode waktu yang sama juga ditemukan di Situs Batu Kalde, Pangandaran. Selain lapisan budaya yang mengandung fragmen gerabah Hindu-Buddha dan cangkang moluska, peneliti menemukan sejumlah struktur batu yang roboh. Meski belum dapat dipastikan sebagai dampak tsunami, kondisi tersebut membuka kemungkinan adanya guncangan gempa atau genangan besar yang terjadi pada masa lalu.

Di Kulon Progo, yang berlokasi tidak jauh dari Bandara Internasional Yogyakarta, tim menemukan lapisan pasir yang mengandung beragam mikrofosil laut seperti foraminifera, radiolaria, dan ostrakoda. Yang menarik, menurut Eko, sebagian organisme tersebut berasal dari lingkungan laut dalam.

“Kehadiran mikrofosil laut dalam menjadi bukti kuat bahwa material tersebut terbawa oleh peristiwa genangan laut besar dan bukan oleh banjir pesisir biasa,” ujar Eko.

Temuan serupa juga diperoleh di Cibuaya, Banten. Di lokasi tersebut ditemukan lapisan pasir yang kaya akan mikrofosil laut dan berada tepat di bawah lapisan batang-batang pohon yang terkubur di rawa. Penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa pohon-pohon tersebut mati sekitar 300 hingga 400 tahun lalu.

“Hubungan stratigrafi tersebut mengindikasikan bahwa suatu peristiwa genangan laut besar kemungkinan terjadi terlebih dahulu, kemudian diikuti perubahan lingkungan yang menyebabkan pohon-pohon tumbang dan tertimbun dalam sedimen rawa,” ujarnya.

Sementara itu, di Tabanan, Bali, penelitian menemukan susunan bongkah batu dan fragmen genteng yang orientasinya mengarah ke daratan. Struktur tersebut menunjukkan adanya aliran air yang sangat kuat dari arah laut.

“Berdasarkan hubungan dengan lapisan abu vulkanik yang diduga berasal dari letusan Gunung Tambora tahun 1815, usia kejadian tsunami di lokasi tersebut diperkirakan kembali berada pada kisaran 400 tahun lalu,” Eko menjelaskan.

Pola Menarik

Setelah mengkompilasi data radiokarbon dari berbagai lokasi, para peneliti menemukan pola yang menarik. Umur endapan tsunami ternyata tidak tersebar secara acak, melainkan mengelompok pada beberapa periode tertentu. Klaster termuda berada pada sekitar 400 tahun lalu, sementara klaster yang lebih tua muncul pada periode sekitar tahun 800–1000 Masehi, 100–300 Masehi, dan 400–700 Sebelum Masehi.

“Pola ini menjadi hipotesis kerja terbaik kami mengenai pengulangan tsunami besar di sepanjang margin selatan Jawa. Namun data tambahan masih diperlukan untuk memastikan apakah seluruh kejadian tersebut terkait dengan megathrust regional atau kombinasi tsunami lokal dan regional,” kata Eko.

Narasi Tradisional

Salah satu temuan yang paling menarik dari penelitian ini justru muncul di luar ranah geologi. Setelah menemukan indikasi tsunami besar sekitar 400 tahun lalu, para peneliti mulai mempertanyakan apakah jejak peristiwa tersebut masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat pesisir. Kajian kemudian diarahkan pada berbagai narasi tradisional yang berkembang di pesisir selatan Jawa, termasuk tradisi mengenai Ratu Kidul dan naskah Serat Sri Nata.

Eko mengatakan, ketika deskripsi dalam naskah tersebut dibandingkan dengan kesaksian korban tsunami modern, ditemukan sejumlah kemiripan yang mencolok, seperti perilaku laut yang tidak biasa, suara keras dari arah laut, angin kencang, suasana gelap, kepanikan massal, kerusakan yang luas, dan banyaknya korban jiwa.

“Hal ini tentu bukan bukti bahwa suatu peristiwa tsunami tertentu benar-benar tercatat dalam naskah tersebut. Namun temuan ini membuka kemungkinan bahwa narasi tradisional dapat menyimpan fragmen memori lingkungan yang bertahan sangat lama setelah peristiwa fisiknya sendiri hilang dari sejarah tertulis,” ia mengungkapkan.

Melalui pendekatan multidisiplin yang menggabungkan geologi, mikropaleontologi, arkeologi, dan sejarah budaya, penelitian ini menunjukkan bahwa rekonstruksi sejarah bencana masa lalu dapat dilakukan melalui berbagai sumber pengetahuan. Eko menjelaskan, penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk memahami ancaman megathrust di zona subduksi selatan Jawa yang hingga kini masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai sejarah kejadian gempa dan tsunami besar.

Menurutnya, berdasarkan zona subduksi selatan Jawa berpotensi menghasilkan gempa megathrust. Oleh karena itu, untuk memahami ancaman di masa depan, para peneliti berupaya merekonstruksi sejarah tsunami masa lalu melalui pendekatan paleotsunami, yaitu kajian terhadap jejak-jejak geologi yang ditinggalkan oleh tsunami purba.

“Selain alasan ilmiah, penelitian ini juga didorong oleh kebutuhan praktis dalam mitigasi bencana mengingat adanya potensi sepanjang pesisir selatan Jawa terekspos ancaman gempa bumi dan tsunami. Hal ini penting untuk penilaian Risiko dan perencanaan ketahanan bencana,” ujarnya.

Tags: BRINtsunami selatan jawa

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa,pertumbuhan ekonomi

Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 6,5% Tahun 2027

Editor
9 Juni 2026

Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 6,5% pada 2027 yang diposisikan sebagai fondasi krusial menuju target 8 persen pada 2029 mendatang. SATUJABAR,...

Apel gabungan di Balai Kota Bandung. Salah satunya untuk mencegah aksi begal dan kejahatan lain yang dinilai kian marak.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Aksi Begal Marak, Forkopimda Kota Bandung Perkuat Sinergi

Editor
9 Juni 2026

SATUJABAR, BANDUNG – Aksi begal dan kejahatan jalanan lainnya kini sedang marak mendorong Pemerintah Kota Bandung bersama unsur Forum Koordinasi...

Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf.(Foto: Dok. Humas Kemenhaj)

Haji 2026 : Sebanyak 47.012 Jemaah Telah Kembali ke Tanah Air

Editor
8 Juni 2026

SATUJABAR, TANGERANG — Haji 2026 memasuki fase pemulangan jemaah. Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf menegaskan bahwa berakhirnya puncak...

Ilustrasi tilang melalui Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE).(Foto:Istimewa).

Operasi Patuh Lodaya 2026 Ditunda

Editor
8 Juni 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Pelaksanaan Operasi Patuh Lodaya 2026 di wilayah hukum Polda Jawa Barat, ditunda. Operasi Patuh Lodaya 2026, yang sedianya dijadwalkan...

Gempa Sulut - Filipna.(Image: BMKG)

Gempa Sulut Magnitudo 7,7, BMKG: Tsunami Pascagempa Terdeteksi

Editor
8 Juni 2026

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pemutakhiran peringatan dini tsunami menyusul gempa bumi tektonik kuat bermagnitudo 7,7...

Kirab Pusaka Kujang dalam rangkaian kegiatan Babakti Tugu Kujang saat Hari Jadi Bogor 544.(Foto: Humas Pemkot Bogor)

Hari Jadi Bogor 544: Kirab 140 Pusaka Kujang di Kota Bogor

Editor
8 Juni 2026

SATUJABAR, BOGOR – Hari Jadi Bogor ke-544 masih berlangsung dalam rangkaian acara yang dikemas oleh Pemerintah Kota Bogor antara lain...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.