SATUJABAR, BANDUNG–Badan Gizi Nasional (BGN) menutup sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), atau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Dapur SPPG yang berada di wilayah Kecamatan Padalarang tersebut, ditutup selama 20 hari, menyusul kasus keracunan massal puluhan siswa seusai menyantap menu program MBG.
Penutupan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), atau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), yang berada di wilayah Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), disampaikan Ketua Satuan Tugas MBG Bandung Barat, Fauzan Azima. Penutupan dapur SPPG selama 20 hari, setelah menerima suspend dari Badan Gizi Nasional (BGN), berlaku sejak Senin, (14/09/2026).
“Suspend dari BGN sudah diberlakukan. Jadi, per hari ini (Senin), sudah di-suspend selama 20 hari ke depan, dan suratnya sudah sampai ke pihak SPPG Padalarang,” ujar Fauzan, dalam keterangannya, Senin (14/09/2026)
Fauzan memastikan, tim satgas, terdiri dari Dinas Kesehatan, pihak kepolisian, pemerintah desa, kecamatan, dan unsur terkait lainnya, telah melakukan inspeksi ke dapur SPPG Padalarang. Dapur SPPG Padalarang sebagai pemasok menu program MBG, dalam kasus keracunan massal puluhan siswa sekolah dasar (SD).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, tercatat sebanyak 30 korban siswa yang terkonfirmasi mengalami keluhan kesehatan. Sebanyak lima orang telah pulang, sedangkan 25 lainnya masih menjalani perawatan di dua rumah sakit dan satu klinik kesehatan.
Penyebab pasti dugaan keracunan makanan para siswa, belum bisa dipastikan. Dari hasil penelusuran awal, makanan menu program MBG yang dikonsumsi korban, merupakan menu yang disajikan pada Rabu, sedangkan keluhan baru muncul pada Jum’at.
“Semua masih dalam pemeriksaan, untuk memastikan apakah keluhan (keracunan), memang akibat mengonsumsi menu progam MBG, atau bukan, Kita masih menunggu hasil pemeriksaan,” kata Fauzan.
Fauzan mengungkapkan, meski penyebabnya masih diteliti, tim satgas di lapangan menemukan sejumlah pelanggaran terkait SOP (standar operasional prosedur) di dapur SPPG. Temuan tersebut, berupa pelanggaran bersifat mayor dan minor.
“Jadi hasil temuan tim, beberapa SOP di dapur SPPG belum maksimal. Ada beberapa catatan, baik yang sifatnya mayor maupun minor, wajib diperbaiki,” ungkap Fauzan.
Temuan mayor wajib diperbaiki sebelum dapur SPPG bisa kembali beroperas, setelah masa suspend 20 hari. Salah satu temuan mayor yang ditemukan tim satgas di lapangan, yakni proses pencucian ompreng yang masih dilakukan di tempat terpisah.
Kasus dugaan keracunan massal menu program MBG dari dapur SPPG Padalarang menambah daftar panjang evaluasi BGN terhadap program MBG secara nasional, termasuk di Jawa Barat. Sebelumnya, BGN telah mengevaluasi terhadap 172 dapur SPPG, terakhir menutup dapur SPPG di Pati, Jawa Tengah dan Agam, Sumatera Selatan.
BGN memastikan akan terus memantau pelaksanaan MBG, agar standar keamanan pangan dan SOP dipenuhi seluruh dapur SPPG. Kepala SPPG diwajjbkab segera memperbaiki seluruh temuan, untuk memastikan seluruh proses pengolahan makanan berjalan sesuai standar, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali.
Kasus keracunan diduga dari menu program MBG menimpa siswa, terjadi di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sebanyak 31 siswa dan seorang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Cipeundeuy, harus dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan, karena diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap menu progran MBG, yang dipasok dari dapur SPPG Padalarang.







