JAYAPURA – Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi (Kementrans) Tahun 2026 yang bermitra dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengusung misi perbaikan dan pembangunan infrastruktur vital di kawasan transmigrasi Lereh, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Kegiatan bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Perbaikan Jalan dan Jembatan” ini berlangsung pada 7–14 Oktober 2026 di Satuan Pemukiman (SP) 3 Jalur 5. Proyek ini difokuskan untuk membuka dan membenahi jalur produksi guna memperlancar distribusi hasil perkebunan para petani lokal.
Sebelum adanya perbaikan, kondisi Jalur 5 memprihatinkan. Badan jalan masih berupa tanah berlumpur dan sangat licin saat diguyur hujan. Untuk dapat melintas, warga bahkan harus menyusun potongan-potongan bambu secara berjejer di atas lumpur demi mengurangi licin agar kendaraan pengangkut hasil panen tidak amblas.
Ketua Tim 18 Ekspedisi Patriot, Eka Oktariyanto Nugroho, menjelaskan bahwa proyek ini berhasil meningkatkan kualitas dan kapasitas jalan secara signifikan untuk menunjang mobilitas warga.
“Panjang total jalan yang dikerjakan kurang lebih 500 meter, terdiri dari 300 meter pelebaran jalan dan 200 meter pembukaan jalan baru. Lebar jalan yang semula hanya 3 meter kini telah diperluas menjadi 5 meter,” ujar Eka kepada Satujabar.com.

Selain penataan badan jalan, mulai dari pembersihan, pelebaran, pemerataan, hingga penimbunan Lapisan Pondasi Atas (LPA) menggunakan material yang diambil dari area (quarry) sekitar SP 3 Jalur 4, tim juga memperbaiki infrastruktur pendukung lainnya.
“Kami juga merampungkan perbaikan dua unit jembatan penghubung antara jalur produksi dengan jalan poros SP 3. Material jembatan yang digunakan mengaplikasikan konstruksi u-ditch [beton U] agar lebih kokoh dan tahan lama. Pengerjaan fisik ini dibantu dengan pengerahan alat berat berupa ekskavator,” tambah Eka.
Tidak hanya melakukan pembangunan fisik, program ini juga menekankan pada aspek pemberdayaan masyarakat melalui transfer pengetahuan teknis. Sebanyak 10 orang warga lokal dan petani terlibat aktif serta mendapatkan pelatihan intensif dari Tim Ekspedisi Patriot Kementrans dan ITB.

Materi pelatihan yang diberikan mencakup keterampilan praktis mengidentifikasi kerusakan jalan dan jembatan, pembersihan sedimen serta sampah agar air tidak melimpas ke badan jalan, hingga teknik penggalian kemiringan saluran air. Selain itu, warga diajarkan teknik pemadatan tanah/pasir batu, pembuatan cembungan jalan, serta formula pencampuran adukan semen, pasir, dan kerikil yang presisi agar daya tahan konstruksi maksimal.
Hadirnya akses jalan dan jembatan yang memadai ini menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi warga SP 3 Lereh. Jalur produksi tersebut merupakan urat nadi utama bagi pengangkutan berbagai komoditas unggulan daerah, seperti kakao, buah naga, buah merah, serta aneka tanaman sayuran menuju pasar.
Dengan selesainya pengerjaan ini, mobilitas pengangkutan hasil bumi kini jauh lebih cepat, aman, dan efisien, sekaligus meningkatkan kemandirian warga dalam merawat fasilitas umum secara berkelanjutan.







