SATUJABAR, BANDUNG–Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengungkapkan, cuaca ekstrem sebagai penyebab 520 rumah dan sembilan fasilitas umum (fasum) di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, rusak diterjang puting beliung. Cuaca ekstrem terjadi akibat kondisi atmosfer pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
Menurut Ketua Tim Meteorologi dan Klimatologi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung, Muhamad Iid Mujtahiddin, cuaca ekstrem sebagai penyebab 520 rumah dan sembilan fasilitas umum (fasum) di wilayah Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat, rusak diterjang puting beliung, masih perlu diwaspadai. Potensinya bisa kembali terjadi selama masa transisi peralihan musim kemarau ke musim hujan.
Masyarakat diminta tidak menganggap kondisi cuaca relatif cerah, tanda risiko hujan lebat dan angin kencang telah berakhir.
“Hujan lebat, ekstrem, atau ada angin kencang, angin puting beliung, juga hujan es, bisa terjadi selama masa transisi peralihan musim kemarau ke musim hujan. Bisa dibilang masuk peralihan musim, dan tidak ada batasan,” ujar Iid dalam keterangannya di Bandung, Kamis (29/10/2026).
Iid mengatakan, musim hujan diprediksi dasarian dua bulan November. Dasarian merupakan periode waktu selama sepuluh hari, prediksi awal musim hujan pada dasarian kedua November, mengacu pada periode 11 hingga 20 November 2026.
Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin puting beliung melanda wilayah Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 26 Oktober 2026. Peristiwa tersebut, mengakibatkan 520 rumah dan sembilan fasilitas umum rusak, mulai kategori rusak ringan hingga berat.
Desa Padalarang menjadi wilayah paling parah terdampak angin puting beliung. Sebagian wilayah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Bandung Barat secara umum, berpotensi terjadi hujan ringan.
Hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang, berpotensi terjadi di lokasi tertentu. Fenomena tersebut dapat berlangsung secara lokal dengan durasi relatif singkat, sehingga masyarakat perlu tetap waspada selama masa transisi
“Selama beberapa hari ke depan kondisi kelembapannya ketinggian 700 mb, atau 3,5 km di atas permukaan laut, relatif cukup lembab. Ini mendukung adanya potensi pertumbuhan awan hujan,” jelas Iid.
BMKG mengidentifikasi sejumlah faktor pendukung pertumbuhan awan konvektif di Jawa Barat. Suhu muka laut yang relatif hangat meningkatkan suplai uap air ke atmosfer sebagai unsur pembentukan awan.
Aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator dan Madden-Julian Oscillation (MJO), yang mempengaruhi pembentukan awan dan distribusi curah hujan, serta kondisi labilitas atmosfer kategori sedang hingga kuat berkaitan dengan kecenderungan udara untuk bergerak naik. Ketika udara lembap terdorong naik dan kondisi atmosfer mendukung, awan konvektif dapat berkembang lebih intensif.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, telah menerjunkan personel untuk pendataan kerusakan akibat diterjang angin kencang di Padalarang. Masyarakat diminta waspada dan tetap bersiap siaga dalam masa peralihan musim kemarau ke musim hujan.







