SATUJABAR, BANDUNG–Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendeteksi adanya anomali muka air laut di kawasan Gunung Anak Krakatau, pada Senin 07 September 2026. Fenomena tersebut terjadi bersamaan hilangnya kontak lima jurnalis, dan tiga awak speedboat Arupadhatu 1 di Selat Sunda.
Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semeidi Husrin mengatakan, sistem monitoring IDSL/PUMMA milik BRIN menangkap anomali muka air yang berlangsung cukup lama pada siang hari.
“Di siang hari itu, Senin (07/09/2026), alat IDSL/PUMMA kami menangkap anomali muka air yang bukan tsunami cukup lama, dan tidak biasa,” ujar Semeidi, dalan keterangannya, Jum’at (11/09/2026).
BRIN menduga, anomali tersebut disebabkan banyaknya debris, atau material vulkanik terapung di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Material tersebut berpotensi membahayakan kapal yang melintas.
“Dugaan kami banyak debris, atau material terapung di laut atau material vulkanik, yang berpotensi membahayakan siapa saja yang mendekat ke arah sana,” kata Semeidi.
Semeidi menambahkan, dalam kondisi jarak pandang terbatas, debris bisa berbahaya bagi kapal. BRIN juga mendeteksi sinyal serupa, namun lebih lemah di Pulau Sebesi, meski belum bisa menjelaskan lebih jauh karena keterbatasan data.
“Pelajaran pentingnya, saat kondisi lingkungan yang extreme, fenomena apapun bisa terjadi. Olehkarenanya, kita dilarang mendekat oleh otoritas,” jelas Semeidi.
Kelima jurnalis yang hilang adalah M Bagus Khoirunnas Jurnalis Antara Biro Banten, Arie Basuki Jurnalis Merdeka.com, Yudhistiro Jurnalis iNews, Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Jurnalis Freelance.
Tiga awak kapal lainnya, Warta, 55 tahun selaku kapten, Surakman, 60 tahun, anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto, 49 tahun, sebagai pemandu.
Operasi pencarian Tim SAR Gabungan sudah diperluas ke tujuh SRU. Armada yang dikerahkan antara lain KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, RIB, serta 3 KRI dari TNI AL, KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861.
Proses pencarian terkendala gelombang tinggi, dan jarak pandang terbatas di Selat Sunda. Masyarakat dimohon mendo’akan buat keselamatan para jurnalis dan awak kapal, agar bisa segera ditemukan.







