Indonesia merupakan penghasil ubi kayu terbesar kedua di dunia setelah Brazil, dengan produksi mencapai 21 juta ton. Namun, umbi singkong segar memiliki kelemahan yaitu cepat rusak dan berisiko mengandung racun asam sianida jika tidak segera diolah.
SATUJABAR, MAJALENGKA – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler memaparkan potensi besar pengolahan singkong dan pisang menjadi tepung modifikasi. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperpanjang umur simpan produk pertanian.
Perekayasa Ahli Madya BRIN, Ade Saepudin menjelaskan, Indonesia merupakan penghasil ubi kayu terbesar kedua di dunia setelah Brazil, dengan produksi mencapai 21 juta ton. Namun, umbi singkong segar memiliki kelemahan yaitu cepat rusak dan berisiko mengandung racun asam sianida jika tidak segera diolah.
“Pengolahan singkong menjadi tepung MOCAF (Modified Cassava Flour) melalui proses fermentasi bakteri asam laktat dapat meningkatkan umur simpan dari 48 jam menjadi 4.800 jam,” ujar Ade pada Workshop hasil kerja sama BRIN dengan Yayasan Inotek tentang Teknologi Hilirisasi Komoditas Buah-Buahan, Perikanan, dan Umbi-umbian di Majalengka Jawa Barat, Kamis (16/4) dilansir laman BRIN.
Menurut Ade, tepung MOCAF memiliki keunggulan bebas gluten dan indeks glikemik yang lebih rendah dibanding tepung singkong biasa, sehingga cocok untuk industri pangan modern. Selain singkong, BRIN juga menyoroti potensi tepung pisang dan tepung kulit pisang.
“Berdasarkan data 2024, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai produsen pisang terbesar dunia dengan produksi di atas 9 juta ton. Pengolahan menjadi tepung tidak hanya menyasar daging buahnya, tetapi juga memanfaatkan kulit pisang yang selama ini dianggap limbah,” ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular atau zero waste. “Tepung kulit pisang sangat potensial sebagai pangan fungsional karena kaya akan serat, antioksidan, dan mineral,” tambah Ade.
Dari sisi ekonomi, lanjutnya, analisis BRIN menunjukkan bahwa produksi tepung pisang skala UMKM mampu menghasilkan laba sekitar Rp 90.000 per hari dengan kapasitas bahan baku 100 kg. Sementara itu, tepung MOCAF memberikan keuntungan sekitar Rp 40.000 per hari. “Meskipun tepung kulit pisang masih menghadapi tantangan pasar, produk ini dapat memberikan keuntungan jika bahan baku diperoleh dari limbah industri secara gratis,” tambahnya.
Ade merekomendasikan para pelaku usaha untuk meningkatkan nilai produk dengan mengolah tepung menjadi makanan jadi seperti kue kering MOCAF atau camilan tinggi serat. Strategi pemasaran dengan label sehat dan ramah lingkungan juga dinilai penting untuk meningkatkan minat beli konsumen.
“Produk-produk ini baru bahas setengah jadi, ke depannya saya harapkan bisa menjadi produk-produk yang langsung jadi yang bisa langsung di pasarkan,” pungkasnya.







