• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Rabu, 28 Oktober 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Bagaimana Satelit Bisa Mengorbit Bumi di Angkasa? Ini Penjelasan BRIN

Editor
Jumat, 12 September 2025 - 07:21
Bagaimana Satelit Bisa Mengorbit Bumi di Angkasa? Ini Penjelasan BRIN

(Image: BRIN)

SATUJABAR, JAKARTA – Satelit kini menjadi bagian penting dalam kehidupan modern, mulai dari komunikasi, cuaca, hingga pemantauan lingkungan. Namun, bagaimana sebenarnya satelit dapat “bertahan” mengorbit di angkasa?

Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Satriya Utama, menjelaskan setiap satelit yang mengorbit Bumi harus bergerak dengan kecepatan tertentu agar tetap berada di lintasannya. Kecepatan ini bergantung pada ketinggian orbit.

RelatedPosts

Hadiri Kompetisi Pelaku Usaha Jagoan Pencari Cuan, Ini Pesan Wamendag

Siswa Diduga Keracunan, Pemkab Bogor Tanggung Biaya Pengobatan

Sinergi Menkomdigi dan Kapolri Perkuat Pemberantasan Judi Online Lintas Negara dan Penipuan Digital

Misalnya, orbit rendah atau low earth (LEO) sekitar 600 kilometer dari permukaan Bumi, memerlukan kecepatan sekitar 7,56 km/s. Sementara itu, orbit geostasioner (GEO) sekitar 35.786 km dari permukaan Bumi hanya memerlukan sekitar 3,075 km/s.

“Semakin rendah orbit, semakin besar tarikan gravitasi, sehingga satelit harus bergerak lebih cepat. Sebaliknya, di orbit tinggi kecepatan yang dibutuhkan lebih rendah,” jelas Satriya, dalam Pelatihan Dasar Operasi Satelit Low Earth Orbit (LEO), secara daring, Rabu (10/9) dikutip Humas BRIN.

Terdapat beberapa hukum dasar yang mengatur orbit. Dua teori utama yang menjadi pijakan adalah Hukum Kepler dan Gravitasi Newton.

Hukum Kepler yaitu planet dan satelit bergerak pada lintasan elips, dengan pusat massa di salah satu fokus. Sementara Gravitasi Newton yaitu semua benda bermassa saling tarik-menarik.

“Besarnya gaya bergantung pada massa dan jarak. Dari hukum ini, lahirlah konsep kecepatan orbit dan kecepatan lepas atau escape velocity,” sebut Satriya.

Dia menerangkan orbit satelit tidak sepenuhnya stabil. Namun, terdapat faktor-faktor yang memengaruhinya, yaitu berupa hambatan atmosfer.

“Meskipun tipis, ternyata atmosfer di ketinggian rendah masih dapat memperlambat satelit yang mengakibatkan orbitnya makin lama makin turun,” jelas Satriya.

Bentuk Bumi yang tidak sempurna juga menjadi faktor tidak stabilnya orbit Bumi. Satriya mengatakan distribusi massa Bumi yang tidak merata menyebabkan perubahan orientasi orbit secara perlahan.

 

Jenis-Jenis Orbit

Dalam pelatihan ini, Satriya menjelaskan jenis-jenis orbit yang dapat dipilih sesuai kebutuhan misi satelit. Orbit tersebut yaitu LEO pada ketinggian 400 hingga 1500 kilometer di atas permukaan Bumi. Orbit ini cocok untuk satelit penginderaan jauh.

Jika menggunakan orbit ini, satelit bergerak cepat dengan periode orbit 90 hingga 100 menit dan kontak dengan stasiun bumi dalam jarak waktu singkat, yaitu 10 hingga 20 menit.

Orbit berikutnya yaitu medium earth orbit (MEO), banyak dipakai untuk sistem navigasi seperti GPS.

Selanjutnya, terdapat geostationary orbit (GEO) pada ketinggian 35.786 kilometer di atas permukaan Bumi. Satelit di orbit tersebut tampak diam di atas satu titik ekuator dan digunakan untuk komunikasi serta siaran langsung.

Orbit berikutnya yaitu sun-synchronous orbit (SSO) atau orbit sinkron dengan Matahari. Pada orbit ini, satelit melintas pada waktu lokal yang sama setiap hari, sehingga pencahayaan konsisten untuk penginderaan jauh.

Saat ini, satelit buatan Indonesia beroperasi pada orbit LEO. Satelit LEO hanya terlihat dari satu stasiun bumi selama 10–15 menit per lintasan.

“Waktu singkat ini harus dimanfaatkan untuk mengunduh data dan mengunggah perintah. Solusi memperpanjang akses data tersebut adalah dengan memperbanyak ground station,” ujar Satriya.

Dengan demikian, di Indonesia, terdapat empat stasiun bumi, yaitu di Tabing (Sumatra Barat), Parepare (Sulawesi Selatan), Biak (Papua), dan Rancabungur (Bogor) sebagai pusat kendali.

Tags: BRINorbit

Related Posts

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti menjadi pembicara utama pada Kompetisi Pelaku Usaha Jagoan Pencari Cuan (PUJAAN) Vol. 5 yang diselenggarakan oleh BukaLapak di Jakarta, Selasa (27 Okt).(Foto: Dok. Kemendag)

Hadiri Kompetisi Pelaku Usaha Jagoan Pencari Cuan, Ini Pesan Wamendag

Editor
27 Oktober 2026

JAKARTA - Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti menjadi pembicara utama pada Kompetisi Pelaku Usaha Jagoan Pencari Cuan (PUJAAN) Vol....

Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama Forkopimda meninjau penanganan siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Dramaga yang datang untuk mendapatkan pemeriksaan medis setelah mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan indikasi keracunan makanan atau minuman di Puskesmas Cangkurawok, Kecamatan Dramaga, Selasa (27/10/2026).(Foto: Diskominfo Kab. Bogor)

Siswa Diduga Keracunan, Pemkab Bogor Tanggung Biaya Pengobatan

Editor
27 Oktober 2026

DRAMAGA – Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama Forkopimda meninjau penanganan siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Dramaga yang...

Menkomdigi Meutya Hafid bersama Kapolri Suyudi Ario Seto menyampaikan keterangan kepada awak media usai melakukan audiensi di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026). Foto: Anhar/Komdigi

Sinergi Menkomdigi dan Kapolri Perkuat Pemberantasan Judi Online Lintas Negara dan Penipuan Digital

Editor
27 Oktober 2026

JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid bersama Kapolri, Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto memperkuat sinergi pemberantasan judi online...

Arief Rahman Kusuma (16), Bobotoh Persib Bandung.(Foto:Istimewa).

Pelaku Pembunuhan Bobotoh Usai Nonton Persib di Bogor Ditangkap

Editor
27 Oktober 2026

SATUJABAR, BOGOR--Polres Bogor, Jawa Barat, berhasil menangkap pelaku pembunuhan Arief Rahman Kusuma, supporter, atau bobotoh Persib Bandung. Remaja berusia 16...

Reruntuhan bangunan akibat diterjang puting beliung di Kabupaten Bandung Barat.(Foto:Istimewa).

520 Rumah dan 9 Fasum di Bandung Barat Rusak Diterjang Puting Beliung

Editor
27 Oktober 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Angin puting beliung merusak sebanyak 520 rumah warga dan sembilan fasilitas umum (fasum) di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat....

Prakiraan cuaca.(Image: BMKG)

BMKG: Siklon Tropis ARNAB Tak Berdampak, Waspadai Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan

Editor
27 Oktober 2026

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kejadian hujan berintensitas sedang hingga ekstrem yang mengguyur sejumlah wilayah di...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.