SATUJABAR, JAKARTA – Keunggulan geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain global di industri antariksa. Didukung rencana pengembangan Bandar Antariksa Biak, posisi strategis tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi peluncuran satelit, menarik investasi, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam ekosistem antariksa dunia.
Ketua Umum ARIKSA, Adi Rahman Adiwoso, mengatakan peluncuran satelit dari Biak memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah lokasi peluncuran lain karena berada dekat garis khatulistiwa. Menurutnya, kondisi tersebut memungkinkan efisiensi biaya peluncuran melalui pengurangan kebutuhan bahan bakar dan peningkatan kapasitas muatan satelit.
“Kalau kita luncurkan dari Biak itu, ada perbedaan Biak dibandingkan India 100 kilogram kurangnya. Dan per kilogram itu kalau saya catat benar 25 ribu dolar. Berarti satelit-satelit yang mengembang, yang meluncurkan dari Biak itu akan saving-nya luar biasa besar. Saving-nya akan 5 ribu dolar per kilogram. Kalau untuk 100 kilogram, hematnya 500 ribu dolar,” ujarnya dalam diskusi panel peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, BRIN Jakarta Pusat, Rabu (8/7) seperti dikabarkan Humas BRIN.
Selain memberikan keuntungan teknis, Adi menilai posisi geografis Indonesia juga berpotensi menjadi daya tarik investasi internasional. Ia mengusulkan pembentukan Equatorial Alliance, yaitu wadah kerja sama negara-negara di kawasan khatulistiwa untuk memperkuat posisi dalam industri antariksa global. Gagasan tersebut, menurutnya, telah mendapat respons positif dari sejumlah negara.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengatakan antariksa kini menjadi salah satu teknologi strategis yang akan menentukan daya saing ekonomi suatu negara. Karena itu, Indonesia perlu memanfaatkan keunggulan geografis yang dimiliki sebagai modal untuk memperkuat kapasitas nasional di sektor antariksa.
Menurut Stella, salah satu faktor penting dalam pengembangan teknologi antariksa adalah aspek position, navigation, and timing. Indonesia, katanya, memiliki keunggulan tersebut melalui lokasi Bandar Antariksa Biak yang mampu memberikan efisiensi peluncuran satelit.
Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Adis Alfiawan, menilai pengembangan industri antariksa membutuhkan dukungan seluruh ekosistem, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga sektor swasta. Ia berharap Indonesia memiliki visi strategis yang mampu mendorong investasi dan mempercepat pertumbuhan industri antariksa nasional, sebagaimana keberhasilan peluncuran Satelit Palapa yang menjadi tonggak penting pembangunan telekomunikasi Indonesia.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, mengatakan posisi strategis Indonesia memberikan peluang untuk menjadi bagian dari rantai pasok global industri antariksa. Menurutnya, pengembangan platform satelit di dalam negeri dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat kemampuan industri nasional.
Heru menegaskan BRIN akan terus mendukung pengembangan ekosistem antariksa melalui riset, penguatan kapasitas nasional, penyediaan infrastruktur penelitian, serta fasilitasi kolaborasi dengan industri. Dengan sinergi tersebut, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan keunggulan geografisnya untuk berkembang sebagai pusat aktivitas antariksa di kawasan khatulistiwa dan memperkuat posisinya dalam industri antariksa global.







