SATUJABAR, JAKARTA – BRIN atau Badan Riset dan Inovasi Nasional meluncurkan e-book 101 Ide Industri Kreatif sebagai upaya memacu pengembangan industri kreatif berbasis hasil riset dan kekayaan budaya Nusantara. E-book tersebut memuat berbagai hasil penelitian bertema warisan budaya Nusantara (wastra), gastronomi dan kesehatan, digital kreasi, hingga pariwisata.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Harry Jogaswara mengatakan bahwa di tengah perubahan zaman, budaya dapat menjadi pijakan penting dalam melahirkan karya kreatif yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memperkuat jati diri bangsa. “BRIN melalui berbagai riset merekam kekayaan pengetahuan, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat Indonesia. Dari khazanah inilah lahir e-book 101 Ide Industri Kreatif sebagai jembatan antara pengetahuan dan peluang,” ujarnya saat menyampaikan closing remarks dalam sesi diskusi BRIN Goes to Industry 4 bertema Pasar Festival Riset Arbastra untuk Ekonomi Kreatif di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (19/5) dilansir laman BRIN.
Menurut Harry, e-book tersebut merupakan hasil riset Peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN yang dirancang untuk membuka ruang pemanfaatan hasil penelitian ke sektor industri kreatif. Buku itu merangkum berbagai gagasan berbasis riset yang dapat menginspirasi pengembangan storytelling, desain, kuliner, suvenir budaya, wisata edukasi, konten digital, hingga produk kreatif lainnya.
BACA JUGA: Kirab Mahkota Binokasih di Bandung, Bupati dan Wabup Sumedang Ikuti Kirab
Ia menegaskan bahwa BRIN ingin mendorong hasil riset agar tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata, melainkan berkembang menjadi inovasi dan peluang ekonomi yang nyata bagi masyarakat. “Melalui e-book ini, BRIN mengajak pelaku industri kreatif, UMKM, komunitas, pemerintah daerah, dan berbagai mitra untuk melihat riset bukan hanya sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber ide, nilai, dan peluang kolaborasi,” jelasnya.
Harry berharap hasil riset di bidang khazanah keagamaan, budaya, dan peradaban dapat hidup lebih luas di tengah masyarakat sebagai inspirasi dalam menciptakan desain, produk, cerita, pengalaman, hingga ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, OR Arbastra BRIN juga memperkenalkan CILCO (The Corpus of Indonesian Language, Literature, and Community), sebuah korpus digital bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN. Harry menekankan bahwa di era digital saat ini, data menjadi sumber daya yang sangat berharga. Namun, kekayaan data bahasa dan sastra Indonesia selama ini dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.
“Data is the new gold. Data menjadi sumber daya yang sangat berharga di era digital. Yang memiliki dan mampu memanfaatkan data akan memiliki peran dan pengaruh yang signifikan,” ungkapnya.
CILCO dirancang untuk menangkap kekayaan dan keragaman bahasa serta budaya Indonesia. Korpus digital tersebut terdiri atas lebih dari tiga juta token data bahasa yang memberikan wawasan mengenai evolusi, penggunaan, dan variasi bahasa Indonesia. Menurutnya, CILCO dapat menjadi sumber daya penting bagi peneliti, ahli bahasa, pendidik, maupun masyarakat yang memiliki perhatian terhadap bahasa dan budaya Indonesia.
“Dengan CILCO, kita berdayakan bahasa dan sastra Indonesia,” katanya.
Peluncuran e-book 101 Ide Industri Kreatif dan CILCO menjadi bagian dari komitmen BRIN dalam memperkuat pemanfaatan hasil riset bagi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan ekosistem industri kreatif nasional berbasis ilmu pengetahuan dan budaya Indonesia.
Sumber: BRIN








