• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Jumat, 17 April 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Hajat Bumi Cikeleng: Merawat Warisan Leluhur, Meneguhkan Komitmen Jaga Alam

Editor
Jumat, 17 April 2026 - 07:04
Hajat Bumi Cikeleng di Kabupaten Kuningan.(Foto: Humas Pemkab Kuningan)

Hajat Bumi Cikeleng di Kabupaten Kuningan.(Foto: Humas Pemkab Kuningan)

Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pemakaman Manangga (Astana Desa Cikeleng), Kecamatan Japara, saat masyarakat menggelar tradisi Hajat Bumi, Kamis (16/4/2026) Di tengah nuansa religius dan budaya yang kental, warga berkumpul membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para leluhur.

Tradisi yang terus dijaga turun-temurun ini bukan sekadar seremoni tahunan. Hajat Bumi menjadi ruang pertemuan antara nilai spiritual, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat. Kebersamaan tampak begitu kuat, mencerminkan semangat gotong royong yang masih terpelihara di tengah perkembangan zaman.

RelatedPosts

Guyub Warga Ngagogo Lauk di Kolam Masjid Al Kamil Pemkab Sumedang

Wali Kota Bogor Hadiri Lebaran Golok, Ingatkan Makna Filosofisnya

Saat Bupati Sumedang Temui Keluarga Pewakaf Masjid Agung Sumedang

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, yang hadir dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa Hajat Bumi merupakan cerminan kearifan lokal yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat.

Menurutnya, tradisi ini mengandung pesan penting tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

“Tradisi ini mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Apa yang kita jaga hari ini akan menentukan kehidupan kita ke depan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan segera melakukan perbaikan pada ruas jalan yang menghubungkan Wano, Cikeleng, hingga Cengal dengan panjang sekitar 4,7 kilometer. Jalur ini merupakan akses vital bagi mobilitas warga serta distribusi hasil pertanian, sehingga diharapkan dapat memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus diiringi dengan kesadaran menjaga lingkungan. Permasalahan sampah menjadi perhatian serius, terutama yang dibuang ke aliran sungai dan saluran air yang berpotensi merusak fasilitas umum.

“Pembangunan tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan kepedulian. Mari kita jaga bersama lingkungan kita agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih lama,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, bantuan material juga diserahkan untuk menunjang perbaikan sarana lingkungan desa, termasuk fasilitas pemakaman. Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong masyarakat dalam membangun dan merawat lingkungannya.

Sementara itu, Kuwu Desa Cikeleng, Rukmana, menjelaskan bahwa Hajat Bumi merupakan bagian dari identitas desa yang terus dijaga keberlangsungannya. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama untuk keberkahan dan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan bahwa berbagai hasil bumi yang ditampilkan dalam prosesi memiliki makna filosofis yang mendalam. Mulai dari simbol persatuan, kemakmuran, hingga ketekunan dalam bekerja, seluruhnya menjadi pengingat nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur.

Dijelaskan Kuwu Rukmana, cau saturuy atau pisang satu tandan melambangkan persatuan dan kebersamaan masyarakat, di mana seluruh unsur, baik pemerintah desa maupun warga, diharapkan dapat berjalan selaras dan harmonis.

Sementara itu, pare sapocong atau padi satu ikat menjadi simbol kebutuhan pokok sekaligus harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat.

Kelapa dimaknai sebagai simbol cita-cita luhur, yang mengandung pesan agar masyarakat memiliki tujuan hidup yang tinggi serta menjunjung kejujuran dalam setiap langkah pembangunan desa.

Adapun beubeutian atau umbi-umbian menggambarkan pentingnya kerja keras dan ketekunan dalam menjalani kehidupan, sebagaimana akar yang menembus tanah demi kelangsungan hidup.

Selain itu, waluh atau labu dimaknai sebagai simbol stabilitas dan keamanan, yang mencerminkan harapan akan kehidupan masyarakat yang tenteram dan damai.

 

Tak kalah penting, lauk cucut menjadi simbol ketahanan dan kemampuan bertahan hidup, sebagai pengingat bahwa masyarakat harus mampu beradaptasi dan tetap kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Menurut Rukmana, seluruh simbol tersebut merupakan nilai-nilai yang perlu diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tradisi Hajat Bumi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi penguat jati diri dan kebersamaan masyarakat desa.

“Kami berharap tradisi ini tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dimaknai dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda,” ujarnya.

Melalui Hajat Bumi, masyarakat Desa Cikeleng tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga memperkuat jati diri, meneguhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta membangun sinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan desa yang maju dan berkelanjutan.

 

Sumber: Humas Pemkab Kuningan/Kuningankab.go.id

Tags: Bupati KuninganDian Rachmat YanuarHajat Bumi Cikeleng

Related Posts

Ngagogo Lauk di Sumedang.(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Guyub Warga Ngagogo Lauk di Kolam Masjid Al Kamil Pemkab Sumedang

Editor
16 April 2026

Kali ini, warga sangat antusias memenuhi Kolam Masjid Al Kamil di Kompleks Pemkab Sumedang karena ada acara Ngagogo Lauk memperingati...

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menghadiri Lebaran Golok di Setu Babakan, Perkampungan Betawi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (12/4/2026).(Foto: Humas Pemkot Bogor)

Wali Kota Bogor Hadiri Lebaran Golok, Ingatkan Makna Filosofisnya

Editor
14 April 2026

SATUJABAR, BOGOR – Budaya Indonesia kaya akan karya benda dan tak benda. Salah satunya adalah golok. Bagai sebagian masyarakat Indonesia,...

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menghadiri Halal Bihalal Paguyuban Rudayan Dewi Aisyah Ahmad Suriahkusumah Sumedang (PRUDAAS) di Gedung Negara, Sabtu (11/04/2026).(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Saat Bupati Sumedang Temui Keluarga Pewakaf Masjid Agung Sumedang

Editor
13 April 2026

SATUJABAR, SUMEDANG – Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menghadiri Halal Bihalal Paguyuban Rudayan Dewi Aisyah Ahmad Suriahkusumah Sumedang (PRUDAAS) di...

Festival Seni Budaya dan Wisata Sayang Heulang.‎(Foto: Ridwan Nur Faozan & Muhammad Sofyan Fauzi/ Diskominfo Kab. Garut)

Kreativitas Pemuda Garut di Festival Seni Budaya Sayang Heulang

Editor
13 April 2026

SATUJABAR, GARUT – Sentuhan tangan para pemuda di Garut Selatan (Garut Selatan Creative) sukses memadukan pesona alam Pantai Sayang Heulang...

Jabar Book Fair 2026.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Bedah Buku ‘Mengenal Bandung Lebih Dekat’ di Jabar Book Fair 2026

Editor
10 April 2026

SATUJABAR, BANDUNG - Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Bandung kembali menghadirkan kegiatan literasi menarik melalui acara bedah buku bertajuk...

Prasasti Damalung

Berabad-abad, Arca Shiva, Prasasti Damalung, Al Qur’an Teuku Umar Kembali Ke Tanah Air

Editor
8 April 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Pemerintah Indonesia kembali memulangkan warisan budaya bersejarah dari luar negeri. Dua artefak penting, yakni Arca Shiva abad...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.