• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Kamis, 23 Juli 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Hajat Bumi Cikeleng: Merawat Warisan Leluhur, Meneguhkan Komitmen Jaga Alam

Editor
Jumat, 17 April 2026 - 07:04
Hajat Bumi Cikeleng di Kabupaten Kuningan.(Foto: Humas Pemkab Kuningan)

Hajat Bumi Cikeleng di Kabupaten Kuningan.(Foto: Humas Pemkab Kuningan)

Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pemakaman Manangga (Astana Desa Cikeleng), Kecamatan Japara, saat masyarakat menggelar tradisi Hajat Bumi, Kamis (16/4/2026) Di tengah nuansa religius dan budaya yang kental, warga berkumpul membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para leluhur.

Tradisi yang terus dijaga turun-temurun ini bukan sekadar seremoni tahunan. Hajat Bumi menjadi ruang pertemuan antara nilai spiritual, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat. Kebersamaan tampak begitu kuat, mencerminkan semangat gotong royong yang masih terpelihara di tengah perkembangan zaman.

RelatedPosts

Perpustakaan Ranggawarsita Lengkapi Literasi Kebudayaan Indonesia

Ibu Kota Majapahit: BRIN Terapkan Penelitian Multidisiplin

Purwoceng, Tanaman Obat Endemik Indonesia Hampir Punah

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, yang hadir dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa Hajat Bumi merupakan cerminan kearifan lokal yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat.

Menurutnya, tradisi ini mengandung pesan penting tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

“Tradisi ini mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Apa yang kita jaga hari ini akan menentukan kehidupan kita ke depan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan segera melakukan perbaikan pada ruas jalan yang menghubungkan Wano, Cikeleng, hingga Cengal dengan panjang sekitar 4,7 kilometer. Jalur ini merupakan akses vital bagi mobilitas warga serta distribusi hasil pertanian, sehingga diharapkan dapat memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus diiringi dengan kesadaran menjaga lingkungan. Permasalahan sampah menjadi perhatian serius, terutama yang dibuang ke aliran sungai dan saluran air yang berpotensi merusak fasilitas umum.

“Pembangunan tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan kepedulian. Mari kita jaga bersama lingkungan kita agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih lama,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, bantuan material juga diserahkan untuk menunjang perbaikan sarana lingkungan desa, termasuk fasilitas pemakaman. Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong masyarakat dalam membangun dan merawat lingkungannya.

Sementara itu, Kuwu Desa Cikeleng, Rukmana, menjelaskan bahwa Hajat Bumi merupakan bagian dari identitas desa yang terus dijaga keberlangsungannya. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama untuk keberkahan dan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan bahwa berbagai hasil bumi yang ditampilkan dalam prosesi memiliki makna filosofis yang mendalam. Mulai dari simbol persatuan, kemakmuran, hingga ketekunan dalam bekerja, seluruhnya menjadi pengingat nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur.

Dijelaskan Kuwu Rukmana, cau saturuy atau pisang satu tandan melambangkan persatuan dan kebersamaan masyarakat, di mana seluruh unsur, baik pemerintah desa maupun warga, diharapkan dapat berjalan selaras dan harmonis.

Sementara itu, pare sapocong atau padi satu ikat menjadi simbol kebutuhan pokok sekaligus harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat.

Kelapa dimaknai sebagai simbol cita-cita luhur, yang mengandung pesan agar masyarakat memiliki tujuan hidup yang tinggi serta menjunjung kejujuran dalam setiap langkah pembangunan desa.

Adapun beubeutian atau umbi-umbian menggambarkan pentingnya kerja keras dan ketekunan dalam menjalani kehidupan, sebagaimana akar yang menembus tanah demi kelangsungan hidup.

Selain itu, waluh atau labu dimaknai sebagai simbol stabilitas dan keamanan, yang mencerminkan harapan akan kehidupan masyarakat yang tenteram dan damai.

 

Tak kalah penting, lauk cucut menjadi simbol ketahanan dan kemampuan bertahan hidup, sebagai pengingat bahwa masyarakat harus mampu beradaptasi dan tetap kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Menurut Rukmana, seluruh simbol tersebut merupakan nilai-nilai yang perlu diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tradisi Hajat Bumi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi penguat jati diri dan kebersamaan masyarakat desa.

“Kami berharap tradisi ini tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dimaknai dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda,” ujarnya.

Melalui Hajat Bumi, masyarakat Desa Cikeleng tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga memperkuat jati diri, meneguhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta membangun sinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan desa yang maju dan berkelanjutan.

 

Sumber: Humas Pemkab Kuningan/Kuningankab.go.id

Tags: Bupati KuninganDian Rachmat YanuarHajat Bumi Cikeleng

Related Posts

Peresmian Perpustakaan Ranggawarsita.(Foto: Humas Kemenbud)

Perpustakaan Ranggawarsita Lengkapi Literasi Kebudayaan Indonesia

Editor
22 Juli 2026

Perpustakaan Ranggawarsita berawal dari inisiatif untuk menghimpun kembali berbagai publikasi kebudayaan yang selama puluhan tahun diterbitkan pemerintah namun tersebar. SATUJABAR,...

Peninggalan sejarah di Ibu Kota Majapahit.(IMAGE: BRIN)

Ibu Kota Majapahit: BRIN Terapkan Penelitian Multidisiplin

Editor
17 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Penelitian mengenai ibu kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, perlu dilakukan melalui pendekatan multidisiplin...

Purwoceng.(Image: Halodoc via BRIN)

Purwoceng, Tanaman Obat Endemik Indonesia Hampir Punah

Editor
16 Juli 2026

Purwoceng merupakan spesies endemik Indonesia yang secara alami hanya tumbuh di kawasan dataran tinggi, terutama di Dieng, pada ketinggian sekitar...

NV Bima.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

N.V. BIMA Pabrik Panci Legendaris, Tembus Pasar Dunia

Editor
16 Juli 2026

N.V. BIMA adalah jejak manufaktur dunia yang terlihat di Kota Bandung. Kisahnya mewarnai jejak peradaban manusia yang terus beradaptasi dan...

Museum Musik rencananya akan menempati aset Jiwasraya di Jalan Asia-Afrika Bandung.(Foto: Dok. Jiwasraya)

Museum Musik di Bandung, Museum Film di Jakarta, Museum Fotografi di Semarang

Editor
15 Juli 2026

Museum Musik di Bandung, Museum Film di Jakarta, Museum Fotografi di Semarang akan menggunakan aset Jasa Raharja dan Jiwasraya dibawah...

Kereta api melintasi jembatan.(FOTO: Humas KAI). penumpang KAI 2024,ka parahyangan.layanan baru KAI, KA Cut Meutia.KA Pasundan

Rute Terpanjang Kereta Api, Sebagian Tembus 1.000 KM

Editor
14 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA – Rute terpanjang kereta api di Indonesian tercatat beberapa di antaranya ada yang menembus 1.000 KM, menurut data...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Pesona Jawa Barat