Purwoceng merupakan spesies endemik Indonesia yang secara alami hanya tumbuh di kawasan dataran tinggi, terutama di Dieng, pada ketinggian sekitar 1.800–3.000 meter di atas permukaan laut.
SATUJABAR, CIBINONG – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pemuliaan purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.), tanaman obat endemik Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus menghadapi ancaman kepunahan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Otih Rostiana, mengatakan purwoceng merupakan spesies endemik Indonesia yang secara alami hanya tumbuh di kawasan dataran tinggi, terutama di Dieng, pada ketinggian sekitar 1.800–3.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman yang dikenal sebagai ginseng of Java tersebut telah lama dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional karena mengandung berbagai senyawa bioaktif, di antaranya sitosterol, stigmasterol, saponin, kumarin, psoralen, dan vitamin E yang berkontribusi terhadap peningkatan vitalitas, kesehatan saluran kemih, serta sirkulasi darah.
Namun, keberadaan purwoceng menghadapi tekanan yang semakin besar. Alih fungsi lahan, eksploitasi tinggi, serta persaingan dengan komoditas pertanian lain menyebabkan populasi alaminya terus menurun hingga masuk kategori Endangered dalam Daftar Merah IUCN. Kondisi tersebut semakin diperberat oleh karakter pemanfaatan tanaman, karena seluruh bagian purwoceng, mulai dari akar hingga daun, digunakan sebagai bahan baku obat tradisional sehingga proses panen dilakukan secara menyeluruh dan berdampak langsung terhadap keberlangsungan populasi di alam.
Otih menjelaskan penelitian pemuliaan telah dilakukan melalui seleksi sumber daya genetik, pemurnian galur, hingga menghasilkan varietas unggul yang dilepas pada 2013. Varietas tersebut memiliki karakteristik tulang daun berwarna merah keunguan, performa genetik yang lebih baik, peningkatan kandungan sitosterol, serta kemampuan beradaptasi pada lokasi budi daya yang lebih rendah dibandingkan habitat alaminya.
“Kami telah menghasilkan varietas unggul yang memiliki karakter genetik lebih baik dan menunjukkan peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan adaptasi yang lebih luas dibandingkan populasi alaminya,” jelas Otih, dalam Webinar EstCrops_Corner #28, Selasa (14/7) seperti dikabarkan Humas BRIN.
Meski demikian, keberhasilan pemuliaan belum sepenuhnya menjawab persoalan utama pengembangan purwoceng. Tantangan berikutnya adalah penyediaan benih dalam jumlah yang memadai.
Menurut Otih, perbanyakan melalui biji masih menghadapi kendala akibat rendahnya viabilitas benih. Sementara, teknologi kultur jaringan hingga kini belum mampu menghasilkan tingkat keberhasilan optimal pada tahap multiplikasi tunas, pembentukan akar, maupun proses aklimatisasi.
“Kondisi tersebut membuka ruang bagi penelitian lanjutan guna menghasilkan teknologi perbanyakan tanaman yang lebih efisien dan siap diterapkan secara luas,” tambahnya.
Selain melalui seleksi varietas, BRIN juga mengembangkan pendekatan inovatif melalui induksi keragaman genetik menggunakan mutasi buatan untuk memperoleh tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan. Pendekatan ini dinilai penting mengingat sebagian plasma nutfah hasil penelitian terdahulu tidak lagi dapat ditelusuri keberadaannya, karena purwoceng selama bertahun-tahun belum menjadi komoditas prioritas pengembangan.
“Oleh sebab itu, penguatan konservasi sumber daya genetik menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan riset maupun pemanfaatannya di masa depan,” tegas Otih.
Dalam perspektif industri, ia menekankan keberhasilan pengembangan purwoceng tidak cukup hanya menghasilkan varietas unggul. Standardisasi mutu bahan baku menjadi aspek yang sama pentingnya agar produk herbal yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten. Menurutnya, mutu purwoceng dipengaruhi oleh kepastian identitas tanaman, teknik budi daya, waktu panen, hingga penanganan pascapanen.
“Penentuan umur panen sekitar enam bulan atau ketika tanaman memasuki fase generatif merupakan waktu yang paling tepat karena kandungan metabolit sekundernya berada pada kondisi optimal,” ujar Otih.
Ia menambahkan standardisasi tersebut diperlukan untuk menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk herbal secara berkelanjutan.
Otih juga mengingatkan risiko pemalsuan bahan baku akibat tingginya permintaan pasar. Beberapa tanaman lain seperti Valeriana officinalis, kolesom, maupun som jawa memiliki bentuk akar yang menyerupai purwoceng. Namun, kandungan senyawa aktif dan manfaat farmakologinya berbeda.
Karena itu, identifikasi varietas dan kepastian jenis tanaman harus menjadi bagian integral dalam sistem pengendalian mutu bahan baku agar produk herbal tetap memenuhi standar keamanan dan efektivitas.
Sebagai strategi jangka panjang, BRIN mendorong penguatan konservasi baik secara in situ maupun ex situ, pengembangan teknologi kultur jaringan dan embriogenesis somatik untuk mempercepat penyediaan bibit, inovasi pemuliaan yang menghasilkan varietas adaptif terhadap agroekologi baru, serta penguatan kemitraan antara petani dan industri agar rantai pasok bahan baku dapat terbangun secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk memastikan bahwa konservasi tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari pembangunan ekonomi berbasis biodiversitas.
Otih menggarisbawahi keberhasilan pengembangan purwoceng hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari peneliti, petani, industri, hingga pemerintah daerah.
“Purwoceng masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Karena itu, budi daya, konservasi, dan standarisasi bahan baku harus terus diperkuat agar tanaman ini tetap lestari, memberikan manfaat ekonomi bagi petani, serta mampu memenuhi kebutuhan industri dengan mutu yang terjamin,” pungkas Otih.







