SATUJABAR, BANDUNG–Kasus dugaan keracunan massal usai menyantap makanan di Restoran Korea 88 Seoul, Kota Bandung, Jawa Barat, dalam penyelidikan polisi. Seletelah turun ke lokasi restoran dan meminta keterangan pengelola dan para korban, polisi telah membawa sampel makanan untuk diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat.
“Kami sudah sudah mengambil sampel makanan dari restoran, dibawa untuk diuji dan teliti di Labkesda Jawa Barat. Uji laborarium terhadap sampel makanan, untuk mengetahui, apakah bahan-bahan, atau mungkin metode-metode lainnya yang dilakukan pengelola restoran,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (10/10/2026).
Anton mengatakan, pihaknya saat ini masih menunggu hasil dari pemeriksaan laboratorium, untuk memastikan penyebab dugaan keracunan yang menelan banyak korban. Sebelumnya, Tim Satreskrim sudah mendatangi lokasi Restoran Korea 88 Seoul, 23 Paskal, Kota Bandung, meminta keterangan pengelola, pegawai, serta para korban yang mengalami keracunan.
“Kami juga melakukan koordinasi dengan pihak rumah sakit, untuk mengetahui gejala keracunan yang dialami para korban, dan kemungkinan penyebabnya,” kata Anton.
Anton menegaskan, belum ada korban datang dan membuat laporan resmi. Pihaknya berinisiatif melakukan proses penyelidikan setelah adanya informasi peristiwa dugaan keracunan massal, termasuk beredar di media sosial.
Anton mengungkapkan, menyoroti hasil temuan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung di lokasi restoran. Apabila ditemukan pelanggaran terkait perizinan, sanitasi, atau bisa saja mengarah tindak pidana, akan ditindaklanjuti.
“Iya, jadi semua aspek yang ada di restoran, kami cek. Terkait perizinan, sanitasi, terkait mungkin hal-hal lain, atau bisa saja mengarah dugaan tindak pidana. Jika memang menyalahi ketentuan, kami akan lakukan tindakan lebih lanjut,” ungkap Anton.
Manajemen Restoran Korea 88 Seoul 23 Paskal, langsung menghentikan sementara operasional, pada 07 hingga 08 Oktober 2026. Langkah tersebut sebagai bentuk tanggungjawab dan kehati-hatian untuk melakukan pembersihan dan sanitasi secara menyeluruh dan evaluasi proses dan standar operasional prosedur (SOP).
Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Sony Adam, membenarkan, adanya laporan dugaan keracunan massal yang ramai di media sosial, seusai menyantap makanan di Restoran Korea 88 Seoul.23 Paskal. Namun, pihaknya belum bisa merinci terkait jumlah pasti korban, karena masih dalam proses investigasi.
“Iya benar, kami sudah menerima laporannya (keracunan massal). Kami langsung turun, saat ini masih proses investigasi,” ujar Sony, dalam keterangannya, Rabu (07/10/2026).
Dari temuan Dinkes Kota Bandung, menyoroti aspek kebersihan dan sanitasi di restoran yang perlu dibenahi. Pemeriksaan laboratorium sampel makanan masih berlangsung, memastikan penyebabnya.
Jumlah korban keracunan disebutkan mencapai 284 orang. Para korban yang mengeluhkan gejala keracunan makananan tersebut, dalam tiga hari.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari, mengatakan, pemeriksaan awal menemukan sejumlah masalah terkait higiene, atau kebersihan makanan dan sanitasi di restoran sebagai lokasi kejadian.
“Secara umum dari pemeriksaan awal, memang ada beberapa hal terkait higiene, dan sanitasi yang perlu diperbaiki pihak restoran,” ujar Dewi, dalam keterangannya.
Dewi mengungkapkan, Dinkes Kota Bandung menemukan bahan pangan belum dipisahkan dari persediaan bahan kimia berbahaya, seperti sabun pencuci piring dan cairan pembersih. Selain itu, area dapur restoran terbatas, harus ditata ulang.
Penerapan SOP perputaran bahan baku berbasis tanggal kedatangan dan kedaluwarsa juga belum berjalan jelas. Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki, haru mengenakan pelindung dirinya, masker, kemudian pekerja wanita tidak berkerudung, atau laki-laki, harus menggunakan hair net.
Dinkes Kota Bandung telah memberikan rekomendasi pembenahan kepada manajemen restoran. Investigasi mencakup penataan tata letak ruang usaha, kelayakan peralatan masak, hingga pemisahan stok bahan baku mencegah kejadian serupa.







