BANDUNG – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengajak Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk terus menjaga semangat moderasi beragama sekaligus menjadi mitra kritis pemerintah dalam mengawal pembangunan Kota Bandung.
Pesan tersebut disampaikan Farhan saat memberikan keynote speech pada Pelantikan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Bandung Periode 2026–2027 bertema “Dari Integritas Menuju Keberdampakan: Meneguhkan Gerakan IMM Kota Bandung yang Proaktif Berkemajuan” di Pendopo Kota Bandung, Kamis 24 September 2026 dilansir laman Pemkot Bandung.
Menurut Farhan, IMM memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai Islam moderat yang relevan dengan kondisi Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Ia menilai keberagaman merupakan kekuatan yang harus terus dijaga dan dirawat bersama.
“Indonesia sudah terlalu beragam untuk kemudian diseragamkan. Saya sejak kecil sampai hari ini masih berkeyakinan bahwa keberagaman jauh lebih bernilai daripada keseragaman,” ujar Farhan.
Ia berharap, IMM mampu menghadirkan berbagai gagasan yang dapat diterima seluruh elemen bangsa serta berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan administrasi kependudukan.
Farhan mengaku tidak khawatir terhadap masuknya paham radikal ke lingkungan IMM karena Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai organisasi yang konsisten menjaga moderasi beragama dan memiliki sistem pendidikan yang kuat.
“Saya tahu betul bagaimana Muhammadiyah memastikan moderasi beragama di Indonesia sangat terjaga. Muhammadiyah adalah organisasi Islam dengan manajemen lembaga pendidikan terbaik di Indonesia,” tuturnya.
Selain moderasi, Farhan juga menaruh harapan besar agar IMM tetap menjadi kelompok mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. Menurutnya, kritik yang konstruktif merupakan bagian penting dalam tata kelola pemerintahan yang sehat.
Ia mengibaratkan pemerintah seperti pengemudi kendaraan besar yang memiliki banyak titik buta atau blind spot. Karena itu, pemerintah membutuhkan masukan dari berbagai pihak agar tidak salah mengambil kebijakan.
“Jangan berhenti kritis. Karena kalau kami nyaman, maka kami akan lupa. Kami punya blind spot. Teman-teman harus menjadi mata kanan untuk melihat mana blind spot yang berbahaya, yang mungkin kebijakan kami bisa mencederai keselamatan dan kesejahteraan warga Bandung,” ujarnya.
Farhan mengatakan, berbagai tantangan yang dihadapi Kota Bandung tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan masyarakat, komunitas, akademisi, dan organisasi kemahasiswaan untuk menghasilkan solusi yang lebih komprehensif.
“Berbagai tantangan yang dimiliki Kota Bandung tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Maka dibutuhkan kolaborasi,” katanya.
Ia juga membuka ruang dialog bagi mahasiswa untuk berdiskusi secara langsung dengan perangkat daerah. Menurutnya, forum-forum diskusi seperti itu penting untuk memperkaya perspektif pemerintah sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa.
Ia pun mengingatkan para mahasiswa agar tetap menjaga idealisme selama menjalani proses pendidikan maupun saat memasuki dunia kerja dan kepemimpinan.
“Mumpung kalian masih mahasiswa, pertahankan idealisme. Seiring perjalanan waktu idealisme itu akan menipis, tapi jangan sampai habis,” pesannya.
Farhan menyebut, pembangunan Kota Bandung merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Karena itu, ia mengajak IMM untuk terus berkontribusi dalam menghadirkan perubahan positif bagi kota.
“Bandung adalah ikhtiar bersama. Bandung bukanlah milik seorang wali kota. Mari kita bersama-sama menjaga Kota Bandung yang unggul, terbuka, amanah, maju, dan agamis,” tuturnya.







