JAKARTA – Keraton dan kerajaan Nusantara memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia. Potensi tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam Sarasehan Nasional Keraton Nusantara bertema “Mewujudkan Jakarta Sebagai Etalase Keindahan Budaya Nusantara, Menyongsong 5 Abad Jakarta” yang diselenggarakan di Hotel Arya Duta Menteng, Jakarta.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa keraton dan kerajaan Nusantara merupakan bagian penting dari modal budaya bangsa yang perlu dijaga dan dikembangkan. Menurutnya, keberadaan keraton tidak hanya berkaitan dengan peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi ruang persemaian beragam ekspresi budaya yang diwariskan lintas generasi.
“Keraton dan kerajaan kesultanan di Nusantara ini merupakan modal budaya atau cultural capital kita yang perlu kita jaga,” ungkap Menteri Kebudayaan dilansir laman Kemenbud.
Menbud menjelaskan, kekayaan budaya Indonesia tercermin dalam keberagaman etnis, bahasa, tradisi, adat istiadat, seni, dan berbagai ekspresi budaya yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Dalam konteks tersebut, keraton, istana, dan lembaga adat memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai-nilai budaya sekaligus penghubung antara warisan masa lalu dan kehidupan masyarakat masa kini.
Menteri Kebudayaan juga menekankan pentingnya mengembangkan keraton dan berbagai ruang budaya agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat. Melalui upaya revitalisasi, pengembangan fasilitas, serta penguatan pemanfaatan aset budaya, warisan budaya diharapkan tidak hanya terpelihara, tetapi juga mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi.
“Kita harapkan ini bisa menjadi semacam upaya untuk mendorong kemajuan kebudayaan dan menjadikan museum, taman budaya, keraton, istana, dan semuanya ini sebagai enklaf budaya atau kantong budaya,” kata Menteri Fadli Zon.
Menurut Menteri Fadli, penguatan fungsi ruang budaya dapat membuka peluang bagi tumbuhnya ekonomi budaya dan industri budaya kreatif. Kolaborasi dengan sektor ekonomi kreatif, misalnya melalui pengembangan cendera mata, produk kreatif, serta kuliner yang bersumber dari tradisi keraton, dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan kekayaan budaya yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, juga menekankan pentingnya menghubungkan kekayaan budaya dengan pengembangan produk ekonomi kreatif. Menurutnya, cerita dan nilai yang terkandung dalam pusaka serta warisan budaya Nusantara dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif, mulai dari cendera mata hingga film, sehingga memiliki nilai tambah ekonomi.
“Setelah aset budaya menjadi aset ekonomi, pengelolaan dan penjualannya bisa melalui wadah koperasi. Jadi, ini sebuah ekosistem tempat para stakeholder yang mungkin selama ini puzzle-nya tercerai-berai, hari ini insyaallah mulai tergabung menjadi satu,” ungkap Menteri Ekonomi Kreatif.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) sekaligus Karaeng Turikale VIII Maros, Brigjen Pol. (Purn.) A.A. Mapparessa, menyampaikan pentingnya dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan keraton dan lembaga adat di Indonesia.
Mapparessa juga menyampaikan sejumlah aspirasi FSKN kepada pemerintah, di antaranya penguatan pelindungan budaya keraton Nusantara, penyusunan ensiklopedia keraton Nusantara, serta digitalisasi aset dan dokumentasi sejarah keraton. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat pendataan, memperjelas informasi mengenai sejarah dan identitas keraton, serta mendukung penyusunan kebijakan kebudayaan yang lebih terarah.
Sarasehan Nasional Keraton Nusantara diharapkan menjadi ruang silaturahmi dan pertukaran gagasan antara pemerintah, pemangku adat, raja, sultan, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian kebudayaan Nusantara. Sejalan dengan tema lima abad Jakarta, pembahasan mengenai keraton dan kerajaan Nusantara juga membuka peluang untuk memperkuat peran Jakarta sebagai ruang pertemuan, pengenalan, dan apresiasi terhadap keragaman budaya Indonesia.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Koperasi, Ferry Juliantono; serta para raja, sultan, datu, penglingsir, pangeran, ratu, permaisuri, dan pemangku adat dari berbagai wilayah Nusantara. Menteri Kebudayaan turut didampingi Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi.
Melalui sinergi pemerintah dan komunitas keraton serta lembaga adat, penguatan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya diharapkan dapat terus berjalan. Dengan demikian, keraton dan kerajaan Nusantara tidak hanya menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa, tetapi juga tetap hidup sebagai bagian dari identitas, pengetahuan, dan kehidupan kebudayaan masyarakat Indonesia.







