JAKARTA – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong industri pengolahan susu nasional untuk terus meningkatkan diversifikasi produk, memperkuat penggunaan bahan baku lokal, serta mengoptimalkan kapasitas produksi. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, dan memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.
“Kami hari ini berkunjung ke pabrik Cimory. Awalnya kita mengenal Cimory sebagai produsen yoghurt, tetapi sekarang sudah berkembang dengan berbagai diversifikasi produk. Tadi kami tantang Cimory untuk memproduksi lebih banyak produk turunan susu, seperti es krim dan keju khas Indonesia,” kata Menperin saat melakukan kunjungan kerja ke PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory) di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10).
Menperin menilai, pengembangan produk olahan susu yang disesuaikan dengan karakteristik dan selera masyarakat Indonesia memiliki peluang pasar yang sangat besar. Salah satunya melalui inovasi produk keju dengan cita rasa khas Nusantara.
“Keju yang sesuai dengan selera orang Indonesia itu belum banyak dikembangkan. Kalau bisa dibuat keju ala Indonesia, mungkin akan lebih diminati dan pasarnya sangat terbuka. Begitu juga dengan es krim dan berbagai produk turunan susu lainnya,” ungkap Sarmuji.
Menperin bahkan memberikan tantangan kepada Cimory agar inovasi produk tersebut dapat direalisasikan dalam waktu satu tahun ke depan.
Selain diversifikasi produk, Sarmuji menyoroti pentingnya peningkatan utilisasi industri nasional yang dinilainya masih belum optimal. Menurutnya, tingkat utilisasi industri yang mendekati 70 persen masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.
“Kalau kita bisa memaksimalkan utilisasi industri sampai 80–85 persen dengan kapasitas yang sudah ada, kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) tentu bisa meningkat lebih signifikan,” jelasnya.
Namun, peningkatan utilisasi industri harus didukung ketersediaan bahan baku yang mencukupi dengan harga kompetitif. Oleh karena itu, Kemenperin berkomitmen menjaga kelancaran pasokan bahan baku, termasuk memberikan kemudahan impor bagi kebutuhan produksi yang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri.
“Kalau bahan bakunya tersendat, tidak tersedia dalam jumlah cukup dan harga yang kompetitif, tentu utilisasi industri akan rendah. Kami akan memastikan kebutuhan bahan baku industri tercukupi dengan baik. Sepanjang impor untuk kepentingan bahan baku, kita akan beri relaksasi atau kelonggaran,” tegas Menperin.
Meski demikian, Sarmuji menekankan bahwa bahan baku yang telah tersedia dan mampu diproduksi di dalam negeri harus menjadi prioritas utama industri nasional. “Kalau bahan bakunya sudah tersedia dan bisa diproduksi di Indonesia, tentu kita utamakan produk dalam negeri,” ujarnya.
Perkuat Industri Hulu dan Peternak Lokal
Terkait ketergantungan terhadap impor susu, Menperin menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kementerian untuk memperkuat sektor peternakan sapi perah nasional.
Menurutnya, pengembangan industri susu tidak cukup hanya dilakukan pada sektor pengolahan, tetapi harus diikuti peningkatan populasi sapi perah, produktivitas peternak, serta kualitas susu segar dalam negeri.
“Kita berharap susu bisa diproduksi semaksimal mungkin di dalam negeri. Kalau bisa, yang diimpor itu sapinya, kemudian dipelihara oleh peternak Indonesia. Peternaknya dilatih dan diedukasi agar menghasilkan susu yang banyak dan berkualitas. Itu akan lebih baik,” tutur Sarmuji.
Berdasarkan data Kemenperin, kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional pada tahun 2025 mencapai sekitar 4,95 juta ton setara susu segar, dengan sekitar 80 persen kebutuhan masih dipenuhi melalui impor.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Kemenperin terus memperkuat kemitraan antara industri pengolahan susu dengan koperasi dan peternak lokal, termasuk melalui dukungan teknologi pendinginan, digitalisasi tempat penampungan susu, serta program restrukturisasi mesin dan peralatan industri.
Hingga tahun 2026, digitalisasi telah diterapkan pada 96 tempat penampungan susu di sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur, yang melibatkan lebih dari 12.000 peternak sapi perah.
Menperin turut mengapresiasi kontribusi Cimory dalam menyerap susu segar dari peternak lokal. Sepanjang tahun 2025, Cimory bermitra dengan 18.458 peternak sapi perah dan menyerap sekitar 26,42 juta liter susu segar dalam negeri.
Cimory Siap Kembangkan Inovasi Produk
Direktur Manufacturing PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, Pamungkas Bayu Triprasetyo, menyambut positif tantangan Menperin untuk memperluas diversifikasi produk olahan susu.
Menurutnya, inovasi merupakan bagian penting dari strategi pengembangan bisnis Cimory, sehingga perusahaan akan mengkaji peluang produksi berbagai produk turunan susu yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
“Cimory telah melakukan banyak inovasi dan tentunya tantangan untuk mengembangkan produk baru akan kami jalankan. Kami tidak akan bergerak hanya pada produk susu cair, tetapi juga akan meninjau berbagai produk turunan susu lainnya yang berpotensi dikembangkan di Indonesia,” ujar Pamungkas.
Terkait penggunaan bahan baku lokal, Pamungkas menjelaskan bahwa saat ini sekitar 20–30 persen kebutuhan bahan baku susu Cimory dipenuhi dari susu segar dalam negeri, yang dipasok peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur.
“Kami menyerap sekitar 20–30 persen dari total kebutuhan susu. Penyerapan ini sudah cukup maksimal karena pasokan susu segar di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan lainnya, kami masih menggunakan susu bubuk impor,” jelasnya.
Pamungkas menambahkan, peningkatan produksi susu segar nasional menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan industri pengolahan susu.
Industri Makanan dan Minuman Tumbuh Positif
Sementara itu, Menperin mengungkapkan bahwa industri makanan dan minuman tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan manufaktur nasional. Pada semester I tahun 2026, subsektor ini tumbuh sebesar 6,77 persen dan memberikan kontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.
Dari sisi investasi, industri makanan dan minuman mencatat realisasi sebesar Rp47,74 triliun pada semester I tahun 2026, terdiri atas penanaman modal asing (PMA) Rp19,46 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp28,28 triliun.
Menperin juga mengapresiasi keberhasilan Cimory meraih penghargaan Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) 2026 sebagai Industri Minuman Halal Terbaik I subkategori Industri Besar, serta kontribusinya dalam menyerap lulusan pendidikan vokasi binaan Kemenperin.
“Kita ingin industri pengolahan susu nasional semakin kuat, inovatif, dan mampu meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri. Dengan kolaborasi pemerintah, industri, dan peternak, kita berharap kemandirian industri susu nasional dapat terus ditingkatkan,” pungkas Sarmuji.
Dalam kunjungan ke Cimory, Menperin berdialog langsung dengan alumni SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor serta peserta magang dari Politeknik AKA Bogor, yang merupakan unit pendidikan vokasi binaan Kemenperin. Menperin menanyakan pengalaman mereka selama bekerja dan magang di Cimory. Menperin juga menegaskan bahwa kolaborasi antara pendidikan vokasi dan industri menjadi kunci untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan siap pakai, serta mengapresiasi perusahaan yang membuka adanya ruang belajar.







