SATUJABAR, BOGOR–Bumbu kacang olahan pihak ketiga diduga menjadi penyebab keracunan massal menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keracunan massal dialami ratusan siswa dari dua Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN), 13 siswa masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Dugaan sementara bumbu kacang olahan pihak ketiga sebagai penyebab keracunan massal menu Makan Bergizi Gratis (MBG), di Kabupaten Bogor, berdasarkan hasil investigasi awal Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor. Penggunaan bumbu kacang olahan pihak ketiga dinilai menyalahi prosedur pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dramaga 4, Kabupaten Bogor.
Keracunan massal menu MBG dialami ratusan siswa penerima manfaat di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 dan SMPN 2 Dramaga, Kabupaten Bogor. Sebanyak 40 siswa telah menjalani perawatan medis dan observasi di tiga fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Cangkurawok, Rumah Sakit Medika, dan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi.
“Berdasarkan investigasi awal, dugaan sementara mengarah pada penggunaan bumbu kacang olahan. Diolah oleh pihak ketiga sebelum digunakan oleh SPPG Bogor Dramaga,” ujar Kepala KPPG Bogor, Haidir, dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Haidir menegaskan, praktik olahan makanan melibatkan pihak ketiga tersebut, tidak sesuai dengan SOP (standar operasional prosedur) yang seharusnya dijalankan SPPG, atau dapur MBG. Meski demikian, temuan tersebut masih berupa dugaan sementara.
Sebagai tindak lanjut, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menghentikan sementara operasional SPPG Dramaga 4, terhitung mulai, Rabu (28/10/2026), hingga waktu yang belum ditentukan.
“Sebagai tindak lanjut, BGN telah mengambil tindakan tegas, berupa penghentian operasional SPPG. Operasional dihentikan, mulai hari ini (Rabu), hingga waktu yang belum ditentukan,” tegas Haidir.
BGN juga menyatakan akan memberikan sanksi tegas kepada SPPG, yang terbukti menjalankan operasional tidak sesuai dengan SOP. Sanksi diberikan sebagai komitmen BGN terus meningkatkan tatakelola dan disiplin operasional SPPG.
Di tengah proses penyelidikan terkait penyebab keracunan, KPPG Bogor memprioritaskan penanganan siswa terdampak. Berdasarkan data tercatat, dari sebanyak 40 siswa telah menjalani observasi, hingga Rabu (28/10/2026), 13 siswa masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan puskesmas dan rumah sakit.
Dalam penanganan siswa terdampak, KPPG Bogor bersama Tim Asistensi dan Koordinator Wilayah Kabupaten Bogor, telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, serta instansi terkait. BGN terus mengevaluasi pelaksanaan MBG, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan makanan, penyimpanan, hingga proses distribusi.







