• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Kamis, 22 Januari 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Kelompok Swadaya Masyarakat Motekar Mekar Kelola Sampah Terpadu

Editor
Minggu, 16 Maret 2025 - 09:34
Pengelolaan sampah jadi pupuk di Garut.

Pengelolaan sampah jadi pupuk di Garut.(Foto: Humas Pemkab Garut)

BANDUNG – Demi menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Motekar Mekar yang berada di Desa Mekarjaya, Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, telah mengimplementasikan sistem pengelolaan sampah terpadu melalui Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST). Kegiatan ini bertujuan untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kegiatan pengelolaan sampah ini mendapat apresiasi dari Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Garut, Agus Dinar, yang melakukan kunjungan pada Kamis (23/3/2025). Didampingi oleh pihak Kecamatan Tarogong Kaler, Agus Dinar meninjau proses pengelolaan sampah di Desa Mekarjaya dan mengapresiasi inisiatif swadaya masyarakat yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Dede, Koordinator KSM Motekar Mekar, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah dilakukan dengan mengumpulkan sampah dari warga di empat RW di Desa Mekarjaya melalui koordinasi dengan masing-masing RW. Setiap hari, sampah diangkut menggunakan mobil pengangkut desa dan motor bak dari kecamatan. Sampah dipilah berdasarkan kategori, dengan sampah rongsokan langsung dijual, sementara sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan bebek.

“Sampah tak terpakai kami bakar, meskipun kami akui ini masih menjadi tantangan terkait dampak pencemaran,” ujar Dede dikutip situs Pemkab Garut.

Selain itu, TPST Motekar juga mengolah plastik bekas menjadi paving block dan memproduksi pupuk organik. Produksi pupuk organik mencapai 60-70 karung per bulan yang dijual seharga Rp10.000 per karung. Namun, produksi paving block masih terbatas karena keterbatasan bahan baku.

Meskipun memberikan dampak positif, program ini masih menghadapi sejumlah kendala operasional. Keterbatasan dana dan tenaga kerja menjadi tantangan utama, ditambah lagi dengan biaya bahan bakar yang mencapai Rp1 juta per bulan. Untuk itu, KSM Motekar mengusulkan agar program ini dimasukkan dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa (musrenbangdes) dan mencari dukungan dari sponsor.

Dede juga menyampaikan perlunya edukasi lebih lanjut kepada masyarakat mengenai pemilahan sampah. “Jika produksi paving block bisa ditingkatkan dan dipasarkan dalam jumlah besar, serta kolam ikan dikelola secara profesional, program ini berpotensi menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat,” jelasnya.

Camat Tarogong Kaler, Rachmat Alamsyah, menyatakan bahwa TPST Motekar Mekar adalah contoh inisiatif swadaya masyarakat yang mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah kecamatan dan desa. “Kami berharap pengelolaan sampah ini terus berkembang dan menjadi percontohan bagi desa lainnya di Kabupaten Garut,” ujar Rachmat.

Tags: garutmotekarsampah

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.