SATUJABAR, YOGYAKARTA – Rangkaian program edukasi lingkungan berbasis pengalaman langsung (experiential learning) Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Edisi 3 bertajuk “Java Overtrip” yang diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) resmi berlanjut di Yogyakarta, Minggu (9/8/2026). Para peserta dari kalangan generasi muda kini diajak mendalami langsung praktik nyata transisi energi, konservasi keanekaragaman hayati, inovasi ekonomi sirkular, hingga memperkuat nalar kritis berbasis data melalui dialog bersama pegiat lingkungan.
Ketua Kelompok Kerja Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, Romi Setiawan, menjelaskan bahwa desain program KELANA ini sengaja dirancang agar jauh dari kesan teoretis, melainkan mendekatkan peserta secara langsung dengan objek pembelajarannya di lapangan.
“Sesuai arahan Pak Menteri, KELANA ini disetting untuk menjadi program belajar yang tidak hanya bernuansa seminar; kita ingin mendekatkan langsung para peserta KELANA ini dengan objek pembelajarannya. Selain itu, pesan dari Pak Wamen, para peserta KELANA ini diharapkan mampu mendesiminasikan ilmu pembelajaran yang sudah mereka dapatkan ke lingkungan sekitar,” tegas Romi Setiawan.
Dalam lawatannya, 13 pelajar sekolah menengah atas ini mengeksplorasi sinergi lintas sektor antara industri strategis, lembaga pemasyarakatan, pemerintah tingkat kalurahan, hingga lembaga swadaya masyarakat dalam merespons tantangan krisis ekologi perkotaan dan regional.
Praktik Pengelolaan Lingkungan Terpadu di PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu
Destinasi pertama kunjungan lapangan membawa para peserta meninjau langsung operasional PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu. Di fasilitas vital distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) ini, para peserta mempelajari bagaimana standar tinggi pengelolaan lingkungan dan efisiensi energi diterapkan secara ketat dalam rantai pasok energi nasional.
Tidak hanya melihat aspek keandalan distribusi energi, para peserta juga dikejutkan dengan komitmen lingkungan di dalam kawasan industri tersebut. Fuel Terminal Rewulu secara aktif mengembangkan area konservasi dan keanekaragaman hayati yang mencakup penangkaran Rusa Jawa serta peternakan ayam petelur dengan pengelolaan limbah yang terintegrasi.
Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufik Kurniawan, menyambut positif kehadiran generasi muda peserta KELANA dan mengapresiasi peran strategis mereka sebagai pembawa pesan perubahan bagi publik.
”Kami sangat senang dengan adanya program KELANA ini, karena mereka anak muda yang memiliki jiwa endorser yang bisa menularkan kebaikan kepada lingkungan sekitarnya. Sehingga harapan kami mereka bisa sharing ke sekitar bahwa Pertamina sudah distribusi energi dengan maksimal, dan beberapa effort kita yang terkait dengan pengelolaan lingkungan yang inovatif dan terus dinamis menyesuaikan kebutuhan,” ungkap Taufik Kurniawan.
Eksplorasi di kawasan ini kemudian berlanjut ke fasilitas Tempat Pengolahan Sampah (TPS3R) internal perusahaan yang mengusung konsep ekonomi sirkular komprehensif. Di sini, para peserta mengamati langsung pengelolaan limbah mandiri yang inovatif:
Komposting: Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos berkualitas untuk menyuburkan area hijau kawasan.
Pencacahan Sampah Plastik: Reduksi material plastik secara mekanis guna mempermudah proses daur ulang lanjutan.
Pemanfaatan Besthing (Bio-Energy for Storage Tank Lighting): Inovasi pengolahan sampah residu non-organik untuk diubah menjadi sumber energi alternatif yang dimanfaatkan sebagai pencahayaan di area TPS3R.
Budidaya Maggot (Black Soldier Fly): Pemanfaatan larva lalat tentara hitam untuk mengurai sampah organik secara biologis sekaligus menghasilkan produk bernutrisi tinggi untuk pakan ternak.
Kolam Bioflok: Integrasi pemanfaatan tampungan air hujan yang dikelola untuk budidaya ikan lele dengan pasokan pakan bernutrisi tinggi dari hasil budidaya maggot setempat.
Melalui keseluruhan rangkaian praktik di Fuel Terminal Rewulu ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam bahwa fasilitas industri modern mampu mereduksi beban lingkungan secara signifikan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi.
Kolaborasi Sosial: Mengubah Limbah Plastik Menjadi Furnitur Bernilai Tinggi di Rutan Kelas IIB Bantul
Perjalanan KELANA kemudian bergeser menuju Rutan Kelas IIB Bantul, Yogyakarta. Di tempat ini, para peserta disajikan sebuah model inspiratif tentang bagaimana isu lingkungan dan isu sosial dapat diselesaikan secara bersamaan melalui program pembinaan warga binaan.
Para peserta melihat langsung hasil kolaborasi strategis antara Fuel Terminal Rewulu dan Rutan Kelas IIB Bantul dalam mempraktikkan pengolahan sampah plastik menjadi barang bernilai seni dan fungsional tinggi melalui program ecofurniture. Para penghuni lapas dibekali keterampilan khusus untuk mendaur ulang limbah plastik menjadi produk furnitur tahan lama yang memiliki nilai jual estetis maupun ekonomi.
Kepala Rutan Kelas IIB Bantul, Muhammad Syukron Ansori, menyampaikan bahwa kolaborasi ini memberikan dampak ganda yang positif bagi pembinaan di dalam rutan sekaligus solusi penanganan sampah di masyarakat.
”Ini adalah wujud nyata kepedulian bersama dalam mengolah limbah plastik menjadi barang bernilai guna tinggi, dari sampah menjadi rupiah sekaligus mendorong proses pembinaan kemandirian di Rutan Kelas IIB Bantul,” ujar Muhammad Syukron Ansori.
Inisiatif ini membuktikan bahwa rehabilitasi sosial dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan, di mana warga binaan diberdayakan untuk berkarya secara produktif sekaligus menjadi motor penggerak kebersihan lingkungan.
Mewujudkan Green Job Lewat TPS3R Gosari di Tingkat Kalurahan
Selanjutnya, rombongan KELANA mengunjungi TPS3R Gosari, sebuah fasilitas pengolahan sampah hasil kolaborasi antara Fuel Terminal Rewulu dengan Kalurahan Guwosari.
Kehadiran TPS3R Gosari menjadi solusi konkret dalam menyelesaikan persoalan sampah langsung dari tingkat akar rumput (kalurahan). Tidak hanya berhasil mereduksi tumpukan sampah secara mandiri di tingkat lokal, fasilitas ini juga sukses membuka peluang kerja hijau (green job) bagi masyarakat setempat, sehingga tercipta kemandirian ekonomi sekaligus ketahanan ekologis tingkat kalurahan.
Pengalaman langsung ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Salah satu peserta KELANA dari MAN 4 Jakarta, Amer Alif Algifahri, mengungkapkan kekagumannya terhadap sinergi pengelolaan sampah lintas sektor yang ia saksikan secara langsung di Yogyakarta.
”TPS3R Gosari ini yang saya lihat menjadi hulu pengelolaan sampah di sekitar sini, dan kemudian di hilir dilakukan di Rutan Kelas IIB Bantul. Saya belajar banyak disini, terutama dalam memanfaatkan sampah menjadi bernilai tinggi dan mampu menyerap tenaga kerja hijau. Ini tentu kolaborasi yang baik antara Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu, TPS3R Gosari, dan Rutan Kelas IIB Bantul,” tutur Amer Alif Algifahri.
Dialog Kritis dan Konstruktif: Bedah Krisis Ekologi Bersama WALHI Yogyakarta
Rangkaian penjelajahan lapangan program KELANA Edisi Yogyakarta hari pertama ditutup dengan sesi dialog interaktif yang mendalam bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah Yogyakarta.
Dalam sesi diskusi tersebut, para peserta diajak berdialog mengenai berbagai pengalaman dan permasalahan lingkungan yang tengah dihadapi Provinsi Daerah Isimewa Yogyakarta terkait tantangan ekologi masyarakat pesisir hingga perkotaan. Melalui ruang dialog ini, perwakilan WALHI Yogyakarta membekali generasi muda dengan perspektif kritis mengenai pentingnya pengawalan kebijakan lingkungan hidup.
Para peserta diajarkan bahwa melontarkan kritik terhadap kerusakan ekologi merupakan hak sekaligus instrumen kontrol sosial yang sangat penting bagi publik. Kendati demikian, gerakan protes dan kritik yang dilayangkan oleh generasi muda harus selalu dilandasi oleh argumen yang objektif, berbasis data yang valid, serta disertai dengan tawaran solusi nyata yang konstruktif.
Melalui rangkaian kegiatan ini, KLH/BPLH berharap para peserta KELANA tidak hanya memahami teknis pengelolaan lingkungan di lapangan, tetapi juga menjelma menjadi agen perubahan yang cerdas, kritis, berintegritas, dan siap menyuarakan pelestarian lingkungan hidup berbasis data dan aksi nyata di tengah masyarakat.







