SATUJABAR, BANDUNG–Kasus kematian satpam bernama Sumarna, berusia 42 tahun, yang ditemukan mengambang dalam keadaan terborgol di area Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, masih belum terungkap. Polda Jawa Barat memberikan atensi dengan menerjunkan tim memback-up Polres Purwakarta dalam melakukan penyelidikan kasus kematian Sumarna.
Atensi atas kasus kematian satpam Sumarna, berusia 42 tahun, yang ditemukan mengambang dalam keadaan terborgol di area Waduk Jatiluhur, disampaikan langsung Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Pipit Rismanto. Polda Jawa Barat memberikan atensi dengan menerjunkan tim memback-up Polres Purwakarta dalam melakukan proses penyelidikan kasus kematian Sumarna.
“Ya, menjadi atensi (Polda Jawa Barat), tim telah diterjunkan untuk memback-up, masih di lapangan terus bekerja bersama Polres Purwakarta. Kita perintahkan untuk bisa mengungkapnya (kasus kematian Satpam Sumarna), ada Pak Dirreskrimum juga,” ujar Pipit kepada wartawan di Markas Polda (Mapolda) Jawa Barat, Rabu (29/07/2029).
Pipit mengatakan, penyidik dari Satreskrim Polres Purwakarta sudah melakukan gelar perkara. Polda Jawa Barat ikut turun tangan dalam menangani kasus tersebut, diharapkan secepatnya terungkap.
“Mereka para penyidik (Polres Purwakarta) sudah melakukan gelar perkara atas hasil-hasil investigasi sementara, mulai dari olah TKP. Tentunya ini akan menjadi evaluasi secara berkala, Polda Jabar menurunkan tim untuk mem-backup, mohon do’anya mudah-mudahan cepat terungkap,” kata Pipit.
Pipit menegaskan, Polres Purwakarta bersama tim dari Ditreskrimum Polda Jawa Barat masih bekerja melakukan penyelidikan, sampai bisa disimpulkan terkait kronologi hingga penyebab pasti kematian korban. Masyarakat dan seluruh pihak diminta agar tidak terpengaruh dengan informasi-informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya atas kasus tersebut.
“Kami mengimbau juga masyarakat dan seluruh pihak, tidak terpengaruh dengan informasi-informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya, simpang siur, dan menyesatkan publik. Tunggu, biarkan penyidik dan tim di lapangan bekerja, untuk bisa mengungkapnya,” tegas Pipit.
Satpam Sumarna diduga kuat sebagai korban pembunuhan sebelum ditenggelamkan, yang motif pemicunya masih didalami penyidik, termasuk dugaan masalah pribadi. Perkembangan terbaru kematian Sumarna, yang ditemukan mengambang dengan tangan terborgol di area Waduk Jatiluhur, berdasarkab hasil otopsi rumah sakit, mengarah korban sudah tidak bernyawa sebelum diduga ditenggelamkan.
Sebanyak 15 orang saksi telah dimintai keterangan. Namun, penyidik Satreskrom Polres Purwakarta, belum bisa menyimpulkan terkait penyebab pasti kematian korban.
“Sampai saat ini, sebanyak 15 orang saksi telah dimintai keterangan dalam rangkaian proses penyelidikan dalam kasus kematian satpam Sumarna di Waduk Jatiluhur. Kita sudah melakukan hipotesa, atau beberapa kemungkinan yang dikumpulkan dan masih terus kita dalami,” ujar Kasatreskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (29/07/2026).
Salah satu kemungkinan yang melatarbelakangi kematian satpam Sumarna, yang didalami penyidik, terkait persoalan pribadi yang diduga sedang dihadapi korban sebelum ditemukan tewas. Kemungkinan tersebut, berkaitan dengan masalah keuangan, dimana korban uang dititipkan uang untuk anggota perlindungan masyarakat, atau Linmas.
“Terkait dengan permasalahan yang ada di korban (keuangan), salah satunya yang sedang kita dalami,” kata I Made.
Selain bekerja sebagai satpam, Sumarna juga merupakan komandan peleton (Danton) Linmas. Dalam kapasitasnya sebagai Dalton, Sumarna dipercaya memegang dana bagi hasil pajak, yang digunakan sebagai pengganti penghasilan tetap dialokasikan untuk pembayaran BPJS Ketenagakerjaan anggota Linmas.
Dana bagi hasil pajak yang dipegang Sumarna, sempat diungkapkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dana dialokasikan untuk pembayaran BPJS Ketenagakerjaan anggota Linmas, dititip ke Danton, namun belum dibagikan kepada anggota Linmas hingga Sumarna ditemukan tewas.
Persoalan uang tersebut memiliki hubungan langsung dengan kematian Sumarna, belum bisa dipastikan.
Penyidik Satreskrin Polres Purwakarta masih mendalami seluruh kemungkinan yang melatarbelakangi dugaan motif dalam kasus kematian Sumarna.
Berdasarkan hasil autopsi terhadap jenazah Sumarna, menunjukkan sejumlah temuan mengarah pada dugaan korban sudah tidak bernyawa sebelum berada di waduk. Temuannya, diantaranya tidak ditemukan lumpur pada paru-paru korban, sedangkan volume airnya hanya sedikit.
Polisi juga menemukan sejumlah luka pada bagian wajah dan belakang kepala korban, serta luka bekas jeratan di leher, yang mengarah dugaan korban dibunuh sebelum ditenggelamkan ke waduk.
Saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan dua borgol. Satu borgol ditemukan terpasang pada tangan korban, dan borgol lainnya ditemukan di TKP. Selain itu, telepon seluler (ponsel) milik kornan juga ditemujab di sekitar TKP.
Barang bukti yang ditemukan, menjadi bagian dari rangkaian proses penyelidikan yang sedang dilakukan untum mengungkap kronologi kematian korban, termasuk motif yang melatarbelalanginya. Tidak adanya kamera pengawas, CCTV, di sekitar lokasi kejadian, menyulitkan polisi untuk bisa mengidentifikasi orang-orang yang berada di TKP sebelum penemuan jasad korban Sumarna.
Polisi masih menelusuri asal borgol, dan orang yang terakhir berkomunikasi dengan korban melalui ponselnya. Penyidik juga belum bisa memastikan, kematian korban berkaitan dengan aksi vandalisme yang disebut sempat ditegur korban, hingga memicu dugaan terjadinya aksi penganiayaan.







