SATUJABAR, KUNINGAN–Tim gabungan berhasil mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Sementara itu, pihak kepolisian turun tangan untuk mengusut penyebab terjadinya kebakaran.
Setelah berhasil mengendalilan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, tim gabungan memfokuskan operasi pendinginan di tiga blok. Operasi pendinginan dilakukan tim gabungan, sejak Minggu (25/10/2026) pagi.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, meski kondisi kebakaran di kawasan TNGC sudah terkendali, tim gabungan masih harus memastikan seluruh area terbebas dari api.
“Status (kebakaran) di kawasan TNGC sudah terkendali. Saat ini, tim gabungan melanjutkan operasi pendinginan total, sampai asap hilang dan seluluruh area dipastikan terbebas dari titik api,” ujar Indra.
Indra menjelaskan, operasi pendinginan diarahkan pada penanganan sisa kebakaran, atau mopping up. Tahapan penting, karena bara api yang masih tersisa di dalam tanah, tumpukan vegetasi, maupun material organik, dapat memicu kebakaran kembali, sehingga harus dipastikan padam.
“Tiga lokasi menjadi prioritas dalam operasi pendinginan yang dilakukan tim gabungan di kawasan TNGC. Ketiga lokasi tersebut, yakni Blok Bintangot, Blok Karang Dinding, dan Blok Bukit Seribu Bintang, berada di wilayah Kabupaten Kuningan,” jelas Indra.
Tim gabungan menyisir seluruh area di tiga blok, untuk upaya pendinginan. Operasi pendinginan dilakukan sampai seluruh area clear, dipastikan tidak ada lagi bara api.
Berdasarkan hasil pemantauan menggunakan pesawat nirawak drone TNGC, serta sistem Sipongi, tidak ditemukan titik api hingga Sabtu (24/10/2026) malam. Namun, asap tipis masih terlihat di beberapa bagian, dan tim masih tetap bersiaga.
Sebelumnya, pemantauan udara di Grid 15 kawasan TNGC sempat menemukan titik api di bawah kaki Gunung Dulang dan di selatan Pos Pemantauan Karang Dinding, sekitar 1,4 kilometer dari pos. Temuan langsing ditindaklanjuti tim gabungan, dengan operasi pendinginan termasuk di Blok Panyusupan.
Dalam penanganan karhutla, tim gabungan menghadapi keterbatasan kendaraan untuk mobilisasi petugas dan kondisi medan curam di lahan bekas terbakar. Pendinginan dilakukan secara manual menggunakan jet shooter dengan menyemprotkan air ke titik yang masih butuh penanganan.
Diusut Polisi
Sementara itu, untuk mengungkap penyebab terjadinya kebakaran di kawasan TNGC, pihak kepolisiah turun tangan. Polres Kuningan mengusut sebab awal kebakaran
“Kita telah intruksikan Satreskrim untuk mencari titik awal munculnya api di kawasan TNGC. Kita lakukan penyelidikan langsung yang dipimpin Kasatreskrim, untuk mengungkap penyebab awal hingga terjadinya kebakaran,” ujar Kapolres Kuningan, AKBP Bellen Anggara Pratama.
Bellen mengungkapkan, meski mayoritas titik api sudah berhasil dikendalikan, petugas masih berupaya menjinakkan api di area terjal Blok Karang Dinding. Medan ekstrem dan terjal di lokasi, sehingga operasi pemadaman mengandalkan bantuan helikopter water bombing.
“Mengecek beberapa spot, dan memastikan titik-titik yang telah terbakar itu tidak akan kembali berulang. Ada satu titik yang agak curam di Karang Dinding itu dalam tahap pemadaman tadi sudah dibantu water bombing,” ungkap Bellen.
Operasi pemadaman dilanjutkan dengan pendinginan di kawasan TNGC, melibatkan kekuatan besar, terdiri dari 45 personel Polres Kuningan, 20 anggota Brimob, satu kompi TNI, serta tim dari BNPB, BPBD, TNGC, pemadam kebakaran, hingga relawan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Bellen mengimbau masyarakat, terutama para petani penggarap lahan di bagian atas, untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau . Masyarakat agar lebih hati-hati, khususnya masyarakat yang berladang di atas, sehingga Karhutla tidak sampai terjadi lagi setelah berhasil dikendalikan.







