IKM fesyen bisa lebih mempenetrasi pasar global salah satunya menurut Kemenperin melalui diversifikasi tenun.
SATUJABAR, JAKARTA – Kementerian Perindustrian terus memacu pengembangan industri kain tenun nasional melalui berbagai program peningkatan nilai tambah dan diversifikasi produk guna memperluas akses pasar domestik maupun ekspor. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat daya saing pelaku industri kecil dan menengah (IKM) tenun sekaligus melestarikan warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, industri kain tenun merupakan salah satu subsektor industri tekstil yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Selain sarat nilai budaya dan sejarah, kain tenun Indonesia juga memiliki keunikan yang mampu menjadi keunggulan kompetitif di pasar global.
“Biasanya di benak masyarakat, wastra Indonesia identik dengan batik. Padahal, Indonesia juga memiliki kain tenun yang eksotis dan kaya ragam. Berbagai daerah memiliki tenun dengan ciri khas masing-masing, baik dari teknik pembuatan, motif, warna, maupun bahan bakunya,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (2/6).
Menurut Agus, pengembangan industri tenun tidak hanya penting dalam aspek pelestarian budaya, tetapi juga berperan dalam mendukung konsep sustainable fashion yang saat ini semakin diminati pasar global. Oleh karena itu, diperlukan berbagai langkah strategis agar produk tenun dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan secara luas.
SIMAK JUGA: Begini Cara Meraih Financial Freedom
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita mengungkapkan, potensi industri tenun nasional didukung oleh keberadaan 482 sentra IKM tenun yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
“Berdasarkan data Pusdatin Kemenperin, ekspor produk tenun ikat Indonesia pada tahun 2025 mencapai 14,1 ton dengan nilai sebesar US$88.600. Capaian ini menunjukkan bahwa produk tenun tradisional memiliki peluang pasar internasional yang perlu terus ditingkatkan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” tutur Reni.
Meski demikian, Reni mengakui bahwa pelaku IKM tenun masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam pengembangan desain dan diversifikasi produk. Perubahan tren pasar yang berlangsung cepat menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin dinamis.
“Selama ini kain tenun lebih banyak digunakan untuk kebutuhan formal dan tradisional, seperti busana pernikahan maupun upacara adat. Padahal, tenun memiliki motif, warna, dan karakter bahan yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Direktorat Jenderal IKMA bekerja sama dengan Dekranasda Kota Kediri dan Universitas Ciputra Surabaya menyelenggarakan Bimbingan Teknis Diversifikasi Produk Tenun di Kota Kediri pada 18–22 Mei 2026. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Dekranas yang puncaknya akan digelar di Sulawesi Selatan pada Juli 2026 mendatang.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan, menyampaikan bahwa Kota Kediri merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai sentra tenun dengan kualitas produk yang baik dan harga yang kompetitif.
“Diversifikasi bukan berarti meninggalkan budaya. Justru melalui kreativitas dan inovasi, nilai budaya yang terkandung dalam tenun dapat terus hidup dan semakin relevan dengan perkembangan selera pasar saat ini,” ujar Budi.
Dalam pelaksanaan bimbingan teknis tersebut, sebanyak 10 IKM fesyen dipasangkan dengan 10 IKM tenun untuk menghasilkan berbagai produk fesyen berbasis tenun, mulai dari pakaian jadi, tas, aksesoris, hingga alas kaki. Pendampingan dilakukan oleh tim instruktur dari Program Studi Desain Fesyen Universitas Ciputra Surabaya.
Budi menegaskan, kolaborasi antara IKM tenun dan IKM fesyen menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem industri kreatif berbasis wastra nusantara. Melalui sinergi tersebut, pelaku usaha diharapkan mampu menghasilkan produk yang lebih inovatif, memiliki nilai tambah tinggi, dan mampu bersaing di pasar global.
“Kami berharap kolaborasi yang terbangun melalui kegiatan ini dapat terus berlanjut sehingga mampu meningkatkan daya saing IKM serta memperkuat rantai pasok industri fesyen dan tenun nasional,” tambahnya.
Ketua Dekranasda Kota Kediri, Faiqoh Azizah Mohamad Qowimuddin, menyampaikan apresiasi kepada Kemenperin atas dukungannya terhadap pengembangan industri tenun ikat di Kota Kediri. Menurutnya, sinergi antara pelaku IKM tenun dan IKM fesyen akan menciptakan ekosistem usaha yang saling menguatkan dan berkelanjutan.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Kediri, M. Ridwan, menilai kegiatan bimbingan teknis tersebut mampu mendukung pengembangan industri tenun daerah sekaligus membuka peluang usaha baru dan memperluas penyerapan tenaga kerja.
Melalui berbagai program pendampingan dan penguatan kapasitas pelaku usaha, Kementerian Perindustrian terus berkomitmen mendorong transformasi industri tenun nasional agar semakin inovatif, berdaya saing, dan mampu menjadi bagian penting dalam pengembangan industri fesyen Indonesia di pasar global.








