• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Sabtu, 15 Agustus 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Hama Cabai, BRIN Temukan Solusinya

Editor
Senin, 29 Juni 2026 - 11:04
cabai merah menyumbang inflasi jabar

Cabai merah (pixabay)

SATUJABAR, CIBINONG – Cabai merupakan komoditas hortikultura yang memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Selain menjadi kebutuhan pokok masyarakat, fluktuasi harga cabai juga menjadi salah satu faktor utama penyumbang inflasi pangan. Karena itu, menjaga produktivitas cabai menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ady Daryanto, mengungkapkan bahwa pengembangan varietas cabai tahan hama menjadi solusi yang lebih berkelanjutan dibandingkan ketergantungan pada penggunaan pestisida.

RelatedPosts

Proteksi Jatinangor, Petugas Arahkan Truk Besar Masuk GT Pamulihan Sumedang

Kabel PJU Cadas Pangeran Digasak Maling

Kasus Kebakaran di Kabupaten Garut Naik 45,3Persen

“Perubahan iklim dan meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman membuat budidaya cabai semakin menantang. Pengembangan varietas tahan hama merupakan pendekatan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan produksi cabai,” jelas Ady dalam webinar HortiActive #27 bertajuk Pemuliaan Cabai Tahan Kutu Daun: Pendekatan Bioassay dan Analisis Genetik, pada Senin, (22/6/2026) dilansir laman BRIN (29/6/2026).

Menurutnya, kutu daun (Aphis gossypii) merupakan salah satu hama paling merugikan pada tanaman cabai. Selain mengisap cairan tanaman sehingga menghambat pertumbuhan, serangga ini juga menghasilkan embun jelaga (honeydew) yang memicu pertumbuhan jamur jelaga serta menjadi vektor lebih dari 50 jenis virus pada tanaman famili Solanaceae, termasuk Cucumber Mosaic Virus (CMV), Pepper Yellow Mosaic Virus (PepYMV), dan polerovirus.

Lebih lanjut Ady menjelaskan bahwa tanaman memiliki mekanisme alami untuk menghadapi serangan hama melalui dua sistem pertahanan, yakni antixenosis yang memengaruhi perilaku hama agar enggan menyerang tanaman, serta antibiosis yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan hama setelah berinteraksi dengan tanaman. Penelitian BRIN difokuskan pada mekanisme antibiosis karena dinilai lebih efektif dalam menekan perkembangan populasi kutu daun.

Dalam riset tersebut, Ady mengevaluasi tujuh genotipe cabai untuk mengidentifikasi sumber ketahanan terhadap kutu daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe C20 dan C367 secara konsisten mampu menekan perkembangan populasi kutudaun sehingga berpotensi menjadi donor ketahanan dalam program pemuliaan cabai.

Untuk memperoleh hasil yang akurat, dirinya mengembangkan tiga metode skrining berbasis no-choice test, yakni seedling cage, detached leaf, dan clip cage. Ketiga metode tersebut digunakan untuk mengevaluasi perkembangan populasi kutudaun selama tujuh hari setelah infestasi dengan menghitung perkembangan populasi kutu daun pada masing-masing perlakuan

“Hasil pengujian menunjukkan seluruh metode memiliki nilai heritabilitas yang sangat tinggi, sekitar 90%-91%. Artinya, karakter ketahanan lebih banyak dikendalikan oleh faktor genetik dibandingkan pengaruh lingkungan,” ujar Ady.

Di antara ketiga metode tersebut, menurut Ady, clip cage dinilai sebagai metode yang paling praktis sekaligus andal. Metode ini memungkinkan pengujian dilakukan pada daun yang masih melekat pada tanaman sehingga kondisi tanaman tetap alami dan risiko kerusakan selama pengujian menjadi lebih rendah.

Penelitian juga mengungkap bahwa sifat ketahanan terhadap kutudaun merupakan karakter kuantitatif yang dikendalikan oleh banyak gen dengan interaksi genetik yang kompleks. Meski demikian, keberadaan efek gen aditif yang cukup kuat membuka peluang besar bagi pemulia tanaman untuk meningkatkan ketahanan melalui proses seleksi pada generasi lanjut, yakni mulai generasi F4 hingga F6. Temuan tersebut menjadi landasan penting bagi pengembangan varietas cabai unggul yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki ketahanan alami terhadap serangan hama.

 

Melalui inovasi ini, BRIN berharap dapat mendukung lahirnya varietas cabai tahan kutu daun yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida, meningkatkan efisiensi budidaya, serta memperkuat sistem pengendalian hama terpadu yang lebih ramah lingkungan.

Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas cabai nasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga cabai sebagai salah satu komoditas strategis bagi ketahanan pangan Indonesia.

Tags: hama cabai

Related Posts

Petugas di Gerbang Tol Pamulihan Sumedang.(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Proteksi Jatinangor, Petugas Arahkan Truk Besar Masuk GT Pamulihan Sumedang

Editor
15 Agustus 2026

SUMEDANG - Pemerintah Kabupaten Sumedang menyiagakan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) yang bersiaga siang malam di jalan nasional Sumedang-Bandung pintu masuk...

Perbaikan PJU di Cadas Pangeran.(Foto: Humas/Diskominfo Kab. Garut)

Kabel PJU Cadas Pangeran Digasak Maling

Editor
15 Agustus 2026

SUMEDANG - Dinas Perhubungan (Dishub) Sumedang melakukan perbaikan lampu penerangan umum (PJU) di kawasan Cadas Pangeran. Bupati Sumedang Dony Ahmad...

Ilustrasi kebakaran.(Foto:Istimewa).

Kasus Kebakaran di Kabupaten Garut Naik 45,3Persen

Editor
15 Agustus 2026

Kasus kebakaran di Kabupaten Garut sepanjang tahun 2026, berdasarkan data penanganan kebakaran hingga 13 Agustus 2026, tercatat sebanyak 327 kasus....

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin didampingi OPD terkait menyambangi kediaman Bayu Zulkarnaen. ASN yang hilang diduga jatuh ke Sungai Cisadane.(Foto: Humas Pemkot Bogor)

ASN Pemkot Bogor Jatuh ke Sungai Cisadane, Belum Ditemukan

Editor
15 Agustus 2026

ASN Pemkot Bogor diduga jatuh di aliran Sungai Cisadane, tepatnya di Kelurahan Cipaku, Bogor Selatan, Jumat (14/8/2026). SATUJABAR, BOGOR -...

Pertumbuhan ekonomi cadangan devisa,ekonomi jabar triwulan

Pertumbuhan Ekonomi 2027 Ditarget 6%, Inflasi 2,5%

Editor
15 Agustus 2026

Pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6% disepakati Pemerintah bersama DPR dalam Asumsi Dasar Ekonomi Makro dalam RAPBN 2027, juga laju inflasi...

Labuan Bajo.(Foto: Kemenpar)

Gempa NTT M 7,7: Keselamatan Wisatawan Labuan Bajo Prioritas

Editor
15 Agustus 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memastikan keselamatan wisatawan dan...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Ahadiat Hotel & Bungalow Bandung