JAKARTA – Ekspor Indonesia Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar atau naik 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas yang mencapai US$160,01 miliar naik 5,21 persen.
Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tanggal 1 September 2026 menyebutkan nilai ekspor Indonesia Juli 2026 mencapai US$26,22 miliar atau naik 6,05 persen dibanding ekspor Juli 2025. Ekspor nonmigas Juli 2026 mencapai US$25,43 miliar atau naik 6,84 persen dibanding Juli 2025.
Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Januari–Juli 2026, semua komoditas mengalami peningkatan, hanya komoditas logam mulia dan perhiasan/permata yang mengalami penurunan sebesar US$2,59 miliar (40,08 persen).

Sementara nikel dan barang daripadanya merupakan komoditas dengan peningkatan tertinggi sebesar US$2,41 miliar (49,84 persen). Ekspor nonmigas Januari–Juli 2026 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$40,62 miliar, disusul Amerika Serikat US$19,19 miliar, dan India US$11,00 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 44,25 persen.
Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$31,77 miliar dan US$11,23 miliar.
Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Juli 2026 naik 7,16 persen dibanding periode yang sama tahun 2025, sedangkan ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 19,50 persen, demikian juga ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 2,43 persen.
Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Juli 2026 berasal dari Provinsi Jawa Barat dengan nilai US$23,58 miliar (14,12 persen), diikuti Sulawesi Tengah US$14,78 miliar (8,85 persen) dan Jawa Timur US$14,42 miliar (8,63 persen).
BACA JUGA: bank bjb Raih Dua Penghargaan OJK di Puncak Hari Indonesia Menabung 2026







