• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Rabu, 4 November 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Astronomi Lokal Tercermin dalam Manuskrip Sunda

Editor
Jumat, 27 September 2024 - 05:30
matahari cuaca langit panas

Cuaca (pexels)

RelatedPosts

Geoteater Rancakalong Sumedang Jadi Ruang Belajar 500 Mahasiswa Unpad

7 Banteng Jawa Penghuni Pangandaran yang Selamat dari Kepunahan

Warisan Budaya Jabar: Menengok Tradisi ‘Kawin Cai’ di Kuningan

BANDUNG – Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Manuskrip, Literatur dan Tradisi Lisan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Heryana, menjelaskan bahwa salah satu bentuk pengetahuan lokal tentang astronomi dapat ditemukan dalam manuskrip Sunda. Manuskrip ini tidak hanya menyajikan informasi tentang benda-benda langit, tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual yang mendalam.
Agus menjelaskan bahwa dalam naskah Sunda, fenomena alam seperti matahari, bulan, dan bintang sering digunakan sebagai penunjuk arah untuk menentukan waktu dan tempat. Selain itu, sistem penanggalan dan arah mata angin juga dibahas, terutama dalam naskah Paririmbon, untuk membantu masyarakat dalam merencanakan kegiatan dan meraih keberuntungan.
“Keberadaan benda-benda langit digunakan untuk menggambarkan perjalanan ruh manusia dalam mencapai kebahagiaan tertinggi bersama Tuhan, melalui ciptaan-Nya, yakni alam semesta,” ujar Agus.
Manuskrip Sunda dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, termasuk agama, bahasa, hukum, kemasyarakatan, mitologi, pendidikan, dan sastra. Namun, Agus mencatat bahwa hingga saat ini, belum ada manuskrip yang membahas astronomi secara khusus; topik tersebut lebih sering muncul dalam ungkapan metaforis.
Penelusuran terbaru mengungkapkan bahwa sejumlah manuskrip pra-Islam dari abad 14-15, seperti Siksakanda Karesian dan Sewaka Darma, serta naskah-naskah dari masa Islam, seperti Wawacan Pandita Sawang, mengandung pengetahuan astronomi yang menarik.
Masyarakat Sunda juga mencatat berbagai nama benda langit, antara lain matahari (panonpoe), bulan, dan bintang, yang semuanya terlihat jelas dengan mata telanjang. Posisi benda-benda langit ini mencerminkan kesucian dan ketinggian, dengan langit sebagai representasi yang tak terjangkau.
Agus menambahkan bahwa sistem penanggalan merupakan sumbangan terpenting astronomi dalam kehidupan manusia. Di kalangan masyarakat, terdapat empat jenis tahun yang dikenal: tahun Saka, Hijrah, Jawa, dan Masehi, masing-masing berdasarkan peredaran bumi dan bulan.
“Perhitungan tahun Saka dan Masehi mengikuti peredaran bumi mengelilingi matahari, sedangkan tahun Hijriah dan Jawa berdasarkan peredaran bulan,” pungkas Agus dikutip dari situs BRIN.
Tags: Astronomisunda

Related Posts

Mahasiswa Unpad di Geoteater Rancakalong.(Foto: Diskominfo Kab. Sumedang)

Geoteater Rancakalong Sumedang Jadi Ruang Belajar 500 Mahasiswa Unpad

Editor
3 November 2026

SUMEDANG - Kawasan Geoteater Rancakalong tidak hanya menjadi destinasi wisata dan ruang ekspresi budaya, tetapi juga mulai dimanfaatkan sebagai ruang...

Seekor anak Banteng Jawa (Bos javanicus) berjenis kelamin jantan lahir di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran (Purbajapa), Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.(Foto: Kemenhut/BKSDA Jabar)

7 Banteng Jawa Penghuni Pangandaran yang Selamat dari Kepunahan

Editor
31 Oktober 2026

JAKARTA - Malam itu, Selasa (27/10/2026) pukul 22.23 WIB, sebuah keindahan monumental terjadi di sebuah padang rumput berpagar di Cagar...

Ketua TP PKK Bunda Ela di acara ‘Kawin Cai’.(Foto: Diskominfo Kab. Kuningan)

Warisan Budaya Jabar: Menengok Tradisi ‘Kawin Cai’ di Kuningan

Editor
31 Oktober 2026

KUNINGAN - Tradisi Kawin Cai di Desa Babakan Mulya Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan, yang digelar pada hari kamis 29/10/2026 menjadi...

Seekor anak Banteng Jawa (Bos javanicus) berjenis kelamin jantan lahir di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran (Purbajapa), Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.(Foto: Kemenhut/BKSDA Jabar)

Kabar Gembira dari Dunia Satwa, Anak Banteng Jawa Ketiga Lahir di Pangandaran

Editor
29 Oktober 2026

PANGANDARAN - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat mengumumkan kelahiran seekor anak Banteng...

Pekan Seni Media Rupakala 2026 di Gedung Tegar Beriman, Cibinong, mulai tanggal 26 Oktober hingga 1 November 2026.(Foto: Diskominfo Kab. Bogor)

Pekan Seni Media Rupakala Dorong Apresiasi & Kontemplasi

Editor
28 Oktober 2026

CIBINONG – Pekan Seni Media Rupakala 2026 menjadi ruang dialog antara seniman dan masyarakat melalui berbagai karya seni berbasis teknologi,...

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengunjungi Padepokan Seni Giri Harja, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Padepokan Seni Giri Harja merupakan pusat pertunjukan seni wayang golek yang didirikan oleh alm. Abah Asep Sunandar Sunarya.(Foto: Dok. Kemenbud)

Di Padepokan Giri Harja, Menbud Bilang Perlunya Pelestarian Ekosistem Wayang Golek dan Pengrajin Tradisional

Editor
26 Oktober 2026

BANDUNG - Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan pentingnya menjaga regenerasi dalang dan pembuat wayang sebagai upaya menjaga wayang golek...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.