Air Danau Toba susut menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akibat faktor yang berbeda-beda pada setiap periode.
SATUJABAR, BANDUNG – Penurunan muka air Danau Toba dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi perhatian masyarakat. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor perikanan, energi, dan pariwisata, tetapi juga memunculkan berbagai dugaan mengenai penyebabnya.
Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap penyebab perubahan muka air Danau Toba ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh faktor iklim, tetapi juga berubah seiring perkembangan aktivitas manusia di kawasan tersebut.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Hendri, membahas hasil risetnya mengenai dinamika tinggi muka air Danau Toba. Penelitian ini dilakukan menggunakan data pengamatan tinggi muka air Danau Toba sejak 1957 hingga 2020 untuk menjawab pertanyaan yang selama ini banyak muncul di masyarakat, yakni apakah muka air Danau Toba benar-benar mengalami penurunan dan faktor apa saja yang memengaruhinya.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang terjadi penurunan muka air Danau Toba, tetapi penyebabnya berbeda pada setiap periode,” kata Hendri, dalam kegiatan Coffee Morning PRIMA BRIN, Jumat (17/7) seperti dikabarkan Humas BRIN Senin 21 Juli 2026 dilaman BRIN.
Setelah melakukan analisis statistik terhadap data pengamatan selama lebih dari enam dekade, tim peneliti menemukan adanya titik perubahan pada 1984. “Tahun tersebut bertepatan dengan mulai beroperasinya Bendungan Sigura-gura dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sehingga, karakteristik perubahan muka air danau sebelum dan sesudah 1984 perlu dianalisis secara terpisah,” tambah Hendri.
Pada periode 1957 hingga 1984, muka air Danau Toba mengalami tren penurunan sekitar 22 milimeter per tahun. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh variabilitas iklim, khususnya fenomena El Niño yang menyebabkan berkurangnya curah hujan di daerah tangkapan air Danau Toba.
Setelah 1984, laju penurunan rata-rata menjadi jauh lebih kecil, sekitar 2 milimeter per tahun. Meskipun tren jangka panjangnya relatif stabil, muka air Danau Toba tetap mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun.
“Pada beberapa periode bahkan terjadi penurunan yang cukup ekstrem, seperti pada 1987, 1990, 1998, dan 2016, yang berkaitan dengan kombinasi El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif,” tambahnya.
Analisis lebih lanjut menunjukkan meningkatnya peran aktivitas manusia setelah 1984, terutama berkaitan dengan operasional PLTA dan perubahan tata guna lahan. “Penggunaan air untuk operasional PLTA memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan aktivitas domestik masyarakat. Selain itu, perubahan tata guna lahan di kawasan tangkapan air juga berkontribusi terhadap perubahan cadangan air Danau Toba,” terang Hendri.
Hasil analisis citra satelit memperlihatkan selama periode 1988-2020, luas hutan alami di kawasan Danau Toba berkurang sekitar 29 persen. Sebaliknya, luas hutan tanaman cenderung meningkat signifikan. Sementara kawasan permukiman dan lahan pertanian juga terus bertambah.
“Berkurangnya tutupan hutan alami diperkirakan mengurangi kemampuan kawasan tangkapan air dalam menyerap dan menyimpan air hujan, sehingga turut memengaruhi fluktuasi muka air danau,” ujarnya.
Ia menekankan perubahan muka air Danau Toba merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan.
“Variabilitas iklim masih berperan penting, namun pengaruh aktivitas manusia terhadap dinamika danau juga semakin nyata. Oleh karena itu, upaya menjaga keberlanjutan Danau Toba tidak cukup hanya berfokus pada adaptasi terhadap perubahan iklim, tetapi juga memerlukan pengelolaan tata guna lahan dan pemanfaatan sumber daya air yang lebih bijaksana,” tegasnya.
Ia berharap temuan ini dapat menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan Danau Toba agar fungsi ekologis, ekonomi, dan sosialnya tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Kepala PRIMA BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan penelitian mengenai Danau Toba penting dilakukan untuk memberikan dasar ilmiah dalam memahami dinamika salah satu danau vulkanik terbesar di dunia tersebut. Menurutnya, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan dalam menyusun kebijakan pengelolaan kawasan yang lebih tepat dan berkelanjutan.
“Selama ini, penurunan muka air Danau Toba sering dikaitkan dengan perubahan iklim. Padahal, penelitian menunjukkan persoalannya lebih kompleks karena melibatkan interaksi antara faktor iklim dan aktivitas manusia. Temuan ini memberikan dasar ilmiah yang penting bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah pengelolaan Danau Toba yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” jelas Albertus.
Sumber: Humas BRIN







