SATUJABAR, BANDUNG–Kasus dugaan keracunan massal di Restoran Korea 88 Seoul 23 Paskal, Kota Bandung, Jawa Barat, diselidiki polisi. Keracunan massal mencapai 200 orang lebih, setelah para korban menyantap makanan di restoran tersebut.
Proses penyelidikan terhadap kasus dugaan keracunan massal di Restoran Korea 88 Seoul 23 Paskal, Kota Bandung, dilakukan Satreskrim Polrestabes Bandung. Polisi langsung turun tangan setelah kasus keracunan massal tersebut beredar di media sosial dan menyita perhatian masyarakat.
“Ya, masih melakukan penyelidikan. Kami sudah mendatangi lokasi restoran (Korea 88 Seoul),” ujar Kastreskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, dalam keterangannya kepada wartawan, Jum’at (09/10/2026).
Anton mengatakan, Tim Satreskrim polisi telah mendatangi lokasi restoran untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Selain itu, melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, termasuk dari manajemen restoran.
“Kami melakukan olah TKP dan memeriksa saksi-saksi, termasuk dari pihak manajemen restoran. Kami juga mendatangi korban yang diduga mengalami keracunan, untuk mendalami kronologi kejadian,” kata Anton.
Sebelumnya, Operations General Manager 88 Seoul, Daniel Yahya, mengatakan, telah menerima laporan dan keluhan dari sejumlah pelanggan seudai makan di restorannya. Pihaknya menyampaikan permohonan maaf.
“Kami mendengar dan peduli atas kekhawatiran disampaikan para pelanggan, dan memohon maaf. Fokus kami saat ini, memastikan pelanggan yang menyampaikan keluhan mendapatkan perhatian dan penanganan langsung,” ujar Daniel.
Manajemen Restoran Korea 88 Seoul, telah menghentikan sementara operasional, pada 07 hingga 08 Oktober 2026. Langkah tersebut sebagai bentuk tanggungjawab dan kehati-hatian untuk melakukan pembersihan dan sanitasi menyeluruh dan evaluasi terhadap proses dan standar operasional prosedur (SOP).
Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Sony Adam, membenarkan, adanya laporan dugaan keracunan massal yang ramai di media sosial, seusai menyantap makanan di Restoran Korea 88 Seoul. Namun, pihaknya belum bisa merinci terkait jumlah pasti korban, karena masih dalam proses investigasi.
“Iya benar, kami sudah menerima laporannya (keracunan massal). Kami langsung turun, saat ini masih proses investigasi,” ujar Sony, dalam keterangannya, Rabu (07/10/2026).
Dari temuan Dinkes Kota Bandung, menyoroti aspek kebersihan dan sanitasi di restoran yang perlu dibenahi. Pemeriksaan laboratorium sampel makanan masih berlangsung untuk memastikan penyebab keracunan.
Jumlah korban keracunan disebutkan mencapai 284 orang. Jumlah korban yang mengeluhkan gejala keracunan makananan tersebut, dalam tiga hari.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari, mengatakan, pemeriksaan awal menemukan sejumlahbmasalah terkait higiene, atau kebersihan makanan dan sanitasi di restoran sebagai lokasi kejadian.
“Secara umum dari pemeriksaan awal, memang ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lpihak restoran,” ujar Dewi, dalam keterangannya tertulis di laman http://bandung.go.id.
Dewi mengungkapkan, Dinkes Kots Bandung menemukan bahan pangan belum dipisahkan dari persediaan bahan kimia berbahaya, seperti sabun pencuci piring dan cairan pembersih. Selain itu, luas area dapur juga terbatas, sehingga harus ditata ulang.
Penerapan SOP perputaran bahan baku berbasis tanggal kedatangan dan kedaluwarsa juga belum berjalan jelas. Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki, haru memgenakan pelindung dirinya, masker, kemudian pekerja wanita tidak berkerudung, atau laki-laki, harus menggunakan hair net.
Dinkes Kota Bandung telah memberikan rekomendasi pembenahan kepada manajemen restoran. Investigasi mencakup penataan tata letak ruang usaha, kelayakan peralatan masak, hingga pemisahan stok bahan baku mencegah kejadian serupa.







