SATUJABAR, JAKARTA – Kemenhut atau Kementerian Kehutanan menegaskan komitmen serius untuk melangkah ke era restorasi ekosistem hutan Indonesia yang mengalami degradasi. Hal tersebut disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meluncurkan Gerakan Pemulihan Ekosistem Serentak dalam Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, Jakarta, Senin (10/8/2026). Gerakan ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah untuk mempercepat pemulihan berbagai ekosistem dan habitat yang terdegradasi di kawasan konservasi di seluruh Indonesia.
Dalam pengarahannya, Menhut Raja Juli Antoni merefleksikan dinamika historis tantangan yang dihadapi hutan di Indonesia sejak tahun 1970-an hingga munculnya ekspansi monokultur dan tambang. Menhut menyampaikan bahwa momentum ini harus menjadi bahan refleksi agar tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan ada hal penting yang diambil untuk memperbaiki kondisi hutan dan keanekaragaman hayati nasional.
“Sekarang kita mulai bergerak untuk melakukan pemulihan ekosistem. Kita tidak sedang menyalahkan masa lalu, tapi faktanya kita menghadapi hutan kita seperti ini, biodiversity kita seperti begini. Kita sekarang memang harus beranjak secara serius untuk melakukan restorasi ekosistem,” ujar Menhut Raja Juli Antoni.
Menhut mengungkapkan bahwa arahan pemulihan ini mendapat dukungan penuh dari Presiden Prabowo Subianto yang berkomitmen melakukan restorasi ekosistem terhadap degraded land atau lahan kritis seluas 12 juta hektar, di mana 6,7 juta hektar di antaranya berada di kawasan hutan dan 1,21 juta hektar berada di area konservasi.
Menanggapi anggapan mengenai pemanfaatan kawasan, Kemenhut menegaskan prinsip dasar pengelolaan taman nasional yang diusung pemerintah.
“Ekoturisme kadang-kadang disalahartikan bahwa kita ini sedang mengeksploitasi taman nasional kita, komersialisasi. Saya katakan ini bukan, ini ecological before tourism. Intinya sebenarnya ini adalah untuk ekologi, untuk alam, untuk restorasi tadi. Bahwa kita perlu mengajak swasta yang berpikir kreatif, yang memikirkan tentang sustainability,” ujarnya.
Menhut juga menyinggung keterbatasan kemampuan negara, baik dari segi pendanaan maupun sumber daya manusia, untuk memulihkan kondisi hutan yang begitu luas. Oleh karena itu, Kemenhut membuka ruang kerja sama dengan skema pendanaan inovatif (blended finance), perdagangan karbon (carbon trading), hingga penambahan personel polisi hutan.
“Dengan rendah hati harus kita katakan bahwa sebagai policymaker, sebagai regulator, negara memiliki keterbatasan, apakah itu dari segi pendanaan maupun dari segi pemberdayaan manusia. Kalau niat kita baik, tujuannya bukan untuk eksploitasi, bukan komersialisasi, tapi untuk alam, masa kita tidak bisa membuat regulasi yang memungkinkan untuk itu. Kalau aturan itu sudah tertinggal di belakang dibandingkan apa yang kita inginkan untuk berpikir lebih progresif, tidak ada masalah kemudian aturan itu di-adjust, demi kebaikan hutan kita, demi kebaikan alam kita,” jelas Menhut.
Usai memberikan arahan, Menhut Raja Juli Antoni bersama Wamenhut Rohmat Marzuki melakukan video conference dengan UPT di daerah, dilanjutkan dengan aksi penanaman mangrove dan pelepasliaran burung air di kawasan TWA Angke Kapuk.
Peringatan HKAN 2026 mengusung tema “Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia”. Pemilihan TWA Angke Kapuk sebagai pusat kegiatan membawa pesan strategis bahwa pembangunan kawasan perkotaan dan konservasi alam dapat berjalan berdampingan secara harmonis. Ekosistem mangrove di kawasan ini memiliki fungsi vital sebagai benteng pelindung pesisir Jakarta dari ancaman abrasi dan intrusi air laut, penyerap karbon yang efektif, penyaring polusi lingkungan, sekaligus habitat alami bagi beragam jenis satwa liar.







