• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Kamis, 30 Juli 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Menkomdigi: Radikalisasi Digital Kini Menyamar sebagai Kepedulian

Editor
Kamis, 30 Juli 2026 - 11:20
Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan keynote speech pada diskusi publik dan bedah buku “Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi Hingga Manipulasi Kesadaran” di Gedung Kompas, Jakarta Pusat, Rabu (29/07/2026). Foto: DRA/Komdigi

Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan keynote speech pada diskusi publik dan bedah buku “Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi Hingga Manipulasi Kesadaran” di Gedung Kompas, Jakarta Pusat, Rabu (29/07/2026). Foto: DRA/Komdigi

SATUJABAR, JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh dengan pola baru radikalisasi di ruang digital.

Menurutnya, perekrutan kini tidak lagi diawali dengan ajakan kebencian atau kekerasan, melainkan melalui pendekatan yang tampak baik, seperti menawarkan bantuan, membangun kedekatan, hingga memberi harapan hidup yang lebih baik.

RelatedPosts

Waspada! Begal Mengaku Petugas Lising di Bandung Bawa Kabur Sepeda Motor

Kinerja bank bjb Positif, Aset Tembus Rp228,2 Triliun dan Laba Tumbuh 58,8%

SEABEF 2026 Perkuat Posisi Indonesia sebagai Hub Events

Setelah kepercayaan terbentuk, korban perlahan diarahkan pada paham ekstrem.

Meutya Hafid mengatakan pola radikalisasi di ruang digital telah berubah.

Kelompok radikal kini memanfaatkan pendekatan yang lebih halus dan personal untuk memengaruhi calon korbannya, terutama anak-anak dan kelompok rentan.

“Saya harus tekankan bahwa kekerasan tidak dimulai dengan satu kata jahat. Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan yang bersifat personal, lalu disusul janji-janji kesejahteraan. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem,” ujar Meutya saat menghadiri Diskusi Buku Atas Nama Surga: Algoritma, Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran di Jakarta Pusat, Rabu (29/07/2026).

Meutya menjelaskan perkembangan teknologi membuat proses radikalisasi semakin sulit dikenali.

Kekuatan narasi kini berpadu dengan algoritma digital yang mampu membentuk ruang informasi sesuai preferensi pengguna.

Akibatnya, seseorang dapat terus menerima informasi yang memperkuat keyakinannya, meski tidak sesuai dengan fakta.

“Ketika narasi bertemu dengan algoritma, lahirlah ilusi bahwa sesuatu yang terus muncul adalah kebenaran. Pada titik itu, fakta mulai kalah oleh emosi dan keyakinan. Inilah tantangan besar yang kita hadapi pada era post truth,” katanya.

Ia menegaskan perubahan perilaku akibat paparan digital tidak terjadi secara tiba-tiba.

Perubahan berlangsung perlahan sehingga sering kali tidak disadari oleh keluarga.

“Anak tidak berubah dalam satu atau dua hari. Sedikit demi sedikit hubungan dengan orang tua mulai renggang. Cerita yang dulu terbuka menjadi semakin sedikit, hingga akhirnya tidak ada lagi komunikasi. Saat itulah kita sering terlambat menyadari bahwa telah terjadi perubahan yang serius,” ujarnya.

Meutya juga mengungkapkan bahwa pada Mei lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berhasil menggagalkan upaya perekrutan terhadap 112 anak melalui satu platform digital.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ruang digital terus dimanfaatkan kelompok radikal untuk mencari sasaran baru dengan berbagai modus yang semakin sulit dikenali.

Oleh karena itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS.

“Regulasi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman serta membantu orang tua mengenali berbagai risiko yang dihadapi anak di internet,” tandasnya.

Menkomdigi juga mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan sekaligus memperkuat literasi digital agar mampu mengenali perbedaan antara ruang digital yang sehat dan ruang digital yang berbahaya.

“Yang paling sulit bukan hanya menghadapi teknologinya, tetapi mengenali kapan sebuah kepedulian ternyata menjadi pintu masuk menuju manipulasi dan radikalisasi,” tegas Menkomdigi Meutya Hafid.

Tags: MenkomdigiMeutya Hafidradikalisasi

Related Posts

Ilustrasi aksi begal sepeda motor.(Foto:Istimewa).

Waspada! Begal Mengaku Petugas Lising di Bandung Bawa Kabur Sepeda Motor

Editor
30 Juli 2026

SATUJABAR, BANDUNG--Waspada! Berbagai cara dilakukan pelaku begal dalam menjalankan aksi kejahatannya di jalanan. Seorang wanita di Kota Bandung, Jawa Barat,...

Direksi bank bjb berfoto bersama usai Earnings Call Triwulan II Tahun Buku 2026 dan Public Expose bank bjb 2026, Rabu 29 Juli 2026.(Foto: Dok. bank bjb)

Kinerja bank bjb Positif, Aset Tembus Rp228,2 Triliun dan Laba Tumbuh 58,8%

Editor
30 Juli 2026

BANDUNG – bank bjb kembali membukukan kinerja positif pada Semester I Tahun 2026 dengan tetap menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat,...

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana di acara Southeast Asia Business Events Forum (SEABEF) 2026 Rabu 29 Juli 2026.(Foto: Humas Kemenpar)

SEABEF 2026 Perkuat Posisi Indonesia sebagai Hub Events

Editor
30 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA — Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menegaskan penyelenggaraan Southeast Asia Business Events Forum (SEABEF) 2026 menjadi langkah...

smartphone, ponsel, kuota, selular, mahkamah konstitusi

Registrasi SIM Card Biometrik, Komdigi dan Operator Siapkan Bilik Khusus

Editor
30 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Pemerintah terus berupaya menghadirkan pelayanan terbaik bagi masyarakat pengguna jasa telekomunikasi. Seperti untuk registrasi kartu SIM berbasis...

Harga emas hari ini antam melambung tinggi, harga emas, harga emas hari ini

Harga Emas Kamis 30/7/2026 Antam Rp 2.616.000 Per Gram

Editor
30 Juli 2026

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Kamis 30/7/2026 jenis batangan Antam, dikutip dari situs Aneka Tambang dijual Rp 2.616.000 per gram...

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, memberikan pembekalan pada acara Pelepasan Nasional Tim Ekspedisi Patriot Tahun 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/07/2026).(Foto: Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekraf/ Badan Ekonomi Kreatif)

Ekspedisi Patriot 2026, Menteri Ekraf: Ungkit Ekonomi Kreatif Daerah Transmigrasi

Editor
30 Juli 2026

Ekspedisi Patriot 2026 melibatkan 1.230 akademisi dan talenta muda dari jenjang sarjana hingga doktor, didampingi 246 ketua tim (dosen, peneliti,...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Pesona Jawa Barat