• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Kamis, 16 Juli 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Purwoceng, Tanaman Obat Endemik Indonesia Hampir Punah

Editor
Kamis, 16 Juli 2026 - 09:45
Purwoceng.(Image: Halodoc via BRIN)

Purwoceng.(Image: Halodoc via BRIN)

Purwoceng merupakan spesies endemik Indonesia yang secara alami hanya tumbuh di kawasan dataran tinggi, terutama di Dieng, pada ketinggian sekitar 1.800–3.000 meter di atas permukaan laut.

SATUJABAR, CIBINONG – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pemuliaan purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.), tanaman obat endemik Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus menghadapi ancaman kepunahan.

RelatedPosts

N.V. BIMA Pabrik Panci Legendaris, Tembus Pasar Dunia

Explorex 2027: Memantik Adrenalin, Mendongkrak Wisata Petualangan

Museum Musik di Bandung, Museum Film di Jakarta, Museum Fotografi di Semarang

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Otih Rostiana, mengatakan purwoceng merupakan spesies endemik Indonesia yang secara alami hanya tumbuh di kawasan dataran tinggi, terutama di Dieng, pada ketinggian sekitar 1.800–3.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman yang dikenal sebagai ginseng of Java tersebut telah lama dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional karena mengandung berbagai senyawa bioaktif, di antaranya sitosterol, stigmasterol, saponin, kumarin, psoralen, dan vitamin E yang berkontribusi terhadap peningkatan vitalitas, kesehatan saluran kemih, serta sirkulasi darah.

Namun, keberadaan purwoceng menghadapi tekanan yang semakin besar. Alih fungsi lahan, eksploitasi tinggi, serta persaingan dengan komoditas pertanian lain menyebabkan populasi alaminya terus menurun hingga masuk kategori Endangered dalam Daftar Merah IUCN. Kondisi tersebut semakin diperberat oleh karakter pemanfaatan tanaman, karena seluruh bagian purwoceng, mulai dari akar hingga daun, digunakan sebagai bahan baku obat tradisional sehingga proses panen dilakukan secara menyeluruh dan berdampak langsung terhadap keberlangsungan populasi di alam.

Otih menjelaskan penelitian pemuliaan telah dilakukan melalui seleksi sumber daya genetik, pemurnian galur, hingga menghasilkan varietas unggul yang dilepas pada 2013. Varietas tersebut memiliki karakteristik tulang daun berwarna merah keunguan, performa genetik yang lebih baik, peningkatan kandungan sitosterol, serta kemampuan beradaptasi pada lokasi budi daya yang lebih rendah dibandingkan habitat alaminya.

“Kami telah menghasilkan varietas unggul yang memiliki karakter genetik lebih baik dan menunjukkan peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan adaptasi yang lebih luas dibandingkan populasi alaminya,” jelas Otih, dalam Webinar EstCrops_Corner #28, Selasa (14/7) seperti dikabarkan Humas BRIN.

Meski demikian, keberhasilan pemuliaan belum sepenuhnya menjawab persoalan utama pengembangan purwoceng. Tantangan berikutnya adalah penyediaan benih dalam jumlah yang memadai.

Menurut Otih, perbanyakan melalui biji masih menghadapi kendala akibat rendahnya viabilitas benih. Sementara, teknologi kultur jaringan hingga kini belum mampu menghasilkan tingkat keberhasilan optimal pada tahap multiplikasi tunas, pembentukan akar, maupun proses aklimatisasi.

“Kondisi tersebut membuka ruang bagi penelitian lanjutan guna menghasilkan teknologi perbanyakan tanaman yang lebih efisien dan siap diterapkan secara luas,” tambahnya.

Selain melalui seleksi varietas, BRIN juga mengembangkan pendekatan inovatif melalui induksi keragaman genetik menggunakan mutasi buatan untuk memperoleh tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan. Pendekatan ini dinilai penting mengingat sebagian plasma nutfah hasil penelitian terdahulu tidak lagi dapat ditelusuri keberadaannya, karena purwoceng selama bertahun-tahun belum menjadi komoditas prioritas pengembangan.

“Oleh sebab itu, penguatan konservasi sumber daya genetik menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan riset maupun pemanfaatannya di masa depan,” tegas Otih.

Dalam perspektif industri, ia menekankan keberhasilan pengembangan purwoceng tidak cukup hanya menghasilkan varietas unggul. Standardisasi mutu bahan baku menjadi aspek yang sama pentingnya agar produk herbal yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten. Menurutnya, mutu purwoceng dipengaruhi oleh kepastian identitas tanaman, teknik budi daya, waktu panen, hingga penanganan pascapanen.

“Penentuan umur panen sekitar enam bulan atau ketika tanaman memasuki fase generatif merupakan waktu yang paling tepat karena kandungan metabolit sekundernya berada pada kondisi optimal,” ujar Otih.

Ia menambahkan standardisasi tersebut diperlukan untuk menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk herbal secara berkelanjutan.

Otih juga mengingatkan risiko pemalsuan bahan baku akibat tingginya permintaan pasar. Beberapa tanaman lain seperti Valeriana officinalis, kolesom, maupun som jawa memiliki bentuk akar yang menyerupai purwoceng. Namun, kandungan senyawa aktif dan manfaat farmakologinya berbeda.

Karena itu, identifikasi varietas dan kepastian jenis tanaman harus menjadi bagian integral dalam sistem pengendalian mutu bahan baku agar produk herbal tetap memenuhi standar keamanan dan efektivitas.

Sebagai strategi jangka panjang, BRIN mendorong penguatan konservasi baik secara in situ maupun ex situ, pengembangan teknologi kultur jaringan dan embriogenesis somatik untuk mempercepat penyediaan bibit, inovasi pemuliaan yang menghasilkan varietas adaptif terhadap agroekologi baru, serta penguatan kemitraan antara petani dan industri agar rantai pasok bahan baku dapat terbangun secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk memastikan bahwa konservasi tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari pembangunan ekonomi berbasis biodiversitas.

Otih menggarisbawahi keberhasilan pengembangan purwoceng hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari peneliti, petani, industri, hingga pemerintah daerah.

“Purwoceng masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Karena itu, budi daya, konservasi, dan standarisasi bahan baku harus terus diperkuat agar tanaman ini tetap lestari, memberikan manfaat ekonomi bagi petani, serta mampu memenuhi kebutuhan industri dengan mutu yang terjamin,” pungkas Otih.

Tags: Purwoceng

Related Posts

NV Bima.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

N.V. BIMA Pabrik Panci Legendaris, Tembus Pasar Dunia

Editor
16 Juli 2026

N.V. BIMA adalah jejak manufaktur dunia yang terlihat di Kota Bandung. Kisahnya mewarnai jejak peradaban manusia yang terus beradaptasi dan...

Kementerian Pariwisata melalui Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata, Hafiz Agung Rifai (ketiga dari kiri) bersama stakeholders meluncurkan Explorex 2027 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (14/7/2026).(Foto: Dok. Kemenpar)

Explorex 2027: Memantik Adrenalin, Mendongkrak Wisata Petualangan

Editor
15 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendukung penyelenggaraan Exploration and Experience Expo (Explorex) 2027 sebagai langkah strategis dan katalisator untuk...

Museum Musik rencananya akan menempati aset Jiwasraya di Jalan Asia-Afrika Bandung.(Foto: Dok. Jiwasraya)

Museum Musik di Bandung, Museum Film di Jakarta, Museum Fotografi di Semarang

Editor
15 Juli 2026

Museum Musik di Bandung, Museum Film di Jakarta, Museum Fotografi di Semarang akan menggunakan aset Jasa Raharja dan Jiwasraya dibawah...

Kereta api melintasi jembatan.(FOTO: Humas KAI). penumpang KAI 2024,ka parahyangan.layanan baru KAI, KA Cut Meutia.KA Pasundan

Rute Terpanjang Kereta Api, Sebagian Tembus 1.000 KM

Editor
14 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA – Rute terpanjang kereta api di Indonesian tercatat beberapa di antaranya ada yang menembus 1.000 KM, menurut data...

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bersama Chairman The Nippon Foundation Yohei Sasakawa mengunjungi Kompleks Kusta Jongaya, RW 04, Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sabtu (11/7/2026).(Foto: Humas Kemenkes)

Kampung Kusta Jongaya, Menkes: Kusta Bukan Kutukan

Editor
12 Juli 2026

Kampung Kusta Jongaya dikunjungi menjadi wujud komitmen pemerintah bersama mitra internasional untuk mempercepat eliminasi kusta sekaligus menghapus stigma yang masih...

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya (kiri), bersama Fotografer profesional sekaligus pendiri Huta Art Space, Edward Tigor Siahaan (kanan) mengamati foto pada pameran Toba Heritage Photo Exhibition 2026 di Huta Art Space, Sumatra Utara, Sabtu (11/7/2026).

Pameran Foto Toba Heritage, Menteri Ekraf: Perkuat Ekosistem Ekraf

Editor
12 Juli 2026

Pameran Foto Toba Heritage berlangsung di Huta Art Space, Sumatra Utara, Sabtu (11/7/2026). SATUJABAR, JAKARTA - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Pesona Jawa Barat