SATUJABAR, BANDUNG–Volume arus balik Lebaran di jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada H+7 Lebaran, Sabtu (28/03/2026), melandai. Tidak terjadi lonjakan arus kendaraan, seperti diprediksi peningkatan akan terjadi pada akhir pekan menjelang berakhirnya libur sekolah.
Jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, terpantau lengang, tidak terjadi lonjakan arus kendaraan memasuki H+7 Lebaran, Sabtu (28/03/2026). Arus balik Lebaran menunjukan penurunan, meski diprediksi akan terjadi peningkatan gelombang kedua, pada akhir pekan menjelang berakhirnya libur sekolah.
Berdasarkan data Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bandung, tercatat sebanyak 37.986 kendaraan melintas di jalur Nagreg, menuju arah Bandung hingga Jakarta. Sementara arus sebaliknya, dari arah Bandung menuju Selatan Jawa Barat, Tasikmalaya dan Garut, sebanyak 30.500 kendaraan melintas.
Dibandingkan data pada H+7 Lebaran tahun lalu, berbeda cukup jauh. Saat itu, volume kendaraan dari arah timur menuju Bandung dan Jakarta, mencapai 65.229 kendaraan, dan dari arah sebaliknya, sebanyak 38.562 kendaraan melintas.
Menurut Koordinator Humas Pos Pengamanan Lebaran Dishub Kabupaten Bandung, Ruddy Heryadi, tidak terjadi lonjakan volume kendaraan arus balik yang ekstrem hingga Sabtu sore. Berbeda dengan prediksi awal, memperkirakan akan terjadi gelombang kedua arus balik Lebaran pada akhir pekan
“Secara statistik, tren peningkatan ekstrem, atau luar biasa, sudah terjadi sejak H+2 hingga mencapai puncaknya pada H+3 Lebaran. Banyak masyarakat yang memilih pulang lebih awal untuk mengejar jadwal masuk kerja pada H+4,” ujar Ruddy, Sabtu (28/03/2026).
Ruddy mengungkapkan, meski Senin (30/03/2026), merupakan hari pertama masuk sekolah, tanda-tanda kepadatan tidak terjadi sejak Sabtu pagi hingga sore. Kondisi lalu-lintas lancar.
Koordinasi terus dilakukan dengan pihak kepolisian di wilayah Limbangan, Kabupaten Garut, untuk memantau kemungkinan adanya pengalihan arus, berupa skema one-way, atau satu arah, jika terjadi penumpukan dari arah timur. Selain fokus pada kelancaran arus, dinas perhubungan juga memberi perhatian khusus pada faktor keselamatan berkendara di tengah cuaca ekstrem.
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Bandung Raya, termasuk di jalur Nagreg, berisiko kecelakaan. Kerawanan di jalur utama, faktor jarak pandang akibat hujan bisa menurunkan visibilitas pengendara.
Kontur jalur Nagreg yang didominasi tanjakan dan turunan curam menjadi lebih berbahaya, saat aspal dalam kondisi basah dan licin. Selain itu, ancaman terjadinya pohon tumbang di sepanjang jalur akibat hujan lebat dan angin kencang.
“Kami mengimbau pemudik, khususnya pengendara sepeda motor, tidak memaksakan perjalanan saat hujan lebat. Lebih baik menepi sejenak di tempat aman menunggu reda, jangan karena ingin cepat sampai tujuan, keselamatan diabaikan,” imbau Rudi.







