• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Senin, 11 Mei 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Kembali ke Masa Lalu di Alun-Alun Tegalkalong: Semangat Budaya yang Tak Ingin Padam

Editor
Senin, 08 September 2025 - 09:50
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir.(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir.(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Suara kayu dipukul berdentang. Anak-anak berlarian sambil tertawa riang, bermain egrang dan engkle di pelataran Alun-Alun Tegalkalong, Kecamatan Sumedang Utara. Sementara di sudut lain, seorang ibu tua sedang menjelaskan cara menimba air dari sumur yang dibangun ala zaman dulu.

Suasana itu tak biasa. Seolah waktu berhenti sejenak, lalu memutar balik ke masa ketika teknologi belum menguasai segalanya. Ketika permainan anak-anak bukan layar sentuh, tapi tanah, kayu, dan tawa.

RelatedPosts

Egrang Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Ruang Digital

Di Bogor, Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Disambut Ribuan Warga

Wayang Kulit Gegesik & Regenerasi Dalang

Inilah Gelar Budaya bertema “Sumanget Kasumedangan Ngaguar Sajatining Tali Paranti Ti Bihari Ka Kiwari”, sebuah upaya menyambungkan benang budaya dari masa lalu ke masa kini. Sebuah upaya, agar tak semuanya hilang begitu saja tertelan zaman.

 

Rumah Panggung, Leuit, dan Sumur Timbanya… Hidup Kembali

Warga Sumedang tumpah ruah. Ada yang mengenakan pakaian tradisional, ada pula yang datang membawa anak-anak mereka untuk menyaksikan langsung seperti apa kehidupan “baheula”.

Mulai dari bentuk rumah tradisional, leuit (lumbung padi), sumur timba, hingga permainan anak-anak khas Sunda, semuanya hadir dan hidup kembali. Tak hanya sebagai pajangan, tapi benar-benar dimainkan dan dirasakan.

 

Bupati Turun Tangan, Main Beklen dan Nostalgia Masa Kecil

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, hadir dan menyambut hangat acara ini. Ia bahkan sempat ikut bermain bersama anak-anak.

“Ini luar biasa. Anak-anak jadi tahu bagaimana bentuk rumah zaman dulu, makanan, hingga permainan tradisional. Mereka jadi belajar, dan ini penting agar mereka tidak lupa dari mana mereka berasal,” ujar Bupati Dony seperti dilansir laman Pemkab Sumedang.

Bagi Dony, memperkenalkan budaya pada generasi muda bukan hanya soal melestarikan tradisi, tapi juga menyelamatkan anak-anak dari ketergantungan gawai.

“Permainan tradisional seperti egrang, congklak, beklen, itu membuat anak-anak bergerak, tertawa, berpikir. Mereka jadi lebih ceria dan pintar. Ini cara kita menjaga masa depan mereka, dengan memberi ruang pada masa lalu,” tambahnya.

 

Gelar Budaya Bukan Sekadar Panggung Acara

Bukan hanya budaya yang ditampilkan. Gelar Budaya ini juga menjadi ruang kolaborasi antar-instansi. Dinas Kesehatan membuka layanan cek kesehatan gratis, sementara Dinas Pendidikan mengajak siswa sekolah dasar melakukan observasi budaya secara langsung.

“Saya ingin kegiatan seperti ini tidak berdiri sendiri. Harus terintegrasi. Anak-anak bisa belajar, data kesehatan masyarakat juga bisa dikumpulkan. Semua bisa saling mendukung,” tutur Dony.

Anak-anak sekolah tampak antusias mencatat di lembar observasi mereka, mewawancarai pengisi acara, dan mencatat bentuk rumah adat hingga nama permainan yang mereka temui.

 

Menyalakan Obor Budaya di Tegalkalong

Bupati Dony berharap, obor budaya yang dinyalakan di Alun-Alun Tegalkalong ini tidak padam begitu saja. Ia ingin tempat ini menjadi lebih dari sekadar ruang terbuka hijau—tapi juga sebagai pusat edukasi, ekonomi, silaturahmi, dan tentunya budaya.

“Alun-Alun ini bisa menjadi tempat berkumpul yang berdampak positif, bukan cuma tempat nongkrong. Ini bisa meningkatkan indeks kebahagiaan warga. Saya harap, kegiatan seperti ini bisa ditiru di kecamatan lain,” tuturnya penuh harap.

 

Dari Masa Lalu untuk Masa Depan

Hari itu, di bawah sinar matahari sore dan angin yang mengibarkan kain batik di tenda-tenda pameran, Sumedang seolah mengirim pesan: bahwa akar budaya tak boleh putus, dan masa lalu adalah bagian penting dari masa depan.

Anak-anak yang tertawa sambil bermain congklak, orang tua yang tersenyum melihat kembali mainan masa kecil mereka, hingga pemuda yang ikut mengenakan pangsi dan iket kepala—semua menjadi saksi bahwa budaya masih hidup, selama ada yang peduli dan melestarikannya.

 

#SumedangNgaguarBudaya #GelarBudayaTegalkalong #KaulinanBarudak #BudayaSundaHirupKembali

Tags: budaya sumedangbupati sumedangDony Ahmad Munir

Related Posts

Egrang – permainan tradisional - dinilai semakin relevan di tengah tingginya intensitas anak-anak hidup di ruang digital, ungkap Wamen Komdigi Nezar Patria.(Foto: Komdigi)

Egrang Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Ruang Digital

Editor
10 Mei 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Egrang – permainan tradisional - dinilai semakin relevan di tengah tingginya intensitas anak-anak hidup di ruang digital....

Milangkala Tatar Sunda di Kota Bogor.(Foto: Humas Pemkot Bogor)

Di Bogor, Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Disambut Ribuan Warga

Editor
10 Mei 2026

Sejak sore hari, masyarakat sudah berdatangan dan memenuhi sepanjang jalur kirab demi menyaksikan salah satu perhelatan budaya terbesar yang menghadirkan...

Wayang Kulit Gegesik hadir di Alun-alun Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon.(Foto: Humas Pemkab Cirebon)

Wayang Kulit Gegesik & Regenerasi Dalang

Editor
10 Mei 2026

KABUPATEN CIREBON —Wayang Kulit Gegesik hadir di Alun-alun Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, menjadi ajang regenerasi dalang muda sekaligus upaya pelestarian...

Festival Budaya Nusantara XVII 2026 hadir atas kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bogor dan mahasiswa Program Studi Komunikasi Digital Media Sekolah Vokasi IPB.(Foto: Humas Pemkab Bogor)

Festival Budaya Nusantara XVII 2026 di Stadion Pakansari Bogor

Editor
10 Mei 2026

SATUJABAR, CIBINONG - Festival Budaya Nusantara XVII 2026 hadir atas kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bogor dan mahasiswa Program Studi Komunikasi Digital...

Mahkota Binokasih.(Foto: Humas Pemkab Bogor)

Mahkota Binokasih Pajajaran dan Bogor

Editor
9 Mei 2026

SATUJABAR, BOGOR – Mahkota Binokasih memiliki keterikatan sejarah dengan Bogor sebagai bagian dari peradaban Pajajaran. Mahkota Binokasih adalah simbol kejayaan...

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir bersama sejarawan Unpad Professor Nina Herlina Lubis di Gedung Negara, Jum’at (8 Mei 2026). Bupati komit wujudkan Sumedang Puseur Budaya Sunda.(Foto: Humas Pemkab Sumedang)

Sumedang Puseur Budaya Sunda Siap Diwujudkan, Didukung KDM

Editor
9 Mei 2026

SATUJABAR, SUMEDANG - Sumedang Puseur Budaya Sunda menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam upaya mewujudkan pembangunan berbasis budaya. Bupati...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.