• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Minggu, 15 Maret 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Monumen Perjuangan Jawa Barat Situs Heroik

Editor
Minggu, 11 September 2022 - 07:02
Monumen Perjuangan Jawa Barat

Diorama di dalam Museum Monumen Perjuangan Jawa Barat (bandung.go.id)

SATUJABAR, BANDUNG – Monumen Perjuangan Jawa Barat di Jalan Dipatiukur Nomor 48 dibangun untuk memperingati perjuangan rakyat Jawa Barat melawan penjajah.

Monumen ini berhadapan langsung dengan Gedung Sate dan membelakangi Gunung Tangkuban Parahu.

RelatedPosts

Tradisi Jelang Lebaran di Sumedang, Ratusan Orang Meriahkan Gobyag Lauk Situ Arja

Kementerian Ekraf Ingin Turnamen Game Internasional Jadi Panggung Produk Kreatif Lokal

Sejumlah Taman di Kota Bandung Bersiap Sambut Warga Saat Lebaran

Pemandu di Monumen Perjuangan, Mochamad Rikrik mengungkapkan, pembangunan Monumen Perjuangan memakan waktu selama 4 tahun.

Dimulai dari peletakkan batu pertama pada 1 Juni 1991, dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Raden Nana Nuriana pada 23 Agustus 1995.

Arsitek dari bangunan ini ialah Slamet Wirasonjaya dan seorang seniman, Sunaryo.

Menuju ke atas, pengunjung akan menaiki 17 anak tangga dan juga terdapat 8 buah pilar.

Bentuk dari monumen ini ialah lingkaran dengan diameter 45 meter.

Angka-angka tersebut melambangkan hari kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.

Pada bagian atas, menjulang tinggi 5 buah tugu yang melambangkan simbol dasar Negara Indonesia, yaitu Pancasila.

Tinggi tugunya ialah 17 meter yang menyimbolkan tanggal kemerdekaan Indonesia.

Tugu tersebut berbentuk seperti sebuah bambu yang merupakan simbol orang Bandung. Karena sejak zaman dahulu masyarakat Bandung sudah berkaitan dengan bambu.

Selain itu, bentuk tugu seperti bambu runcing juga menjelaskan bahwa alat perang yang digunakan rakyat Indonesia dalam melawan para penjajah yaitu bambu runcing.

Diketahui, di masa lampau, Wanita yang melahirkan akan diputus ari-ari nya menggunakan hinis, sebuah alat pemotong dari bahan bambu.

Selain itu, anak laki-laki yang disunat akan dipotong menggunakan hinis.

Pada sisi kanan dan kiri dari Monumen Perjuangan, terdapat sebuah relief yang menceritakan perjalanan perjuangan rakyat Jawa Barat.

Dimulai dari masa kerajaan, kedatangan pasukan kolonial, hingga merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Di ujung relief, terdapat pintu masuk menuju ke Museum Monumen Perjuangan yang berlokasi tepat di bawah monumennya. Isi museum menjelaskan seputar peristiwa dan tokoh-tokoh di Jawa Barat.

Pada awal dirintis tahun 2012, museum masih disebut sebagai ruang pamer.

Karena untuk menjadi sebuah museum, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Barulah pada 2018, ruang pamer tersebut dapat disebut sebagai museum, seiring dengan bertambahnya koleksi.

FASILITAS

Museum ini menyediakan beberapa ruangan dan fasilitas yang dapat digunakan oleh pengunjung museum, seperti auditorium, ruang dokumenter, ruang diorama, ruang pamer benda bersejarah, dan perpusatakaan.

Ketika masuk, pengunjung akan disuguhkan beberapa foto para tokoh pejuang asal Jawa Barat. Terdapat juga 12 manekin dengan beragam seragam prajurit jaman dahulu yang berdiri rapi dalam sebuah kotak kaca.

Auditorium digunakan untuk menayangkan film-film perjuangan yang disesuaikan dengan usia pengunjung.

Kapasitas pengunjung yang mencapai 150 orang, kini di batasi menjadi 50 orang saja sejak adanya pandemi Covid-19.

Terdapat literasi tentang pejuang dari jaman kerajaan, pahlawan pendidikan, dan politikus yang ada di Jawa Barat.

Ada juga sejarah singkat serta bendera setiap kabupaten/kota, dan foto-foto bangunan heritage yang kebanyakan terdapat di Kota Bandung.

Selanjutnya, ditampilkan 9 diorama yang menceritakan berbagai peristiwa. Ada peristiwa masuknya bangsa Portugis ke Indonesia, peristiwa Bandung Lautan Api, perjanjian Linggarjati, dan peristiwa-peristiwa lainnya.

Ruang terakhir yaitu ruang pamer benda bersejarah. Dipamerkan beberapa peninggalan dari Raden Ayu Lasminingrat, Dewi Sartika, Inggit Garnasih, R.E Martadinata, I.R Juanda, Otto Iskandar Dinata, dan Mak Eroh.

Benda-benda peninggalan dari jaman penjajahan juga dipamerkan di sini.

Terdapat senjata, helm baja, teropong, golok, pesawat telepon, topi laken, koper besi, tombak, keris, samurai, katana, dan pistol VOC.

Untuk mengunjungi monumen ini, pengunjung tidak dipungut biaya. Monumen dan museum beroperasi pukul 08.00-16.00 WIB pada hari Senin-Jumat, dan tutup di hari Sabtu-Minggu, serta hari libur nasional.

Pengunjung dapat melakukan reservasi seminggu sebelum berkunjung ke kantor UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat.

Sumber: bandung.go.id

Tags: kota bandungmonjumonumen perjuangan

Related Posts

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar di tradisi jelang Lebaran di Kuningan Gobyak Lauk.(Foto: Humas Pemkab Kuningan)

Tradisi Jelang Lebaran di Sumedang, Ratusan Orang Meriahkan Gobyag Lauk Situ Arja

Editor
15 Maret 2026

KUNINGAN – Suasana meriah dan penuh kegembiraan terlihat di Situ Arja, Kelurahan Cirendang, Sabtu (14/3/2026), saat masyarakat mengikuti pesta rakyat...

(Foto: Dok. Ekraf)

Kementerian Ekraf Ingin Turnamen Game Internasional Jadi Panggung Produk Kreatif Lokal

Editor
13 Maret 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, membahas peluang kolaborasi antara PUBG MOBILE...

Hutan Kota Babakan Siliwangi.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Sejumlah Taman di Kota Bandung Bersiap Sambut Warga Saat Lebaran

Editor
12 Maret 2026

SATUJABAR, BANDUNG - Libur Lebaran menjadi momen yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga sambil menikmati suasana Kota Bandung. Selain wisata...

(Foto: Dok. bank bjb)

The Ultimate10K Series Powered by bank bjb: Menghubungkan Empat Kota, Menggerakkan Ekonomi, dan Menghidupkan Sport Tourism Nasional

Editor
11 Maret 2026

JAKARTA – bank bjb kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui peluncuran rangkaian event lari The Ultimate10K Series...

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bersama anak-anak peserta kegiatan Kelas Digital Sahabat Tunas: Tunggu Anak Siap di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta, Senin (9/3/2026). Meutya menegaskan bahwa PP Tunas tidak dimaksudkan untuk melarang anak menggunakan teknologi, melainkan memastikan anak memiliki kesiapan mental dan psikologis sebelum memasuki ruang media sosial yang kompleks. Foto: Noel/Indonesia.go.id/KPM Komdigi

Kenapa Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Akses Medsos, Ini Penjelasan Menteri Komdigi

Editor
10 Maret 2026

SATUJABAR, BANDUNG – Kenapa anak di bawah 16 tahun tidak boleh akses media sosial sebelum cukup usianya? Salah satu alasannya...

(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Persis Ramadan Expo 2026, Dorong Penguatan UMKM dan Ekonomi Keumatan

Editor
7 Maret 2026

SATUJABAR, BANDUNG - Pengurus Pusat Persatuan Islam (PP Persis) menggelar Persis Ramadan Expo 2026 yang digelar di area parkir barat...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.