Berita

Wamendag Dorong Penguatan Sistem Digital dan Tera Ulang Alat Ukur dalam Penanganan ODOL

BANDUNG – Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, menghadiri rapat koordinasi nasional terkait penanganan kendaraan Over Dimension and Over Load (ODOL) yang diselenggarakan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Selasa (6/5). Rapat dipimpin langsung oleh Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono.

Dalam rapat tersebut, Menko Agus mengungkapkan bahwa permasalahan ODOL telah menimbulkan kerugian negara yang signifikan. “Akibat operasional truk ODOL yang merusak struktur jalan, negara menanggung kerugian material hingga Rp43,45 triliun, belum termasuk risiko kecelakaan lalu lintas yang meningkat akibat kendaraan dengan muatan berlebih,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Wamendag Dyah Roro menekankan pentingnya sistem pendataan angkutan barang yang terintegrasi secara elektronik. Ia menyatakan bahwa Kementerian Perdagangan siap berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk memastikan kesiapan dan pemanfaatan sistem informasi tersebut guna memperkuat pengawasan dan pengendalian kendaraan angkutan barang.

Selain itu, Wamendag juga menyoroti perlunya optimalisasi penggunaan alat ukur dan timbang kendaraan, khususnya alat Weight in Motion (WIM) yang digunakan untuk mengukur beban muatan kendaraan. Ia menegaskan bahwa WIM wajib ditera ulang secara berkala sebagaimana diatur dalam Permendag Nomor 24 Tahun 2024 tentang Kegiatan Tera dan Tera Ulang Alat Ukur, Alat Takar, Alat Timbang, dan Alat Perlengkapan Metrologi Legal.

“Langkah ini penting untuk memastikan keakuratan data muatan kendaraan sehingga pengawasan terhadap ODOL dapat dilakukan secara objektif dan transparan,” jelas Dyah Roro.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong dilakukannya kajian mendalam terkait dampak kebijakan Zero ODOL terhadap ekonomi dan inflasi. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Pusat Kebijakan Perdagangan Domestik tahun 2021, penerapan Zero ODOL dapat mendorong peningkatan jumlah armada angkutan, yang berdampak pada kebutuhan SDM pengemudi dan investasi baru dalam sektor transportasi.

Namun demikian, kebijakan ini juga diperkirakan menimbulkan tantangan seperti potensi kemacetan di titik bongkar muat, jalan raya, dan lokasi stasiun penimbangan akibat peningkatan jumlah kendaraan.

Meski begitu, Wamendag menekankan bahwa manfaat Zero ODOL jauh lebih besar dalam jangka panjang. “Kualitas produk akan lebih terjamin, biaya pemeliharaan jalan dan jembatan bisa ditekan, umur kendaraan lebih panjang, dan efisiensi pemeliharaan kendaraan meningkat. Selain itu, kebijakan ini juga berpeluang mendorong pertumbuhan industri karoseri nasional,” tegasnya.

Rapat koordinasi ini menjadi momentum penting bagi kementerian dan lembaga terkait untuk memperkuat sinergi dan merumuskan langkah konkret dalam mendukung implementasi kebijakan Zero ODOL secara bertahap dan berkelanjutan.

Editor

Recent Posts

Harga Emas Selasa 23/6/2026 Antam Rp 2.673.000 Per Gram

SATUJABAR, BANDUNG – Harga emas Selasa 23/6/2026 jenis batangan Antam, dikutip dari situs Aneka Tambang…

32 menit ago

Top Skor Piala Dunia Sepanjang Masa, Messi VS Mbappe

SATUJABAR, BANDUNG - Sejarah baru terukir pada saat Piala Dunia 2026. Legenda Argentina, Lionel Messi,…

56 menit ago

Piala Dunia 2026: Prancis Tekuk Iraq 3-0, Mbappe Pepet Messi

SATUJABAR, BANDUNG – Piala Dunia 2026, Senin 22 Juni 2026 waktu setempat atau Selasa 23…

2 jam ago

Sales Mission Kemenpar Penetrasi Pasar Korsel

Sales Mission Kemenpar 2026 bagian dari promosi pada Seoul International Travel Fair (SITF) 2026 yang…

2 jam ago

Spring Airlines Layani Guangzhou dan Shenzhen ke Jakarta

Spring Airlines Rute Guangzhou dan Shenzhen ke Jakarta sebagai wujud konektivitas udara antara Republik Rakyat…

2 jam ago

iLight Singapore 2026: Resonora Tampil Memukau

iLight Singapore 2026 berlangsung pada 5–28 Juni 2026 di kawasan Marina Bay dan Raffles Place,…

2 jam ago

This website uses cookies.