SATUJABAR, GUNUNGKIDUL – Riset BRIN berhasil mengubah ampas kopi jadi minyak bernilai tinggi.
Seperti diketahui, kopi merupakan salah satu minuman favorit masyarakat dunia. Pada 2025-2026, produksi biji kopi dunia diperkirakan mencapai 10,73 juta ton dengan tingkat konsumsi sekitar 10,43 juta ton.
Akan tetapi, tingkat konsumsi kopi masyarakat yang tinggi berdampak pada meningkatnya limbah ampas kopi atau spent coffee ground (SCG) yang akan menimbulkan isu kerusakan lingkungan, seperti meningkatnya gas metana dan karbondioksida dari tempat pembuangan sampah, meningkatnya kadar asam air tanah, residu kopi, tanin dan fenolik, serta menghambat pertumbuhan tanaman.
Untuk mengatasi isu lingkungan tersebut, Periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fawzan Sigma Aurum, mengembangkan riset pemanfaatan limbah ampas kopi menjadi minyak bernilai tinggi.
Menurutnya, limbah ampas kopi selama ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, limbah ini mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi.
Fawzan menjelaskan minyak hasil penelitiannya berpotensi untuk dimanfaatkan dalam industri kosmetik dan bahan tambahan pangan. “Riset ini dilakukan melalui pendekatan foodomics modern yang menggabungkan teknologi ekstraksi hijau dengan analisis metabolomik dan lipidomik canggih,” terang Fawzan, Selasa (19/5).
Penelitian ini menghadirkan pendekatan integratif yang mengombinasikan teknik ekstraksi hijau dengan profiling foodomics untuk memperoleh dan mengkarakterisasi minyak berkualitas tinggi dari limbah kopi secara berkelanjutan.
Terkait dengan proses analisa, penelitian ini menggunakan instrumen LC-MS-QTOF dan LC-MS/MS guna mengidentifikasi berbagai komponen metabolit dan profil lipida penting yang terkandung di dalamnya.
“Hasil penelitian menunjukkan metode ultrasound-assisted extraction (UAE) menggunakan etanol menjadi metode paling efisien karena menghasilkan rendemen tinggi dengan kualitas komposisi kimia bioaktif terbaik. Termasuk kandungan lipida yang berpotensi menjadi komponen bioaktif yang tinggi, serta tingkat oksidasi lipida yang rendah,” paparnya seperti dikabarkan Humas BRIN.
Selain itu, metode supercritical CO₂ dengan tambahan solven etanol dinilai efektif dalam mempertahankan kualitas senyawa bioaktif. Sebaliknya, menurut Fawzan, metode Soxhlet yang mana teknik ini adalah teknik dasar ekstraksi lemak dan minyak, menghasilkan rendemen tertinggi namun memicu oksidasi lipida yang lebih besar akibat proses pemanasan berkepanjangan.
Penelitian juga menemukan senyawa seperti caffeoylquinic acids (CQAs), caffeic acid, feruloylquinic acid, dan glutamic acid memiliki korelasi positif terhadap keberadaan lipid non-oksidatif dan senyawa bioaktif penting lainnya pada ekstrak hasil UAE dan supercritical CO2.
Fawzan berharap riset ini dapat membuka peluang pemanfaatan limbah kopi menjadi produk bernilai tambah tinggi dalam pengembangan industri pangan, nutraceutical, ingredients serta bahan dasar kosmetik berkelanjutan di Indonesia. Selain itu, penelitian ini membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dalam bidang kimia pangan analitik serta pengembangan pangan inovatif.








