SATUJABAR, BANDUNG–Ramai dugaan keracunan massal di media sosial, seusai menyantap makanan di sebuah restoran Korea di Kota Bandung, Jawa Barat, menyedot perhatian masyarakat. Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bandung, langsung turun tangan memastikan kejadian dan penyebab keracunan makanan dengan jumlah korban disebutkan mencapai ratusan orang, sejak 02 hingga 04 Oktober 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam, membenarkan, adanya laporan dugaan keracunan massal yang ramai di media sosial, seusai menyantap makanan di sebuah restoran Korea. Namun, pihaknya belum bisa merinci jumlah pasti korban, karena masih dalam proses investigasi.
“Iya benar, kami sudah menerima laporannya (keracunan massal). Kami langsung turun, saat ini masih proses investigasi,” ujar Sony, dalam keterangannya, Rabu (07/10/2026).
Restoran Korea yang disebutkan berlokasi di kawasan 23 Paskal (Pasirkaliki) Kota Bandung, bernama 88 Seoul. Managemen 88 Seoul pun buka suaraz membenarkan, laporan dan menerima keluhan pelanggan.
Menurut Marketing General Manager 88 Seoul, Sarah Merci, pihaknya telah menerima laporan dan keluhan dari sejumlah pelanggan. Laporan mengeluhkan dugaan keracunan yang dialami.
“Betul, kami menerima laporan dan keluhan dari sejumlah pelanggan, setelah berkunjung ke 88 Seoul 23 Paskal. Kami mendenngar dan peduli atas kekhawatiran dari para pelanggan,” ujar Sarah kepada wartawan.
Sarah memastikan, pihak restoran telah memberikan bantuan dan terus berkomunikasi dengan pelanggan untuk memantau kondisinya. Meski dugaan keracunan terjadi seusai menyantap makanan di restorannya, operasional diklaim sudah berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Untuk saat ini, karena proses penelusurannya masih berlangsung, kami belum bisa memberikan informasi lanjutan. Kami akan terus menindaklanjuti hal ini secara bertanggung jawab,” tegas Sarah.
Dari temuan sementara Dinkes Kota Bandung, menyoroti aspek kebersihan dan sanitasi di restoran yang perlu dibenahi. Pemeriksaan laboratorium sampel makanan di Restoran Korea 88 Seoul, masih berlangsung untuk memastikan penyebab.
Jumlah korban keracunan disebutkan mencapai 284 orang. Jumlah korban yang mengeluhkan gejala keracunan makananan tersebut, berlangsung dalam tiga hari.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari, mengatakan, pemeriksaan awal menemukan sejumlah masalah terkait higiene, atau kebersihan makanan, dan sanitasi di restoran sebagai lokasi kejadian.
“Secara umum dari pemeriksaan awal, memang ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki oleh pihak restoran,” ujar Dewi, dalam keterangan tertulis di laman http://bandung.go.id.
Dewi mengungkapkan, Dinkes Kota Bandung menemukan bahan pangan yang belum dipisahkan dari persediaan bahan kimia berbahaya, seperti sabun pencuci piring dan cairan pembersih. Selain itu, luas area dapur yang terbatas, sehingga harus ditata ulang.
Penerapan SOP perputaran bahan baku berbasis tanggal kedatangan dan kedaluwarsa juga belum berjalan secara jelas. Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki, harus mengenakan pelindung dirinya, masker, kemudian pekerja wanita tidak berkerudung, atau laki-laki, harus menggunakan hair net.
Dinkes Kota Bandung telah memberikan rekomendasi pembenahan kepada manajemen restoran. Investigasi mencakup penataan tata letak ruang usaha, kelayakan peralatan masak, hingga pemisahan stok bahan baku, mencegah kejadian serupa.







