SATUJABAR, BANDUNG – Penulis baru saja menyimak konten Sam Chui, vlogger penerbangan top dunia terkait penerbangan First Class The Emirates tahun 2024 lalu. Pada salah satu scene saat berada di Lounge, dia mengulas terkait hidangan breakfast yang disediakan di Lounge Emirates di Dubai Uni Emirat Arab tersebut. Dan dia mengatakan ‘Jangan lupa pesan omlet masala’ atau dalam Bahasa Inggris masala omelette.
Penulis penasaran dengan menu sarapan yang dibilang rekomended tersebut. Kemudian menelusurinya di Wikipedia. Begini ceritanya:
Di sudut-sudut jalan India yang sibuk, aroma rempah yang menguar di udara pagi sering kali bermuara pada sebuah wajan datar yang mendesis. Di sanalah masala omelette lahir—sebuah mahakarya sederhana yang mengubah telur dadar biasa menjadi sebuah petualangan rasa yang kaya.
Kisah kelezatan ini dimulai dari mangkuk kecil tempat telur-telur segar dikocok hingga mengembang sempurna. Namun, ini bukan sekadar telur dadar. Masala omelette adalah cerminan dari keberagaman wilayah India itu sendiri. Di dalam kocokan telur itu, berpadu harmonis cabai hijau yang diiris halus, bawang merah yang renyah, daun ketumbar segar, serta sejumput garam dan jeera (jintan) yang menghangatkan.
Di beberapa daerah lain, para koki lokal menambahkan parutan kelapa segar, lada hitam, daun kari yang harum, hingga potongan tomat merah yang berair. Bahkan, untuk sentuhan yang lebih mewah, parutan keju yang meleleh sering kali ditaburkan di atasnya, atau diisi dengan udang dan daging ayam berbumbu kari yang menggugah selera.
Sentuhan Teknik yang Berbeda
Ada seni unik di balik pembuatannya. Berbeda dengan teknik memasak ala Barat yang membutuhkan wajan sangat panas, masala omelette dimasak dengan kesabaran.
Suhu Awal yang Rendah: Wajan biasanya tidak dipanaskan terlalu tinggi sebelum adonan telur dituangkan.
Proses Memasak Perlahan: Api kompor baru dinyalakan tepat saat telur menyentuh wajan, membiarkannya memadat perlahan dan menyerap seluruh sari dari rempah-rempah yang ada di dalamnya.
Keunikan dan kehangatan rasa inilah yang membuat George Frederick Scotson-Clark, penulis buku kuliner ternama Eating Without Fears, terpikat. Dalam catatannya, ia menggambarkan hidangan ini bukan sekadar menu sarapan, melainkan sebuah hidangan larut malam yang luar biasa (“an excellent late supper dish”).
Hingga kini, masala omelette terus bertahan—tidak hanya sebagai pengisi perut yang lapar di malam yang dingin, tetapi juga sebagai sebuah warisan kuliner yang merayakan kekayaan rempah dalam setiap gigitannya.







