• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Senin, 3 Agustus 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Nurtanio Gugur Saat Uji Coba Pesawat di Lapangan Tegallega Bandung

Editor
Selasa, 13 Desember 2022 - 12:00

SATUJABAR, BANDUNG – Industri Penerbangan di Indonesia harus berterimakasih kepada Nurtanio Pringgoadisuryo. Namanya memang tidak sepopuler Bacharuddin Jusuf Habibie, presiden RI ketiga yang menjadi pelopor industri penerbangan. Namun Nurtanio adalah perintis industri penerbangan Indonesia pertama.

Tragisnya, Nurtanio meninggal karena sedang mencoba pesawat terbang buatan luar negeri pada 21 Maret 1966. Penyebabnya adalah salah satu mesinnya mati mendadak. Padahal, pesawat buatan luar negeri ini teknologinya dianggap lebih baik.

RelatedPosts

BRIN Jelaskan Kematian Massal Ikan di Danau Batur Bali

Padaringan Leuweung Awi Cisurupan Dibuka, Topang Sustainable Tourism

Taipei Open 2026: Leo/Daniel Sukses ke Final

Saat itu ia hendak melakukan uji coba penerbangan pesawat Arev (Api revolusi) yang akan digunakannya untuk berkeliling dunia. Nurtanio mengalami nasib nahas lantaran pesawat tersebut mengalami kerusakan mesin. Ia mencoba melakukan pendaratan darurat di lapangan Tegallega, Bandung, namun pendaratannya gagal lantaran pesawat menabrak toko. Nurtanio meninggal pada usia 42 tahun.

Suka Pesawat

Marsekal Muda Udara Nurtanio Pringgoadisuryo, lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan pada 3 Desember 1923.

Kecintaannya terhadap dunia penerbangan sudah mulai terlihat sejak zaman Hindia Belanda, di mana saat itu ia rutin berlangganan majalah penerbangan berbahasa belanda, yakni majalah Vliegwereld, dan sering menekuni masalah aeromodelling dan aerodinamika

Mengenai pendidikannya, sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Tinggi Teknik atau Kogyo Senmon Gakko di Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Dan di sana pula, ia mendirikan Junior Aero Club, sebuah perkumpulan yang membahas mengenai teknik pembuatan pesawat model yang merupakan dasar-dasar aerodinamika.

Di Junior Aero Club, penggila pesawat ini tidak hanya mendalami masalah pesawat model. Ia juga mendalami buku-buku teknik penerbangan serta membuat rancangan glider atau pesawat layang type Zogling.

Perkumpulan tersebut juga membuatnya berkenalan dengan dengan RJ Salatun, orang yang juga memiliki minat yang sama dengannya, dan kebetulan juga berlangganan majalah Vliegwereld.

Kemudian, di awal kemerdekaan Indonesia, Nurtanio dan RJ Salatun bergabung dengan Angkatan Udara di Yogyakarta, yang kala itu bernama TKR Jawatan Penerbangan.

Di sana, ia menjabat di Sub Bagian Rencana, sementara R.J Salatun menjabat di Sub Bagian Penerangan. Mereka juga bertemu dengan Wiweko Soepono, yang kala itu menjabat sebagai Kepala Bagian Rencana dan Penerangan. Di sinilah mereka bertiga dikenal sebagai tiga serangkai perintis kedirgantaraan Indonesia.

Glider

Dibantu oleh Halim Perdanakusuma, kala itu ketiganya bertugas untuk mendesain tata kepangkatan Angkatan Udara dan persiapan-persiapan lainnya. Nurtanio juga memiliki tugas lain, yakni merancang glider.

Karena kurang lengkapnya fasilitas yang ada di Yogyakarta, akhirnya usai menyelesaikan rancangan glider, Nurtanio dan Wiweko pindah ke Maospati.

Pada tahun 1947 di Maospati, Nurtanio dan Wiweko berhasil membuat beberapa pesawat glider yang dinamai NWG-1 (Nurtanio Wiweko Glider), yang kemudian digunakan untuk melatih para kadet penerbang yang akan dikirim ke India.

Di tahun 1950, Nurtanio kembali membuat pesawat all metal pertama Indonesia yang dinamai Sikumbang. Kala itu Nurtanio berencana menerbangkannya ke daerah Sekaten, Yogyakarta, namun rencana itu dibatalkan oleh Kepala Staf Angkatan Udara, Suryadarma, atas usulan dari R.J Salatun.

Pembatalan tersebut dilakukan lantaran R.J Salatun memiliki firasat buruk mengenai penerbangan tersebut. Akhirnya Nurtanio hanya menerbangkan pesawat Sikumbang di sekitar Landasan Udara Husein Sastranegara. Firasat buruk R.J Salatun terbukti, pesawat tersebut mengalami gangguan mesin mati.

Kemudian, di masa Jenderal A.H. Nasution menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional, Nurtanio juga membuat pesawat PZL-104 Wilga yang dinamai Gelatik. Pesawat ini adalah pesawat pertanian yang dapat menyemprotkan cairan pembasmi hama dari udara.

Karena dedikasinya yang begitu besar, namanya diabadikan dalam Industri Pesawat Terbang Nurtanio (sekarang IPT-Nusantara/IPTN/PT Dirgantara Indonesia).

Dan pada 9 April 2019, di acara resepsi HUT TNI AU ke-73 di Halim Perdanakusuma, Nurtanio dianugerahi sebagai Bapak Dirgantara Indonesia. Pemberian anugerah tersebut diberikan oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto kepada perwakilan keluarga Nurtanio.

Tags: iptnkecelakaan pesawatlapangan tegalleganurtaniosatujabar

Related Posts

Danau Batur Bali.(Foto: Humas BRIN)

BRIN Jelaskan Kematian Massal Ikan di Danau Batur Bali

Editor
3 Agustus 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena kematian massal ikan yang terjadi di...

Padaringan Leuweung Awi Cisurupan berlokasi di kawasan Bukit Mbah Garut, Kelurahan Cisurupan, Kecamatan Cibiru Kota Bandung.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Padaringan Leuweung Awi Cisurupan Dibuka, Topang Sustainable Tourism

Editor
2 Agustus 2026

Padaringan Leuweung Awi Cisurupan berlokasi di kawasan Bukit Mbah Garut, Kelurahan Cisurupan, Kecamatan Cibiru Kota Bandung. SATUJABAR, BANDUNG - Pemerintah...

Taipei Open 2026

Taipei Open 2026: Leo/Daniel Sukses ke Final

Editor
1 Agustus 2026

SATUJABAR, TAIPEI – Taipei Open 2026 atau YONEX Taipei Open 2026 digelar 28 Juli hingga 2 Agustus 2026.  Berlangsung di...

Helatan Budaya Nyanet Festival 2026 yang diselenggarakan di Lapangan Situgede, Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Kamis (30/7/2026) malam.(Foto: Muhamad Azi Zulhakim/Diskominfo Kab. Garut)

Bikin Bangga! Nyanet Festival di Garut Masuk Karisma Event Nusantara

Editor
31 Juli 2026

Nyanet Festival 2026, sebuah gelaran budaya daerah diselenggarakan di Lapangan Situgede, Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Kamis (30/7/2026) malam....

Logo Hari Jadi Kuningan.(Image: Humas Pemkab Kuningan)

Logo Hari Jadi Kuningan ke-528, Ini Pemenangnya

Editor
30 Juli 2026

SATUJABAR, KUNINGAN – Logo Hari Jadi Kuningan ke-528 telah ditetapkan pemenangnya yang akan menjadi Identitas Visual Hari Jadi ke-528 Kuningan....

Pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII IPDN Tahun 2026 di Lapangan Parade IPDN Kampus Jatinangor, Sumedang, pada Rabu (29/07/2026).(Foto: Setneg)

Lulusan Terbaik IPDN 2026 dari Keluarga Sederhana, Presiden: Bukti Meritokrasi

Editor
29 Juli 2026

SATUJABAR, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi keberagaman serta pemerataan akses pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Hal tersebut...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Pesona Jawa Barat