Kota Bandung tidak hanya menawarkan wisata kuliner dan kreatif, tetapi juga memiliki beragam destinasi wisata edukatif yang memperkaya wawasan masyarakat. Salah satunya adalah Museum ITB, ruang edukasi yang mengajak pengunjung menelusuri perjalanan panjang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan inovasi di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dirintis sejak 2025, Museum ITB lahir melalui kolaborasi lintas fakultas, unit, dan keilmuan. Sains, teknologi, seni, desain, hingga humaniora dipertemukan dalam satu ruang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif dan beragam.
Pengunjung dapat melihat bagaimana sebuah gagasan lahir, diuji, dikembangkan, hingga diwujudkan melalui berbagai artefak instrumen penelitian, dokumentasi eksperimen, hasil temuan, inovasi, serta arsip visual perjalanan kehidupan di kampus.
Museum ITB terbagi ke dalam empat zona yang membawa pengunjung menyusuri perjalanan ITB dari masa ke masa.
Zona pertama menghadirkan akar sejarah ITB, mulai dari masa awal pengembangan Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) pada 1920, tumbuhnya semangat kebangsaan di kalangan mahasiswa, hingga kontribusinya dalam membangun fondasi ilmu pengetahuan di Indonesia.
Zona kedua mengungkap perjalanan riset, inovasi, dan berbagai penemuan yang lahir dari lingkungan ITB. Pengunjung dapat melihat bahwa di balik sebuah inovasi terdapat proses panjang, eksperimen, tantangan, serta ketekunan para ilmuwan dan peneliti.
Zona ketiga membawa pengunjung lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus. Interaksi mahasiswa, dosen, dan peneliti menjadi bagian dari cerita tentang budaya belajar, penelitian, dan kolaborasi yang terus berkembang.
Sementara zona keempat memperlihatkan jejak para pemikir dan penggerak ITB yang memberikan kontribusi melalui ilmu pengetahuan, seni, teknologi, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Museum ITB juga menghadirkan sejumlah fasilitas pendukung untuk memberikan pengalaman yang lebih beragam kepada pengunjung. Salah satunya dome theater yang menampilkan video mengenai perjalanan ITB serta perkembangan teknologi.
Di area museum juga terdapat pesawat yang sebelumnya digunakan dalam kegiatan praktik mahasiswa. Kehadiran berbagai artefak tersebut menjadi kesempatan bagi pengunjung untuk melihat secara lebih dekat bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi diterapkan dalam kehidupan nyata.
Museum ITB turut menyediakan fasilitas yang inklusif serta terus mengembangkan fasilitas dan layanan agar dapat memberikan pengalaman edukasi yang nyaman bagi berbagai kalangan.
Tingginya minat masyarakat menjadikan Museum ITB sebagai salah satu ruang edukasi yang semakin diminati di Kota Bandung. Tidak hanya dikunjungi pada hari kerja, museum ini juga ramai menjadi pilihan masyarakat untuk mengisi waktu akhir pekan dengan kegiatan yang edukatif.
“Antusiasme masyarakat terhadap Museum ITB cukup tinggi. Kalau di akhir pekan, pengunjung mencapai sekitar 1.200 sampai 1.300 orang, sedangkan pada hari kerja rata-rata sekitar 300 sampai 400 pengunjung,” ujar Usep Mulyana, Koordinator Museum ITB.
Kehadiran Museum ITB diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat.
Pengelola Museum ITB terus mendorong kolaborasi dan diskusi dengan berbagai pihak, termasuk sekolah, untuk memperluas akses pembelajaran di luar ruang kelas.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, Museum ITB menyediakan tiket reguler sebesar Rp50.000, sedangkan tiket untuk pelajar dan mahasiswa sebesar Rp30.000. Museum juga melayani kunjungan rombongan dan kelompok.
Informasi mengenai jadwal kunjungan, fasilitas, serta layanan rombongan dapat diperoleh melalui Instagram @museumitb atau website museum.itb.ac.id.
Sumber: Humas Pemkot Bandung/bandung.go.id







