• Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video
Rabu, 14 Oktober 2026
No Result
View All Result
SATUJABAR
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
SATUJABAR
No Result
View All Result

Kit Deteksi Dini DBD Karya BRIN, Hasil Keluar 3 Menit

Editor
Minggu, 24 Mei 2026 - 07:28
Kit deteksi dini DBD karya BRIN.(Image: Humas BRIN)

Kit deteksi dini DBD karya BRIN.(Image: Humas BRIN)

SATUJABAR, TANGERANG SELATAN – Kit deteksi dini DBD atau Demam Berdarah Dengue karya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mampu mengeluarkan hasil tes dalam 3 menit.

Seperti diketahui DBD masih menjadi ancaman serius di Indonesia yang masuk klaster daerah tropis. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus ini kerap tidak terdeteksi sejak dini sehingga penderita datang dalam kondisi trombosit sudah turun drastis. Gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri sendi sering dianggap sepele, padahal jika terlambat ditangani bisa berujung pada kematian. Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berinovasi menemukan solusi yang cepat, tepat, dan mudah digunakan oleh masyarakat.

RelatedPosts

Sejarah Kota Bandung Diungkap Bandung Heritage dalam Milestone Kota Bandung

Yuk! Jajaki Fun Offroad di Sumedang

Musiconic 2026: Panggung Musik Indie Kota Bandung

Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Agustina Sus Andreani, mengembangkan kit pendeteksi DBD menggunakan nanopartikel emas. Dalam paparannya yang disampaikan dalam Webinar Jejak Kimia Molekuler #8, Jumat (22/5), ia mengatakan, metode ini diklaim jauh lebih praktis dibandingkan pemeriksaan konvensional seperti RT-PCR yang memerlukan alat rumit dan mahal serta tenaga ahli kompeten.

“Kami mengusulkan metode rapid test dengan nanopartikel emas sebagai biosensor karena sifatnya mudah disintesis, memiliki sifat optik unik, inert, dan biokompatibel,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa nanopartikel emas memiliki gelombang khas pada rentang 500–550 nanometer yang bisa berubah warna saat berinteraksi dengan virus,” Agustina seperti dikabarkan Humas BRIN.

BACA JUGA: Pak Firdaus Jemaah Haji yang Sempat Hilang Ditemukan Wafat

BACA JUGA: Dieng Caldera Race 2026 : Cara Mudah Dapatkan Slot Lewat bank bjb

Ia melanjutkan, yang membuat metode ini unggul adalah target deteksinya, yakni protein NS1 yang muncul sejak hari pertama hingga hari ketiga setelah seseorang terinfeksi virus dengue. NS1 ini cocok sekali untuk rapid test karena bisa mendeteksi sejak awal terkena virus, berbeda dengan metode IGm dan IgG yang baru bisa dilakukan 3-5 hari setelah infeksi.

Dengan deteksi dini, pasien bisa segera mendapatkan penanganan medis sehingga risiko kematian akibat DBD dapat ditekan secara signifikan. Peneliti BRIN pun membuat kit sensor dalam berbagai bentuk, mulai dari kit gel, kit kertas, kit film, hingga kit kain agar mudah digunakan di mana saja.

“Dari beberapa kit yang dikembangkan, sensor gel mencatatkan kinerja terbaik, bahkan lebih baik daripada sensor kertas. Sementara itu, sensor cair menjadi yang tercepat dalam hal waktu deteksi. Sensor gel itu saya buat seperti mencetak agar-agar menggunakan agarose, di mana nanopartikelnya berperan sebagai pelarut yang sudah dimodifikasi,” Agustina mengungkapkan.

Perubahan warna yang terjadi kemudian ditangkap menggunakan kamera smartphone dan diolah untuk mengetahui konsentrasi virus. Semakin tinggi konsentrasi NS1, berarti virus baru masuk ke tubuh, sebaliknya jika rendah artinya tubuh sudah mulai membentuk antibodi.

“Keunggulan lain dari kit ini adalah sifatnya yang point of care alias bisa dibawa ke mana-mana dan digunakan tanpa perlu tenaga ahli. Masyarakat cukup mengambil sampel darah, meneteskan ke kit, lalu mencocokkan perubahan warna dengan panduan yang ada di kemasan. Jika terjadi perubahan warna dari merah tua menjadi pink pudar, itu artinya positif DBD,” ujarnya.

Hasilnya kemudian dikonfirmasi melalui aplikasi di smartphone untuk mengetahui konsentrasinya secara pasti. Dengan cara ini, pasien yang hasilnya positif dapat segera datang ke dokter untuk cek darah lengkap dan mendapatkan pengobatan dini.

Agustina mengatakan, DBD masih kerap menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai wilayah Indonesia. Dengan adanya kit ini, pasien yang mengalami gejala seperti demam dan pegal-pegal, dapat melakukan rapid test sendiri di rumah. Jika hasilnya positif, ia dapat segera menghubungi dokter sehingga angka kematian maupun keparahan gejala akut akibat DBD di tahap kedua bisa ditekan. Inovasi dari BRIN ini bermanfaat agar masyarakat Indonesia lebih waspada dan cepat bertindak dalam menghadapi ancaman demam berdarah.

Tags: Kit deteksi dini DBD

Related Posts

Bandung Heritage menghadirkan pameran Milestone Kota Bandung di Microlibrary Asia Afrika pada 5–18 Oktober 2026 untuk memperkenalkan jejak sejarah dan tonggak penting perkembangan Kota Bandung kepada masyarakat.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Sejarah Kota Bandung Diungkap Bandung Heritage dalam Milestone Kota Bandung

Editor
13 Oktober 2026

BANDUNG - Bandung Heritage menghadirkan pameran Milestone Kota Bandung di Microlibrary Asia Afrika pada 5–18 Oktober 2026 untuk memperkenalkan jejak...

Kabupaten Sumedang kini memiliki pilihan wisata baru melalui aktivitas jeep fun offroad yang menawarkan pengalaman menjelajahi keindahan alam dan destinasi wisata Sumedang.(Foto: Diskominfo Kab. Sumedang)

Yuk! Jajaki Fun Offroad di Sumedang

Editor
12 Oktober 2026

Kabupaten Sumedang kini memiliki pilihan wisata baru melalui aktivitas jeep fun offroad yang menawarkan pengalaman menjelajahi keindahan alam dan destinasi...

Musiconic 2026 Bandung.(Foto: Humas Pemkot Bandung)

Musiconic 2026: Panggung Musik Indie Kota Bandung

Editor
11 Oktober 2026

BANDUNG - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menyelenggarakan kegiatan Musiconic 2026 Bandung IndieMusic Appreciation (BIMA) di De Majestic,...

Depresi, sakit jiwa,gangguan jiwa

9 Dari 10 Orang Depresi Belum Terjangkau Layanan Kesehatan

Editor
10 Oktober 2026

Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi...

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif / Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar bersama Raphael Donny membahas dan menegaskan seni video mapping sebagai salah satu konten digital yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru ekonomi kreatif nasional. Jakarta, Rabu (7/10/2026).(Foto: Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.)

Wamen Ekraf Dorong Karya Video Mapping di WCCE 2026

Editor
9 Oktober 2026

JAKARTA - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif / Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menegaskan seni video mapping sebagai...

Macklemore menyanyikan "Can't Hold Us" secara ‘LIVE’ (Sumber: Facebook/Macklemore)

Rilis Tahun 2011, Lagu Macklemore “Can’t Hold Us” Melejit di Tangga Lagu Global

Editor
9 Oktober 2026

BANDUNG - Lagu populer Can't Hold Us karya Macklemore yang dirilis lebih dari satu dekade lalu kini kembali mengalami lonjakan...

Category

  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Opini
  • Pilihan
  • Sport
  • Tutur
  • UMKM
  • Uncategorized
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media

© 2022 SATUJABAR.COM

No Result
View All Result
  • Berita
  • Tutur
  • UMKM
  • Gaya Hidup
  • Sport
  • Video

© 2022 SATUJABAR.COM

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.