SATUJABAR, JAKARTA – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menerima kunjungan Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon, Luqman Zulkaedin, di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Sultan Sepuh XV menyampaikan kondisi Keraton Kasepuhan Cirebon serta harapan revitalisasi. Sultan Sepuh XV menjelaskan bahwa Keraton Kasepuhan berusia sekitar 600 tahun dan didirikan oleh Sunan Gunung Jati.
Kesultanan Cirebon, yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Pajajaran, masih bertahan hingga sekarang dengan usia sekitar 600 tahun. Usia Kesultanan Cirebon lebih tua dibandingkan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, sehingga hal ini menjadi kebanggaan bahwa di Indonesia masih terdapat kerajaan Islam yang sangat tua.
Keraton Kasepuhan memiliki luas sekitar 25 hektar dan dikelilingi tembok bata yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan, seperti Siti Inggil, gapura candi bentar, serta bangunan lainnya. Sultan Sepuh menyampaikan bahwa kondisi fisik keraton saat ini memerlukan penanganan khusus.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kebudayaan menyampaikan komitmen pemerintah untuk mendukung revitalisasi Keraton Kasepuhan. Keraton merupakan ujung tombak peradaban budaya. Menbud juga menegaskan bahwa revitalisasi memerlukan kesiapan internal keraton dan menekankan pentingnya percepatan revitalisasi dengan memanfaatkan dokumen perencanaan yang sudah ada.
Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa revitalisasi keraton merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya nasional. Tujuan revitalisasi sejalan dengan arahan Presiden untuk menjaga kelestarian keraton di Indonesia.
Sultan Sepuh XV, Luqman Zulkaedin, berharap agar keraton dapat terus diperhatikan oleh pemerintah. Sultan juga menyampaikan bahwa keraton tidak lagi memiliki kekuasaan politik seperti dahulu sehingga sangat membutuhkan perhatian pemerintah agar dapat terus lestari. Ia berharap revitalisasi keraton dapat meningkatkan kunjungan wisatawan serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Kami berharap dengan adanya perbaikan dan revitalisasi beberapa bangunan, kunjungan wisatawan ke keraton Cirebon dapat meningkat.”
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan pada kesempatan ini, yakni Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Hubungan Antar Lembaga, Ismunandar; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis; Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi; serta Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana.
Pada akhir pertemuan, Menteri Kebudayaan menyampaikan harapannya agar revitalisasi Keraton Kasepuhan dapat memperkuat peran keraton sebagai pusat budaya. Upaya pelestarian ini tidak hanya bertujuan menjaga bangunan fisik semata, tetapi juga merawat nilai-nilai sejarah, tradisi, dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Melalui penataan yang terencana dan kolaborasi berbagai pihak, Keraton Kasepuhan diharapkan mampu menjadi ruang edukasi, destinasi wisata budaya, sekaligus simbol identitas masyarakat Cirebon yang tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.








