BANDUNG – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) melalui pengembangan sentra IKM di berbagai daerah. Pengembangan ini difokuskan pada potensi bahan baku lokal dan komunitas pelaku IKM yang telah terbentuk di wilayah tertentu.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyatakan bahwa pihaknya mendorong pemerintah daerah untuk aktif memperkuat dan mempromosikan keunggulan sentra-sentra IKM, sehingga dapat memberikan kontribusi positif kepada perekonomian masyarakat di daerah.
Untuk mencapai tujuan ini, Kemenperin mendorong pemerintah daerah untuk memanfaatkan skema Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang IKM guna mengembangkan sentra IKM yang potensial di wilayah masing-masing. Skema DAK Fisik Bidang IKM ini menjadi salah satu metode pembiayaan untuk berbagai program yang bertujuan memperkuat kapasitas dan kemampuan IKM di sentra-sentra tersebut.
“Program ini mencakup pembangunan rumah produksi, Unit Pelayanan Teknis (UPT), rumah kemasan, pengadaan mesin dan peralatan, serta infrastruktur lainnya yang diusulkan pemerintah daerah guna menciptakan keunggulan daya saing sentra IKM,” tutur Reni melalui keterangan resmi.
Reni juga menekankan pentingnya kajian terhadap kebutuhan unit pendukung dalam sentra IKM, seperti rumah promosi dan infrastruktur penunjang untuk meningkatkan kualitas produk dan proses produksi, seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Instalasi Pengolahan Air Bersih (IPAB).
Salah satu contoh keberhasilan pengembangan sentra IKM melalui pemanfaatan DAK adalah Sentra Slag Aluminium di Jombang, Jawa Timur. Sentra yang berlokasi di Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito, ini dikelola oleh Koperasi Berkah Logam Kendalsari dan menaungi 25 IKM. Sentra ini mampu menyerap tenaga kerja hingga 200 orang yang bekerja di berbagai sektor, seperti produksi dan pemasaran.
“Sentra IKM Slag Aluminium ini telah berhasil mengubah usaha pengolahan slag aluminium yang sebelumnya merupakan usaha turun-temurun, menjadi usaha yang lebih terorganisir dengan pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan aturan,” ungkap Reni.
Sentra IKM Slag Aluminium ini telah beroperasi sejak 1970, namun mengalami tantangan terkait pengolahan abu (slag) aluminium yang termasuk dalam bahan berbahaya dan beracun (B3). Setelah revitalisasi dan pembangunan menggunakan DAK, industri ini kini lebih terkontrol, dengan banyaknya lapangan pekerjaan yang tercipta dan nilai tambah produk yang dihasilkan.
Pada tahun 2021, Pemkab Jombang membangun Sentra IKM Slag Aluminium di Sumobito, yang berhasil mengendalikan limbah industri dan meningkatkan lapangan kerja serta produksi. “Pembangunan sentra ini tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat,” tambah Reni.
Berdasarkan laporan dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jombang, revitalisasi sentra ini telah meningkatkan jumlah tenaga kerja dari belasan menjadi sekitar 200 orang. Selain itu, omset meningkat signifikan dari Rp 200-300 juta menjadi Rp 1,5-2 miliar, dengan jumlah produksi yang kini mencapai 400-700 ton per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan produksi sebelumnya yang hanya 50-70 ton per tahun.
Sekretaris Direktorat Jenderal IKMA Kemenperin, Yedi Sabaryadi, menambahkan, “Setelah pengembangan menggunakan skema DAK, Sentra IKM Slag Aluminium Jombang dapat melayani lebih banyak IKM melalui berbagai kegiatan, seperti pelatihan teknis, fasilitasi mesin dan alat produksi bersama, legalitas usaha, serta akses pasar dan digitalisasi.”
Di sentra ini, para IKM mengolah slag aluminium menjadi berbagai produk seperti paving block, bata ringan, dan bahan bangunan lainnya, yang hasilnya dibeli oleh produsen alat rumah tangga dan industri pengolahan aluminium.