BANDUNG – Digitalisasi naskah lontar merupakan langkah inovatif dalam melestarikan warisan budaya yang rentan mengalami kerusakan. Hal tersebut disampaikan Peneliti Pusat Riset Manuskrip Literatur dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), I Wayan Nitayadnya dalam paparan risetnya tentang digitalisasi lontar dan pariagem milik keluarga Jero Mangku I Wayan Lila Arsana di Gelgel, Bali dalam upaya penyelamatan naskah kuno.
Paparan tersebut dibahas dalam salah satu panel kegiatan The 2nd International Conference on Language and Literature Preservation (ICLLP) di Gedung Widya Graha BRIN Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (21/02).
Wayan menjelaskan proses risetnya yang terbagi menjadi tiga tahapan utama, yaitu pra-digitalisasi, digitalisasi, dan pasca-digitalisasi. Masing-masing memiliki peran penting dalam memastikan keberlanjutan informasi yang terkandung dalam naskah kuno.
Tahapan pra-digitalisasi melibatkan pendekatan kepada pemilik naskah. Di Bali, misalnya, terdapat ritual khusus yang harus dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap naskah sebelum proses digitalisasi dimulai. Setelah mendapat izin, naskah diinventarisasi, dicatat metadata-nya, dan dipilih berdasarkan kelayakan fisik.
Pada tahap digitalisasi, naskah difoto, diedit, dan dikonversi ke dalam format digital. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan memasukkan metadata, mengemasnya dalam bentuk multimedia, serta mempublikasikannya secara daring agar mudah diakses.
Pada tahap pasca digitalisasi, dilakukan alih media dari naskah ke dalam format digital terhadap berkas naskah tersebut. Setelah diolah lebih lanjut, dituturkannya, perangkat lunak tersebut diserahkan kepada pemilik naskah dan juga diserahkan kepada pemberi dana Program Pascasarjana Universitas Marwadewa.
Wayan mengisahkan, banyak naskah lontar dalam kondisi kurang baik, seperti lembaran yang tidak lengkap, tulisan yang memudar, serta terdapat jamur. Ini akibat penyimpanan yang kurang tepat. “Kesulitan utama dalam digitalisasi adalah membaca dan merekonstruksi teks yang telah pudar, meskipun berbagai teknik pemotretan telah diterapkan,” ungkapnya.
Diharapkannya, upaya digitalisasi naskah lontar membawa berbagai manfaat signifikan. Antara lain pelestarian naskah, aksesibilitas yang lebih mudah, dukungan bagi penelitian dan pendidikan, dan kemudahan berbagi informasi.
“Meski menghadapi tantangan, digitalisasi tetap menjadi solusi terbaik untuk memastikan bahwa ilmu dan sejarah dalam naskah lontar dapat terus dipelajari oleh generasi mendatang,” imbuhnya.
Cerita lain datang dari Giyatmi, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Veteran Bangun Nusantara yang memaparkan pembuatan konten untuk pelestarian bahasa Jawa dari akun instagram @rafidasarihusna, @babaddotid, dan @awingaljamal. Ia mengatakan bahwa bahasa Jawa, sebagai salah satu warisan budaya, menghadapi tantangan besar akibat globalisasi, kemajuan teknologi, dan pergeseran kebiasaan masyarakat.
“Saat ini, banyak orang Jawa lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan remaja,” ungkapnya. Faktor utama yang menyebabkan penurunan penggunaan bahasa Jawa adalah lingkungan keluarga dan pendidikan, di mana bahasa Jawa tidak lagi diajarkan secara aktif di rumah maupun sekolah.
Ia menjelaskan, media sosial seperti instagram dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mengenalkan kembali bahasa Jawa kepada generasi muda. Diungkapnya, berbagai bentuk konten yang digunakan meliputi daftar kosa kata. Contohnya nama tanaman, bunga, hewan, hari, dan bulan dalam bahasa Jawa. Ada juga variasi kata kerja dan ekspresi, misalnya berbagai cara mengatakan “makan”. Masih banyak hal lainnya seperti permainan bahasa yang mengajak pengguna untuk berinteraksi, juga onten edukatif mengenai budaya Jawa.
Pada kesempatan yang sama, Mashuri dari Program Doktoral FIB Universitas Indonesia mengungkap jejaring intelektual Sastra Suluk Pesisiran di Madura daaam kasus Suluk Syekh Majenun DS 0157 00002. Temuan ini bermula dari proyek digitalisasi manuskrip yang dilakukan oleh tim Jerry Green dan Tripsi pada 22 September 1963. Dalam proses ini, ditemukan 60 naskah yang tersimpan dalam kondisi buruk, sehingga hanya 36 yang layak untuk digitalisasi.
Mashuri menambahkan, salah satu naskah yang menarik perhatian adalah suluk berbahasa Jawa yang ditemukan di lingkungan pesantren Madura. Suluk Syekh Majenun menandai sebuah pergeseran orientasi teks-teks sufi (heterodoks ke ortodoks) di kalangan intelektual dan agamawan di Pantai Utara Jawa, terutama di pesantren dan komunitas tarekat.
“Penelitian ini menegaskan bahwa hubungan intelektual antara Madura dan pesisir Jawa memiliki jejak historis yang kuat. Penelitian ini juga membuka wawasan baru mengenai persebaran sastra suluk dan pentingnya pesantren sebagai penjaga tradisi keilmuan Nusantara,” ujar Mashuri.
Sementara itu, Jafar Fakhrurozi dari Universitas Teknokrat Indonesia dan juga Universitas Padjadjaran membahas tentang kontruksi identitas anak-anak Lampung melalui puisi lisan wawancan. Dikatakannya, puisi lisan masyarakat Lampung, yang diwariskan secara turun-temurun, memiliki peran penting dalam membangun serta mempertahankan identitas budaya mereka.
Salah satu elemen utama dalam puisi lisan Lampung adalah penggunaan bahasa khas yang mencerminkan nilai-nilai budaya setempat. Penggunaan bahasa Lampung tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas yang menghubungkan masyarakat dengan akar tradisinya.
“Secara keseluruhan, puisi lisan Lampung merupakan bagian integral dari konstruksi identitas budaya masyarakatnya. Melalui bahasa, nilai-nilai adat, serta sejarah yang terkandung di dalamnya, puisi lisan tidak hanya memperkuat kebanggaan terhadap budaya lokal. Juga menjadi alat penting dalam menjaga kesinambungan warisan budaya Lampung di tengah perubahan zaman,” jelasnya.