KAIRO – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, bertemu dengan CEO Grand Egyptian Museum Authority Prof. Dr. Ahmed Ghoneim untuk mempelajari pengalaman Grand Egyptian Museum (GEM) dalam membangun dan mengelola museum modern berskala internasional.
Pertemuan tersebut membahas berbagai aspek pengelolaan GEM, mulai dari konsep museum, pengelolaan koleksi dan pameran, operasional, pemeliharaan, keamanan, keberlanjutan pembiayaan, hingga pemanfaatan energi. Pengalaman tersebut menjadi relevan bagi Indonesia yang saat ini tengah mendorong transformasi dan modernisasi museum.
Menbud Fadli Zon mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan warisan budaya yang sangat besar dan membutuhkan pengelolaan museum yang mampu menjawab perkembangan zaman. Karena itu, pengalaman GEM menjadi salah satu pembelajaran penting dalam melihat bagaimana museum modern dapat dikembangkan dan dikelola secara profesional.
“Indonesia sedang mengembangkan museum-museum modern. Karena itu, kami ingin belajar dari Grand Egyptian Museum, terutama mengenai bagaimana museum dengan koleksi yang sangat besar dapat dikelola secara profesional, modern, menarik bagi masyarakat, sekaligus memiliki posisi di tingkat internasional,” ujar Menbud Fadli Zon dikutip laman Kemenbud.
Menurut Menbud Fadli Zon, pembelajaran dari GEM mencakup aspek tata kelola, pengelolaan dan konservasi koleksi, kurasi dan penyajian pameran, pengalaman pengunjung, pemanfaatan teknologi, pengelolaan fasilitas, hingga keberlanjutan operasional.
CEO Grand Egyptian Museum Authority Prof. Dr. Ahmed Ghoneim menjelaskan bahwa GEM dikembangkan dengan tiga fungsi utama, yaitu Egyptology and Research, Global Tourism and Heritage, serta Cultural Communication.
Dalam fungsi Egyptology and Research, GEM dikembangkan sebagai pusat penelitian dan pengembangan pengetahuan mengenai peradaban Mesir. Sementara Global Tourism and Heritage menempatkan museum sebagai bagian dari ekosistem pariwisata dan warisan budaya global. Adapun Cultural Communication menempatkan museum sebagai ruang komunikasi kebudayaan yang menghubungkan Mesir dengan masyarakat dari berbagai negara.
Konsep tersebut menjadi salah satu hal yang menarik bagi Indonesia dalam melihat arah pengembangan museum ke depan. Museum modern tidak hanya dituntut memiliki koleksi yang penting, tetapi juga harus mampu mengolah koleksi menjadi pengetahuan dan pengalaman yang dapat diakses serta dipahami masyarakat.
Salah satu pembahasan penting adalah skala pembangunan Grand Egyptian Museum. Dalam pertemuan disebutkan bahwa biaya pembangunan GEM mencapai sekitar US$1,2 miliar hingga sebelum museum dibuka. Besarnya investasi tersebut memberikan gambaran mengenai skala pembangunan sebuah museum yang dirancang sebagai institusi kebudayaan berskala internasional. Dalam pertemuan disebutkan, GEM dapat menghasilkan profit sekitar USD 15 juta per tahun.
Aspek efisiensi energi juga menjadi bagian dari pembelajaran. Penggunaan energi surya serta upaya meningkatkan efisiensi sistem pendingin udara dan pencahayaan menjadi penting dalam menjaga keberlanjutan operasional museum dengan fasilitas yang sangat besar.
Bagi Indonesia, pengalaman tersebut relevan karena pengembangan museum modern tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana memastikan museum dapat beroperasi secara berkelanjutan, efisien, aman, dan mampu memberikan pengalaman terbaik kepada pengunjung.
Dalam pengembangan koleksi dan pameran, pembahasan menekankan bahwa kekuatan museum tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah artefak yang dimiliki. Cara koleksi diteliti, dikonservasi, dikurasi, dan disajikan kepada publik menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik dan fungsi edukatif museum.
Selain pengelolaan museum, pembahasan turut menyentuh isu warisan budaya Mesir yang berada di luar negeri. Hal ini mencakup persoalan provenance atau asal-usul artefak, aspek legalitas, serta kemungkinan pengembalian artefak kepada negara asal. Disebut pula keberadaan sejumlah artefak Mesir di negara lain, termasuk Swiss.
Menurut Ahmed Ghoneim, proses pengembalian artefak merupakan persoalan yang berkaitan dengan pemerintah dan kementerian terkait. Pembahasan tersebut memberikan perspektif mengenai kompleksitas pengelolaan dan pelindungan warisan budaya yang berada di luar wilayah negara asal.
Bagi Menbud Fadli Zon, pengalaman GEM memberikan gambaran penting mengenai arah yang dapat ditempuh Indonesia dalam melakukan transformasi permuseuman.
“Kita bisa melihat bahwa museum modern membutuhkan lebih dari sekadar bangunan dan koleksi. Ada tata kelola, penelitian, konservasi, teknologi, sumber daya manusia, pembiayaan, efisiensi energi, dan yang paling penting adalah bagaimana museum memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat,” ujar Mebud Fadli Zon.
Menbud Fadli Zon menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan museum sebagai ruang yang mempertemukan warisan budaya, ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata, dan masyarakat.
Hadir dalam kunjungan museum, CEO Grand Egyptian Museum Authority, Prof. Dr. Ahmed Ghoneim beserta jajaran; dan Duta Besar RI untuk Republik Arab Mesir, Kuncoro Giri Waseso. Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, yaitu Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Rachmanda Primayuda; Direktur Promosi Kebudayaan, Wawan Yogaswara; Penasihat Menteri bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum, Putu Supadma Rudana; dan Kepala Sub Direktorat Hubungan Media, Andhini Widyasari.
Pertemuan dengan CEO Grand Egyptian Museum Authority menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperoleh perspektif dan pengalaman langsung dari salah satu proyek permuseuman berskala besar dalam mengelola warisan budaya sekaligus membangun museum yang modern dan berorientasi pada masyarakat.







